10/14/2014

Jurnalisme Kuning, Bombastis dan Sensasional

Jurnalisme Kuning, Bombastis dan Sensasional

Pernahkah anda membaca judul berita yang bombastis macam "Mayat Dikarungi, Kepala Dipenggal, Tangan-Kaki Putus," "Suami Pengajian, Istri Berzina," "Pesawat Nyungsep, KA Terguling." Bagaimana pendapat anda mengenai judul-judul berita di atas? Bombastis dan lebay kan?

Di antara judul-judul di atas, peristiwa ditulis secara hiperbola atau dilebih-lebihkan. Sebuah kasus dibuat semenarik mungkin sehingga menimbulkan kesan. Entah itu kesan angker, seram, sadis, dan sebagainya. Pemilihan kata nyungsep, kepala dipenggal, mata dicongkel, kaki putus, terasa berlebihan. Bisa jadi peristiwa sebenarnya tidak seperti demikian.

Contoh judul berita di atas lazim dijumpai pada media yang sering dijuluki jurnalisme kuning. Ciri jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang terkesan bombastis dan sensasional. Tampilan judul sengaja dibuat menonjol, entah itu dengan dicetak tebal, atau diberi warna yang mencolok. Bahkan disertai dengan ilustrasi yang sadis. Tujuannya tak lain adalah untuk menarik minat khalayak.

Jurnalisme kuning dianggap sebagai jurnalisme pemburukan makna. Hal ini disebabkan karena orientasi pembuatannya lebih menekankan pada nilai sensasional ketimbang substansi isinya. Kebijakan tersebut tak lepas dari kepentingan bisnis yang mungkin menjadi latar belakang utama pendirian media.

Berita yang dibuat atas dasar asal masyarakat suka, dan disajikan tidak sesuai dengan fakta sesungguhnya tentu mendapat tentangan dari berbagai pihak. Namun, jurnalisme kuning seakan tak ada matinya.

Kemunculan Jurnalisme Kuning (Yellow Journalism)

Praktik jurnalisme kuning muncul pada tahun 1800-an. Kemunculannya ditandai dengan “pertempuran headline” antara dua koran besar di kota New York, Amerika Serikat. Koran yang terlibat antara lain New York World milik Joseph Pulitzer dan New York Journal milik William Randolf Hearst. Persaingan ketat itu terjadi selama tiga tahun, sejak tahun 1895 hingga tahun 1898. Kedua surat kabar tersebut dituduh telah menyebarkan berita sensasional untuk mendongkrak sirkulasi.

Sementara itu, istilah jurnalisme kuning sendiri diberikan oleh The New York Press pada awal tahun 1987. Alasan penjulukkan jurnalisme kuning oleh The New York Press terhadap koran milik Pulitzer dan Hearst memang belum jelas. The New York Press hanya mengucapkan “Kita menyebut mereka kuning karena mereka kuning (warnanya).”

Salah satu ciri jurnalisme kuning adalah sajian hari minggu yang penuh warna, dan siisi banyak komik. Bahkan berita yang disuguhkan bisa jadi hanya cerita rekaan. Koran milik Pulitzer dan Hearst tersebut pernah mengarang cerita tentang perang Amerika-Spanyol.

Jika menarik alur dari sedikit sejarah dan definisi jurnalisme kuning ke Indonesia, maka surat kabar Pos Kota (Jakarta), dan Memorandum (Surabaya) mungkin masuk dalam kategori jurnalisme kuning. Alasannya terletak pada reportase yang menampilkan banyak gambar, judul-judul yang bombastis, penuh dengan kriminal.

Jelasnya, jurnalisme kuning seperti itu konsumennya adalah kalangan menengah ke bawah yang tingkat pendidikannya tidak tinggi. Coba lihat, Pos Kota laku keras di kalangan (maaf) sopir angkot, penarik becak, dan tukang ojek. Sementara di kalangan berpendidikan tinggi koran tersebut tidak diminati.

0 komentar:

Post a Comment