10/31/2014

Kunjungan ke Bandung Ekspres

Waktu semester lima, saya bersama teman-teman Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung ceritanya melakoni study tour ke Harian Bandung Ekspres, yang berlokasi di jalan Soekarno-Hatta (sebelum perempatan Kiaracondong). Tak hanya diikuti mahasiswa, kami didampingi dosen favorit yang mengampu mata kuliah Reka Bentuk Surat Kabar, namanya pak Dono Darsono.

Setibanya di TKP, saya shalat Maghrib dulu di Masjid dekat Bandung Ekspres. Baru setelah itu langsung masuk ke gedung Bandung Ekspres. Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah gatau ruangan apa, letaknya ada di loteng.

Di sana ada tétéh geulis yang lagi memilah-milah berita dan foto, ada juga akang gondrong yang lagi bikin ilustrasi jadwal World Cup pakai Photoshop. Terus ada juga tétéh yang lagi nge-layout halaman menggunakan Adobe Page Maker.

Terus ada juga si akang yang ga ada kerjaan penting, gawé na ngan motoan barudak wé. Tanpa ditanya dia mengaku sebagai alumni UIN Bandung (bukan alumni jurnalistik sih). Sepertinya dia bangga menjadi lulusan UIN Bandung.

Setelah cukup lama di dalam ruangan tadi, kami memutuskan untuk keluar gedung, sekadar menghirup udara segar sambil menunggu jadwal pencetakan yang akan dilakukan tengah malam. Karena ternyata di luar hujan deras, kami hanya bisa selonjoran di teras gedung Bandung Ekspres.

Teman-teman cewek sudah pada pulang sebagian, sedangkan teman cowok (boyfriend?) masih full team. Ada yang tetap selonjoran di teras gedung, ada pula yang jajan ke mini market yang masih satu komplek dengan Bandung Ekspres. Saya termasuk yang ikut ke mini market, meski cuma beli air kemasan sih.

Seolah sudah menjadi tradisi, di mana ada makanan/minuman maka disitu akan ada yang minta. Seperti itulah nasib air kemasan yang baru saya beli.

Baru minum beberapa tenggak, eh ada yang minta. Saya kasihlah air itu, meski dengan sedikit (sedikit banget) berat hati. Bukannya pelit, ini karena orang yang minta minum sedang dalam keadaan merokok. Kamu tau sendiri lah bau mulut orang yang lagi ngerokok... hehe

Meskipun dia hanya minta sedikit, saya putuskan untuk tidak meminum sisanya karena ujung botolnya jadi bau rokok.

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Gulungan kertas yang disinyalir berbobot 1 ton - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Singkat cerita tengah malam pun tiba. Kami kembali masuk gedung, tepatnya di ruang percetakkan. Di sana ada mesin cetak (ya iyalah), ada gulungan kertas yang beratnya mencapai 1 ton, dan ada juga gambar-gambar awéwé séksi yang nempel di atas meja tempat nadahin koran yang keluar dari mesin. Entah apa fungsi foto-foto syur itu. Mungkinkah berfungsi sebagai hiburan? Mengingat di ruang pencetakkan tidak ada hiburan macam tv atau radio.

Lupakan soal foto syur. Saatnya menyimak penjelasan si akang tukang cetaknya mengenai proses pencetakkan koran yang semula berbentuk soft file menjadi lembaran-lembaran yang siap edar. Tapi penjelasannya gak jelas euy. Untung ada dokumentasi prosesnya (meski tidak lengkap), semoga kita dapat mengerti dengan hanya melihat gambar.


Kunjungan ke Bandung Ekspres
Setelah melalui proses film separasi, dilanjutkan dengan proses montage - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Tahapan Repro Plate - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Tahapan Repro Plate - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Mengatur mesin cetak - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Mahasiswa antusias menyimak proses pencetakkan koran - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Proses pencetakkan koran - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Memeriksa hasil cetakkan - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Koran secara otomatis terlipat rapih ketika keluar dari mesin cetak - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Kunjungan ke Bandung Ekspres
Hasil akhir cetakkan siap edar - Dok. Jurnalistik UIN Bandung

Setelah proses cetak, selanjutnya koran dirapihkan untuk kemudian diedarkan besok pagi. Selesainya proses cetak menandai pula selesainya study tour kami di Harian Bandung Ekspres. Semoga kunjungan ini dapat memberi pencerahan mengenai pencetakkan koran, khususnya bagi kami peserta syudy tour, umumnya bagi semua pihak yang membaca postingan ini. Wassalam.

NOTE: Proses percetakkan sengaja diskip dan banyak dokumentasi foto yang tidak dimuat dalam postingan ini, semua itu karena proses percetakan lumayan panjang, sehingga tidak memungkinkan dimuat dalam satu tulisan.

0 komentar:

Post a Comment