2/12/2016

Jami

Namanya Jami. Menurutku, itu nama yang aneh untuk seorang perempuan. Tapi hak orangtuanya mau memberi nama apa kepada anaknya. Lagi pula aku tak dapat menintervensi Jami untuk mengubah namanya menjadi Putri, Siti, atau nama feminim mainstream lainnya.

Semenjak aku bekerja di kantor baru di kawasan Kiaracondong, siang-siangku hampir selalu dihiasi Jami. Setiap siang, di tempat yang sama, di waktu yang sama, aku mendapatkan salam darinya.

"Selamat siang Mas..." dengan suara cempreng yang sama sekali tak mengurangi kadar manis senyum yang menggurat di bibirnya.

Ingin sekali aku menyanggahnya yang memanggilku Mas, jelas aku tak suka dipanggil demikian karena aku keturunan U.S.A alias Urang Sunda Asli.

Namun senyumnya yang manis menahanku untuk melakukan itu.

Siang ini, suasana tempat aku biasa bertemu dengan Jami sedikit berbeda. Hiasan dinding serba merah terpasang menyusuri garis tembok yang biasanya hanya berwarna putih polos, lampion-lampion merah menyala tergantung di langit-langit. Umbul-umbul bertuliskan huruf Cina terpajang di depan pintu masuk. Apakah itu semacam benda pembawa keberuntungan? Macam boneka kucing yang melambai-lambaikan tangan (entah kaki) di atas etalase toko material di sembrang tempat ini. Entahlah, mungkin ini adalah penyambutan tahun baru Imlek yang tak lama lagi akan terlaku.

Itu artinya akan tiba hari libur nasional. Horeee. Namun, di lain sisi itu berarti pula akan tiba satu hari di mana aku takkan bertemu Jami.

Arlojiku menunjukkan pukul 13.30, sudah setengah jam aku diam di tempat ini, namun belum ada tanda-tanda akan hadir sosok Jami.

 "Selamat siang Mas..."

Kalimat yang sangat familiar tetiba mengayun ke telingaku. Tapi tunggu. Meskipun redaksi kalimatnya sama persis, sensasinya amat berbeda. Ini bukan suara Jami. Kemana Jami-ku? Dan siapa perempuan ini? Lancang sekali ia berdiri di tempat biasa aku melihat Jami?

Dan tuntas sudah siang ini aku tak bertemu Jami, tak mendapatkan salam Jami, tak melihat senyum Jami. Itu artinya akan ada dua hari aku tak bertemu dengan Jami. Tak apalah, mungkin besok bisa bertemu.

***

Siang ini adalah kali ke-22 aku datang ke tempat ini, tempat biasa aku bertemu Jami. Mungkin ini akan menjadi pertemuan ke-21 kali diriku dengan Jami. Apakah aku akan mendapatkan salam ke-21 juga? Apakah aku dapat melihat senyuman ke-21 juga?

"Selamat siang Mas..." dengan senyum menggurat di bibirnya.

YES... Siang ini aku mendapatkan salam dan senyum ke-21 dari Jami. Haruskah ada pesta untuk merayakannya? Ah tak perlu. Ini sudah lebih dari pesta. Dan asal kalian tau, kini aku mulai terbiasa dipanggil 'Mas' oleh Jami, aku pun tak berhasrat lagi menyanggahnya. Karena siapalah aku? Siapalah Jami? Kami bukan siapa-siapa.

Aku tak mau menaruh harapan pada Jami, semata karena aku takut akan ada lagi kisah-kisah seperti sebelumnya. Menaruh banyak harapan hanya akan berakhir sakit hati dan kekecewaan.

Biarlah semua berjalan seperti ini. Lagi pula, semakin meningkat intensitas pertemuanku dengan Jami, semakin sering aku mendapatkan salam dari Jami, membuat aku semakin paham maksud dari salam-salamnya itu.

Salam dan senyumnya itu tak lebih dari sebuah prosedur kerja. Ya, Jami, seorang Teller Bank di mana aku menyetor uang kantor setiap siang.

4 comments: