4/09/2016

Lampu Merah

Siapa namamu?
Dimana kau tinggal?
Sungguh aku ingin mengenal.

Neng!

Ah... Percuma kukatakan
Kau pasti tak mendengar yang kutanyakan.

Jika pun kau berpura
Lalu coba menjawab hasil menerka,
Apa suaramu akan terdengar olehku?

Ah... Sungguh tak meyakinkan.
Mungkin hanya gerak bibir yang terlihat, untuk selanjutnya kita tafsirkan.

Neng!

Lampu merah menjadi saksi,
Lincah aksi topeng monyet mengiringi,
Pandangan pertama yang mengusik hati.

Tunggu!

Cambah tumbuh terburu-buru
Tak seperti menyemai biji kacang di atas kapas, yang tumbuhnya seminggu.
Ah... Asmara memang tak kenal waktu...

Di saat aku harus fokus pada jalanan
Kau malah hadir, melancarkan godaan
Dalam diam kau mengaduk perasaan.

Ah... Asmara memang tak kenal kesempatan...

Kau disitu, duduk termangu bertopang dagu
Terhalang kaca penuh debu
Hey! Gadis dalam Angkot Cicadas-Cibiru.

Neng!

Lampu merah hendak kembali ke peraduan
Bunyi klakson mulai bersahutan
Sialan...
Itu pertanda untuk hatiku berpamitan.

Neng!

Semoga selamat sampai tujuan.

~ Aiderazak (7 April 2016)


1 comment: