5/01/2016

Antara Kau dan Aku ~ 1

Lantai sebelas sepi. Nyaris semua penghuninya keluar makan siang. Hanya ada dua-tiga orang saja yang masih berkutat di depan komputer masing-masing. Dan salah dua di antaranya adalah gadis dan pemuda yang tengah duduk jauh berseberangan. Terpisah oleh meja-meja dan partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di tengah-tengah ruangan.

Tetapi entah siapa yang menyusun berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap masih bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran sejauh itu tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi kalian masih bisa dengan mudah memahami gerak tubuh orang di seberang.

Seperti yang sedang terjadi saat ini. Gadis itu melirik berkali-kali ke depan. Ia sedang menunggu. Menunggu pemuda itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia. Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan "favorit" masing-masing. Tetapi nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri pekerjaannya.

Detik demi detik, waktu berjalan terasa amat lambat. Istirahat siang tinggal tiga puluh menit lagi. "Ayolah, lakukan saja," bujuk separuh jantungnya. "Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja!" separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.

Dan setelah sekian menit lagi berkutat dengan keraguannya, akhirnya gadis itu nekad memberanikan diri berjalan menghampiri, toh ia bisa berpura-pura menuju toilet yang memang harus melewati meja pemuda itu jika rencananya terpaksa berubah. Sedikit gugup, seperti hari-hari yang lalu, melangkahlah kakinya mendekat.

"Nggak makan siang, Zhar?" Gadis itu berusaha menegur senormal mungkin. Tersenyum selepas mungkin.

Pemuda itu mengangkat kepalanya. Balas tersenyum. Menggeleng.

"Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?"

"Malas. Nggak ada teman turun!" Gadis itu tersenyum mengangkat bahu, menanti harap-harap cemas reaksi pemuda itu. Si pemuda ternyata hanya balas mengangkat bahu, 

"Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!"

Begitulah.

Gadis itu sekian detik kecewa. Sia-sia sudah. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain beranjak lemah melangkah menuju pintu keluar. "Seharusnya, dia bilang, 'Ah, kebetulan sekali. Aku juga belum makan. Mau kutemani?' Dasar bodoh!" umpatnva dalam hati. Atau karena ia kurang jelas menyampaikan maksudnya? Seharusnya ia bilang saja langsung, "Kamu mau menemaniku?" seperti yang sering kali dilakukan Susi saat menggoda manajer lantai sepuluh.

Tetapi itu tidak mungkin dilakukannya, kan? Ia bukan tipe Susi yang agresif. "Seharusnya si bodoh itu cukup mengerti" umpatnya sekali lagi.

***

Berkali-kali ia melirik gadis di seberangnya. Menunggu tak sabaran. "Kapan lagi ia akan turun makan siang?" serunya dalam diam. Apakah ia harus melangkah mendekatinya, lantas mengajaknya makan siang bersama, seperti yang selalu diangan-angankannya? Tidak. la tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.

Kegelisahaan pemuda itu semakin memuncak, istirahat siang tinggal tiga puluh menit. "Ayolah, berdiri," mohonnya dalam-dalam. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.

Dan akhirnya, wanita itu berdiri juga dari tempat duduknya. "Ya Tuhan, semoga ia melewatiku. Please, God!" si pemuda bersorak penuh harap. Tentu saja gadis itu harus melewatinya karena pintu keluar terletak dekat mejanya.

Suara sepatu gadis itu terdengar memenuhi gendang telinganya. Si pemuda dengan segala upaya terus berpura-pura menatap layar komputer, mengisikan sembarang angka ke dalam kotak kosong. Tentu saja semua pekerjaannya sudah rampung setengah jam yang lalu. Sedari tadi ia sudah ingin turun makan siang. Tetapi seperti dua hari lalu, ia ingin sekali berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan "favorit" masing-masing.

Gadis itu semakin dekat, detak jantung si pemuda semakin kencang. Ia bersiap-siap hendak bangkit dari duduknya. Paling sial jika ia tidak berani mengikutinya, mungkin ia bisa berpura-pura menuju toilet, bukankah letaknya searah dengan pintu lift? Yang penting ia bisa sekadar tersenyum menyapanya.

"Nggak makan siang, Zhar?" Ternyata gadis itu justru menegurnya, sambil tersenyum.

Meluncurlah sepuluh kembang api besar di jantung si pemuda. Ini di luar renqinanya, apalagi dengan senyum itu. Ya Tuhan, gelagapan si pemuda bingung hendak menjawab apa.

"Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri, nggak makan?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Sekadar menggeleng patah-patah, dan tersenyum dengan muka kebas. "Semoga ia tidak melihat tampang grogiku," keluh pemuda itu dalam hati.

"Malas. Nggak ada teman turun!" gadis itu tersenyum sambil mengangkat bahu.

Separuh jantungnya sontak berteriak, come on man, sekaranglah waktunya, ajak ia makan siang bersama. Bukankah ia "mengundang"-mu? Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar tak tahu harus bilang apa. Senyuman dan kerlingan gadis itu telah mematikan otaknya berpikir. Dan di tengah kegaguan ia justru berkata, "Mungkin kamu bisa bareng, Sinta. Kayaknya dia juga belum makan!"

Ya ampun, apa yang telah kukatakan? Si pemuda menekuk lututnya. Perutnya tiba-tiba melilit menyesali kebodohannya. Dan gadis itu dengan amat anggun hilang dari pandangan.

***

0 komentar:

Post a Comment