10/22/2015

Kerja, Kerja, Kerja

Paling sebel kalau jam segini belum ngantuk. Mungkin gara-gara minum kopi, ditambah tadi siang ketiduran sampai pules banget (itu namanya tidur siang). Dari pada pikiran ngawang kemana-mana, mending nyalain komputer dan nulis sesuatu, walhasil jadilah postingan ini.

Membaca judulnya pasti kamu menganggap bahwa saya bakalan membahas kabinet kerja, 100 hari pemerintahan Jokowi, atau apalah yang menyangkut Jokowi. Jika kamu beranggapan demikian, berarti kamu salah kurang tepat.

Kerja, kerja, kerja! di sini bukanlah slogan kabinet kerja yang digagas Ir. H. Joko Widodo. Kerja, kerja, kerja! di sini adalah teriakan Emak kepada anak lelaki semata wayangnya yang masih nganggur.

Kerja, Kerja, Kerja
Hampir sebulan pasca wisuda, saya masih nganggur. Bukannya saya tidak melakukan usaha-usaha untuk keluar dari keadaan ini, tapi jaman sekarang cari kerja memang sulit, apalagi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau sesuai dengan hobi kita. Saya sudah mencoba melamar ke sana-sini tapi belum membuahkan hasil.

Pernah nyoba ikutan Jobfair baik yang diselenggarakan Depnaker maupun yang diselenggarakan kampus-kampus, tapi hasilnya nihil. Malah miris, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa di Indonesia banyak pengangguran 'berpendidikan'.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia tidak kekurangan tenaga kerja, melainkan kekurangan lahan kerja. Apakah ini menjadi bukti gagalnya pemerintah? Ga gitu juga sih. Dalam hati kecil ingin rasanya punya usaha sendiri dan membuka lowongan kerja bagi rekan-rekan yang nasibnya persis seperti saya saat ini.

Positifnya, saya jadi mengerti betapa sulitnya mencari uang. Jangankan uang, nyari syariat untuk mendapatkannya saja sulit. Tak salah jika banyak WNI yang jadi TKI, baik yang punya posisi maupun yang jadi PRT. Maka dari itu janganlah boros, jangan hedon-hedon mulu. Berhematlah. Tapi jangan pelit untuk sedekah.

Baiklah. Tak ada gunanya meratapi keadaan. Sama seperti tak ada gunanya meratapi kamu, yang mungkin sudah melupakan saya semenjak kamu dekat dengannya. Jika saya bukan orangnya, kenapa dulu kamu beri harapan itu? Huweeekkkk

Kini saatnya merevolusi nasib. Saya tidak mau jadi mantan mahasiswa yang gagal... BLEDUG!!!

0 komentar:

Posting Komentar