10/04/2014

Pengertian dan Karakteristik Jurnalisme Televisi

Pengertian dan Karakteristik Jurnalisme Televisi


Televisi merupakan salah satu media massa yang hingga kini masih digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Kekuatan media televisi terletak pada sifatnya yang audio-visual (gambar dan suara). Semakin variatifnya program televisi yang disuguhkan kepada khalayak telah memunculkan persaingan antar media televisi. Dari sekian banyaknya program televisi, program berita tetap menjadi andalan.

Idiom “Tak ada siaran TV tanpa berita” mungkin dapat menggambarkan betapa program berita sangat digandrungi oleh khalayak. Berita di televisi tersebut merupakan buah karya jurnalisme televisi.

Secara sederhana jurnalistik televisi dapat diartikan sebagai proses pencarian, pengumpulan, penyuntingan, dan penyebarluasan berita melalui media televisi. Sebagaimana bentuk jurnalistik lainnya, jurnalistik televisi pun memiliki beberapa kriteria peristiwa yang layak menjadi sebuah berita untuk disebarluaskan kepada khalayak. Di antara kriteria tersebut adalah nilai dan kualitas berita sebagai berikut:

  • Timeless, artinya kesegaran waktu. Maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita merupakan kejadian yang baru saja terjadi atau aktual.
  • Impact, maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita adalah kejadian yang dapat memberikan dampak terhadap kehidupan orang banyak.
  • Prominence, artinya peristiwa yang diangkat mengandung nilai keagungan bagi seseorang maupun lembaga.
  • Proximity, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita memiliki kedekatan dengan khalayak, baik secara geografis maupun emosional.
  • Conflict, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita mengandung pertentangan antar perorangan, masyarakat, atau pun lembaga.
  • The Unusual, maksudnya peristiwa yang diangkat menjadi berita merupakan kejadian yang tidak biasa terjadi, dan merupakan pengecualian dari pengalaman sehari-hari.
  • The Currency, artinya peristiwa yang diangkat menjadi berita berasal dari hal yang sedang hangat diperbincangkan oleh khalayak.

Mengenai perbedaan antara karya jurnalistik cetak dan elektronik khususnya jurnalistik televisi, terdapat unsur-unsur dominan yang menjadi ciri khas jurnalistik televisi, yakni anchor, narasumber, dan bahasa. Berikut ini unsur dominan sekaligus karakteristik jurnalistik televisi:

Penampilan Anchor (Penyaji Berita)

Seorang anchor (penyaji berita) dan reporter di layar kaca dapat mempengaruhi persepsi dan penerimaan pemirsa televisi. Anchor yang tampak memiliki integritas dan kecerdasan mampu menghipnotis pemirsa untuk menyaksikan tayangan berita. Penampilan anchor yang santai, bersahabat dan komunikatif mampu mengajak pemirsa untuk lebih antusias mengikuti tayangan berita.

Narasumber

Jika mendengarkan narasumber langsung menuturkan kesaksiannya tentang suatu kejadian, khalayak mendapatkan kepuasan tersendiri. Itulah yang menjadi kelebihan televisi. Menurut J.B. Wahyudi, dalam menyusun berita elektronik, reporter dituntut memiliki keterampilan dalam mengombinasikan fakta, uraian pendapat, dan penyajian pendapat yang relevan dari narasumbernya.

Bahasa

Bahasa adalah sistem ungkapan melalui suara yang dihasilkan oleh pita suara manusia yang bermakna, dengan satuan-satuan utamanya berupa kata-kata dan kalimat, yang masing-masing memiliki kaidah-kaidah pembentuknya.

Ferdinand de Saussure, seorang tokoh linguistik struktural menyimpulkan bahwa kelanggengan sebuah sistem bahasa justru terjadi karena setiap orang bebas di hadapan bahasa. Sebagai sebuah sistem, bahasa memang cenderung langgeng karena kebebasan masyarakat di hadapan bahasa.

Bahasa televisi dirancang secara teknis untuk memadukan gambar, kata-kata, dan suara sekaligus pada saat bersamaan. Oleh karena itu, lahirlah beberapa kaidah bahasa televisi, diantaranya; menggunakan gaya bahasa ringan dan sederhana, menggunakan bahasa tutur (sehari-hari), penggunaan kata sesuai konteks berita, menghindari ungkapan bias, hiperbol, dan bombastis, serta menghindari istilah teknis atau asing.

Rujukan: Baksin, Askurifai. 2013. Jurnalistik Televisi, Teori dan Praktik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

0 komentar:

Post a Comment