4/10/2016

Fakta Unik Turnamen Pasca Pembekuan PSSI

Kondisi sepakbola Indonesia pasca pembekuan PSSI nyaris vakum, sebelum hadirnya berbagai turnamen untuk mengisi kekosongan kompetisi yang dioperatori oleh Mahaka Sport and Entertainment. Setidaknya gelaran turnamen dapat mengurangi dahaga masyarakat akan hiburan bernama sepakbola.

Terhitung ada empat turnamen berskala nasional yang dihelat pasca pembekuan PSSI, antara lain Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman, Piala Gubernur Kalimantan Timur, dan yang terakhir Piala Bhayangkara. Keempat turnamen tersebut diikuti beberapa klub ternama negeri ini dengan menyuguhkan hadiah yang cukup 'wah'. Sehingga meskipun bertajuk turnamen, gelarannya bisa dibilang seru, heboh, dan kompetitif.

Juara Piala Presiden 2016 - Dok. FourFourTwo
Hingga empat turnamen tersebut berakhir dan memunculkan juara-juaranya, tercatat beberapa fakta unik yang saya rasa menarik untuk dibahas. Berikut empat fakta unik dari empat turnamen pasca pembekuan PSSI:

1. Tak Ada Double Winner

Dari keempat turnamen yang telah dihelat tidak ada klub yang juara dua kali (double winner). Turnamen pertama bertajuk Piala Presiden dijuarai oleh Persib Bandung setelah menundukkan Sriwijaya FC dengan skor 2-0, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).

Turnamen kedua bernama Piala Jenderal Sudirman dimenangi oleh kesebelasan Mitra Kukar setelah di laga final mengalahkan Semen Padang. Sedangkan juara turnamen sebelumnya (Persib Bandung) terhenti di fase grup.

Turnamen ketiga, Piala Gubernur Kalimantan Timur, yang tak kalah seru dari dua turnamen sebelumnya berhasil dijuarai oleh 'tuan rumah' Pusamania Borneo FC (PBFC) setelah memecundangi tim debutan Madura United FC. Sedangkan juara turnamen sebelumnya (Mitra Kukar) menjadi juru kunci grup.

Turnamen keempat bernama Piala Bhayangkara dimenangi oleh Arema Cronus, setelah menundukkan 10 pemain Persib Bandung di Stadion GBK. Kemenangan tersebut sekaligus mematahkan kutukan yang menyebutkan bahwa Arema Cronus adalah tim spesialis semifinal. Tercatat tim berjuluk Singo Edan ini berhasil menembus semifinal di tiga turnamen sebelumnya tanpa pernah menjadi juara. Sedangkan nasib juara turnamen sebelumnya (Mitra Kukar dan PBFC) berakhir di fase grup.

Dengan kemenangan Arema pula fakta unik ini tercipta. Peluang yang dimiliki Persib Bandung untuk meraih double winner pun kandas. Hasilnya tidak ada tim yang berhasil mengawinkan gelar selama gelaran 4 turnamen pasca pembekuan PSSI.

2. Water Break

Water break sejatinya bukan hal baru dalam dunia sepakbola modern. Water break adalah waktu khusus di pertengahan babak pertama dan pertengahan babak kedua yang bertujuan memberi kesempatan pada pemain dari kedua kesebelasan untuk minum dan rehat sejenak karena alasan tertentu (cuaca panas misalnya). Namun pada prakteknya water break sering dimanfaatkan para pelatih untuk merundingkan strategi.

Namun perlu diingat, menerapkan water break pada pertandingan sepakbola memiliki persyaratan tersendiri. Seperti dilansir laman Pandit Football, menurut standar FIFA, diberlakukannya water break pada setiap pertandingan bukan hanya memikirkan suhu udara, tetapi juga apa yang mereka sebut dengan “Wet Bulb Globe Temperature” (WBGT), dan water break atau cooling break sangat dianjurkan untuk pertandingan yang memiliki WBGT di atas 32 derajat Celcius.

Tapi seperti yang kita tahu, Indonesia (atau lebih tepatnya PSSI) sedang terkena sanksi dari FIFA, sehingga tidak ada lagi kompetisi domestik yang diakui oleh badan sepakbola tertinggi dunia tersebut. Karena bukan di bawah kuasa FIFA, maka dari segi peraturan pun Mahaka bebas saja membuat peraturan sendiri. Salah satu dari peraturan tersebut adalah adanya water break setiap menit ke-30 dan 75.

Jika mengacu pada peraturan FIFA, regulasi ini sebenarnya tidak diperlukan di Piala Presiden atau pun Piala Jenderal Sudirman. Hal ini dikarenakan Bali memiliki rata-rata suhu 29,8°C, Bandung (Soreang) 23,5°C, Makassar 26,2°C, Malang 24,5°C, dan Sidoarjo 27°C, semuanya di bawah 32 derajat Celcius.

Kelima kota tersebut adalah kota yang menjadi tuan rumah babak fase grup Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman. Begitu pula dengan dua turnamen setelahnya yang dihelat di Kalimantan Timur, Bali, dan Bandung.

Jadi, apa motivasi utama diadakannya water break? Jawabannya bisa jadi dari segi komersial, di mana saat water break itulah kita, sebagai penonton layar kaca, disuguhkan dengan iklan demi iklan dari produk yang menjadi sponsor kejuaraan tersebut. Ini memang terlihat berlebihan, namun tentu saja kita tidak bisa menyalahkannya. 

Iklan semacam ini adalah salah satu bentuk dari promosi untuk meningkatkan brand awareness para konsumen, dalam hal ini adalah para penonton pertandingan. Iklan demi iklan itulah yang menjadi konsekuensi dari sponsor.

Seharusnya kita banyak berterima kasih karena sudah diberi hiburan pertandingan sepakbola oleh para sponsor tersebut. Jadi, mulai sekarang kurangilah menyumpah serapahi iklan pada pertandingan sepakbola yang kita tonton di televisi, karena tanpa mereka, kita mungkin tidak bisa menikmati tontonan sepakbola gratisan.

3. Tim (Maaf) Karbitan

Di kampung saya, karbit lazimnya digunakan untuk mempercepat kematangan pisang yang dipetik sebelum masak dari pohonnya. Istilah ini tak asing juga bagi insan sepakbola nasional. Istilah ini begitu tenar pada era dualisme sepakbola nasional beberapa tahun yang lalu.

Dalam kasus ini masyarakat menganalogikan pisang dengan klub yang tiba-tiba mengorbit di kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Kondisi tersebut tentu mengundang cibiran dari sebagian besar masyarakat, apalagi nama klub (karbitan) itu seperti mengada-ada. Saya tak akan menyebutkan deretan nama klub tersebut.

Kini, sepakbola nasional kembali diwarnai hadirnya dua klub baru yang langsung berlaga dengan klub-klub papan atas negeri ini. Apakah kembali mengundang cibiran? Saya rasa tidak. Di tengah ketidakjelasan kompetisi, juga karena kompetisi yang diikuti hanya berupa turnamen, membuat masyarakat tak begitu memerdulikannya.

Apalagi kalau tau bahwa klub tersebut adalah delegasi dari angkatan bersenjata dan alat negara Republik Indonesia; TNI dan Polri, dengan menggunakan nama institusi mereka sebagai nama klub; PS TNI dan PS Polri.

PS TNI hadir pertama kali pada turnamen Piala Jenderal Sudirman. Dengan menunjuk Suharto AD sebagai juru latih, tim ini diperkuat eks pemain Timnas U-19 yang fenomenal itu, PSMS Medan yang menjuarai Piala Kemerdekaan (Turnamen antar klub eks Divisi Utama), dan sederet pemain tenar lainnya, tanpa pemain asing.

Kehadiran pemain tenar, sebut saja Ilham Udin, Legimin Raharjo, Manahati Lestusen, dan Ravi Murdianto, membuat tim ini cukup disegani oleh peserta turnamen lainnya. Meskipun klub yang belum lama terbentuk ini gagal juara, aksi mereka cukup menyulitkan klub lain yang lebih mapan.

Untuk berprestasi memang butuh waktu, dan ikut serta dalam kompetisi jangka panjang adalah sebuah keharusan. Rumor pun mencuat bahwa PS TNI akan turut serta dalam Indonesia Soccer Championship (ISC A) dengan cara mengakuisisi lisensi Persiram Raja Ampat.  

Akankah PS TNI mengikuti jejak angkatan bersenjata negeri tetangga? Macam Warriors FC (dulu bernama Singapore Armed Force FC), Angkatan Tentera Malaysia (ATM) FA, dan Royal Thai Army (Thailand). Kita tunggu kisah selanjutnya, yang pasti untuk menjadi klub 'profesional' tentu akan ada ini-itu yang berubah dari pengelolaan sebuah klub.

Berbeda dengan PS TNI, PS Polri hadir pertama kali di Piala Bhayangkara, dimana dalam turnamen tersebut PS Polri secara tidak langsung bertindak sebagai tuan rumah. 

Dari segi pemilihan pemain, PS Polri tak jauh berbeda dengan PS TNI, yakni dengan mengundang eks pemain Timnas U-19 dan pemain top nasional. Namun dari sisi nyali, PS Polri tak lebih berani dari PS TNI, pasalnya PS Polri turut melibatkan pemain asing seperti Robertino Pugliara, Fabiano Beltrame, dan pemain naturalisasi Bio Pauline.

Seolah tak mau kalah dengan PS TNI, PS Polri diisukan akan melakukan merger dengan klub profesional tanah air. Meskipun masih sebatas wacana, dua klub yang menjadi opsi merger sudah disebut-sebut, antara lain Perseru Serui dan Surabaya United. Jika wacana tersebut menjadi kenyataan, dua klub ini (PS TNI dan PS Polri) akan menjadi tim yang seakan terlahir prematur, terbentuk belum lama tapi langsung berlaga di kasta tertinggi, tanpa melalui piramida kompetisi.

4. Transfer Pemain

Kompetisi yang singkat dan tidak adanya kontrak jangka panjang membuat perpindahan pemain dari satu klub ke klub lain dalam tempo yang berdekatan seperti terlihat mudah dan sulit terhindarkan. Pemain dari sebuah klub yang berlaga di turnamen A, kemungkinan akan berganti kostum di turnamen B. Bahkan ada pemain yang bermain di 4 klub berbeda dalam 4 turnamen yang dihelat pasca pembekuan PSSI. Dia adalah Jeki Arisandi, dan hebatnya setiap klub yang ia bela selalu masuk final/semifinal.

Pada Piala Presiden ia membawa Sriwijaya FC ke laga final. Di Piala Jenderal Sudirman ia mengawal Semen Padang menembus laga final. Pada Piala Gubernur Kalimantan Timur ia memperkuat Madura United FC hingga laga final. Dan di Piala Bhayangkara ia bersama Sriwijaya FC maju hingga semifinal.

Sayangnya, meski bermain tiga kali di laga final, tak ada satu pun klub yang dibelanya menjadi juara. Tiga klub yang diperkuatnya di tiga turnamen pertama hanya menjadi Runner-Up, sedangkan di turnamen terakhir ia hanya membawa Sriwijaya FC menjadi juara tiga.

Fakta unik yang dipaparkan di atas memang menarik untuk dibahas, namun semenarik apa pun turnamen yang dihelat ketika Indonesia masih dalam belenggu sanksi, takkan lebih menarik dari pembahasan kompetisi resmi. Kompetisi jangka panjang yang jelas baik peserta, induk, maupun regulasi. Karena kompetisi dan pembinaan pemain yang baik akan berujung pada Tim Nasional yang disegani. Semakin membaiklah persepakbolaan negeri ini.

0 komentar:

Post a Comment