2/14/2014

Kode Etik Jurnalis Muslim

Kalangan akademisi dan praktisi yang berkecimpung di dunia pers, serta mahasiswa yang berkonsentrasi pada bidang kajian jurnalistik tentu tidak asing dengan kode etik jurnalistik. Meskipun sebagian besar mahasiswa tidak hafal, paling tidak mereka pernah mendengarnya (termasuk saya).

Untuk mengetahui kode etik jurnalistik sebenarnya tidak begitu sulit. Kita tidak perlu membuka kitab undang-undang yang tebal. Di halaman belakang buku-buku jurnalistik biasanya terdapat undang-undang tentang pers, Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI), atau kode etik jurnalistik versi PWI.

Untuk UU No. 40 Tahun 1999, anda bisa mengunduhnya melalui link berikut UU No. 40 Tahun 1999 (situs resmi KPI). Sedangkan untuk KEJ bisa diunduh melalui link berikut Kode Etik Jurnalistik, atau bisa lihat langsung di situs PWI.

Setidaknya, elemen-elemen kode etik tersebutlah yang menjadi pedoman etika jurnalistik di Indonesia. Namun, bagi seorang jurnalis muslim, ada kode etik tersendiri sesuai tuntunan ajaran Islam.

Kode Etik Jurnalis Muslim
Jurnalis Amerika Serikat James Foley - Dok. The Washington Post

Mengutip dari buku Jurnalistik Praktis karya Romli (2009), kode etik yang dimaksud antara lain:

1. Menginformasikan yang benar, dan tidak merekayasa fakta. Dalam Q.S. al-Hajj:30 disebutkan “...dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”.

2.  Bijaksana, penuh nasihat yang baik, serta argumentasi yang jelas dan baik. Memahami karakter dan pemahaman pembaca, sehingga informasi mudah dicerna. Firman Allah SWT, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan penuh kebijakan (hikmah), nasihat yang baik, serta bantahlah mereka dengan bantahan (argumentasi) yang lebih baik...” (Q.S. an-Nahl:125).

3. Meneliti kebenaran berita sebelum dipublikasikan. Ditegaskan dalam Q.S. al-Hujurat:6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membaw berita, carilah keterangan tentang kebenarannya (tabayun) supaya jangan kamu rugikan orang karena tidak tahu...”.

4. Hindari olok-olok, ejekan, penghinaan, atau caci-maki sehingga menumbuhkan permusuhan dan kebencian. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah ada di antara kamu yang mengejek orang lain. Mungkin yang diejek itu lebih baik dari mereka yang mengejek. Janganlah kamu saling mencaci dan janganlah saling memberi nama ejekan. Amatlah buruk nama yang fasik (dilontarkan kepada orang) sudah beriman...” (Q.S. al-Hujurat:11).

5. Hindari prasangka buruk (suuzhan). Dalam istilah hukum, pegang teguh asas praduga tak bersalah. Disebutkan dalam Q.S. Thaha:25-26, kaum mukmin dilarang terlalu banyak prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dilarang pula saling memata-matai (mencari-cari kesalahan orang lain) dan saling memfitnah atau bergunjing (membicarakan aib orang lain).

Sebenarnya antara kedua kode etik, baik yang berasal dari KEWI maupun dari al-Quran menuntun wartawan agar menjalankan profesinya secara bertanggungjawab. Keduanya sama-sama baik jika diaplikasikan secara tepat.

— Rujukan —

Romli, ASM. 2009. Jurnalistik Praktis, Untuk Pemula. Bandung: Remaja Rosdakarya.

1 comment:

  1. "Hi!..
    Greetings everyone, my name Angel of Jakarta. during my
    visiting this website, I found a lot of useful articles, which indeed I was looking earlier. Thanks admin, and everything."
    Ejurnalism

    ReplyDelete