5/01/2016

Antara Kau dan Aku ~ 2

Hari ini Jum'at. Besok dan lusa libur. Gadis itu sudah merencanakan untuk berlibur ke luar kota, tapi undangan pernikahan anak direktur membatalkan rencananya. Lagipula bukankah itu berarti semua orang akan hadir di sana, dan jika semua orang hadir itu berarti pemuda itu juga akan datang. Ia senyum-senyum sendiri. Otaknya terbungkus oleh harapan-harapan.

Setidak-tidaknya, di sana ia bisa mencari berbagai alasan untuk duduk di dekatnya. Berbincang tentang apa saja. Dan jika sedikit beruntung mungkin saja bisa pergi-pulang ke tempat pesta bersama-sama. Membayangkannya saja gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lagi.

Tetapi semenjak undangan itu dibagikan seminggu yang lalu, dalam sedikit kesempatan mereka bertemu— di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai pemuda itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu pemuda itu membereskan mejanya sebelum turun pulang)—pemuda itu sedikit pun tidak pemah menyinggung soal pesta pernikahan. Bagaimana hendak menyinggungnya, jika selama ini mereka sekadar saling ber-hai apa kabar saja. Berkali-kali gadis itu membujuk jantungnya agar berani bertanya, "Minggu depan, kamu datang gak ke tempat pemikahan Vania?" Tapi ia selalu gagal..

Jum'at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus melakukannya! Jika tidak, maka musnah sama sekali harapan itu. Dan setelah bergulat habis-habisan meneguhkan diri, gadis itu beranjak mendekati pemuda itu. Gemetar kakinya melangkah, "Ya Tuhan, tolonglah...." seru batinnya lirih.

"Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?"

Kentara sekali kata-katanya bergetar saking gugupnya. Gadis itu membujuk jantungnya segera tenang. Tersenyum amat kaku. Pemuda itu mengangkat kepalanya, balas tersenyum. Menghembuskan napasnya dalam-dalam.

"Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!"

"Kamu hari Minggu datang ke resepsi Vania, gak?"

Gadis itu berdiri sambil diam-diam menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Please, God.

"Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak ke sana?"

"Belum ada teman. Malas kalau sendirian!"

Ya Tuhan, orang bodoh sekali pun tahu apa maksud hatinya. Tetapi pemuda itu hanya menatapnya lamat-lamat kemudian sambil menggeleng, pelan berkata, "Si Sinta katanya harus menjenguk ibunya!"

Lumat sudah harapan gadis itu, dengan lemah ia berkata, "Ya, ibunya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian."

"Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali!" umpat gadis itu dalam hati. Jika sudah begini apalagi yang harus dilakukannya?

"Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?" Pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu. Tersenyum jantan mendekati Dahlia.

"Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!"

Gadis itu hendak mengangkat bahunya, keberatan. Tetapi, hatinya yang berkali-kali mengumpat, "Dasar bodoh, harusnya kau melakukannya seperti Andrei. Harusnya kau menyela dan berkata, 'ia tidak akan pergi bersamamu, ia akan pergi bersamaku'" kesal sekali. Tanpa disadarinya, ia justru menganggukkan kepala. Andrei tersenyum senang. Sambil memegang bahu gadis itu, ia berkata menggoda, "Oke, Sayang. Sampai ketemu hari Minggu. Jangan lupa, dandan yang cantik!"

***

Hari ini Jum'at. Besok dan lusa libur. Sudah seminggu ini pemuda itu menanti-nanti kesempatan untuk bertemu lebih lama dengan gadis itu, sekadar untuk bilang, "Hai, kamu mau pergi bareng aku ke pernikahan Vania, gak?" Ia butuh waktu kurang lebih lima menit untuk berbincang dan mengajaknya pergi bersama.

Dengan hanya bertemu di lift saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai gadis itu tiba), saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu gadis itu membereskan mejanya sebelum beranjak turun) itu sama sekali tidak cukup untuk membicarakan masalah ini. Apalagi mereka hanya saling ber-hai apa kabar, tersenyum kaku, lantas berdiam diri dalam dengungan suara lift yang bergerak.

Berkali-kali ia membujuk jantungnya untuk mendekati meja gadis itu. Bertanya langsung padanya, "Apakah kau mau pergi bersamaku?" Tapi berkali-kali pula ia gagal meneguhkan diri. Jum'at semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis, ia harus melakukannya. Jika tidak, ia akan menyesalinya seumur hidup. "Lakukan sekarang juga, Zhar," bisikan itu semakin kencang.

Dan pemuda itu di ujung keputus-asaan akhirnya nekad juga memutuskan. Tetapi saat ia siap berdiri dari duduknya, gadis itu justru terlihat berdiri dari mejanya. Melangkah menujunya. "Ya Tuhan, semoga ia melewatiku, please God." Desak batinnya kuat-kuat. "Jika ia melewatiku, aku berjanji akan menanyakan soal itu" janjinya untuk kesekian kali.

Suara sepatu gadis itu terdengar semakin keras di telinganya. Ia semakin dekat, dan debar jantungnya semakin kencang. Dengan meneguhkan hati pemuda itu bersiap untuk menyapa.

"Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?"

Gadis itu sambil tersenyum temyata lebih dahulu menyapanya. Pemuda itu kaku seketika. Kata-katanya hilang menyentuh udara. Berusaha tersenyum senormal mungkin. Menarik napas dalam-dalam.

"Iya nih. Kayaknya aku lembur malam ini!" Ya Tuhan, padahal pekerjaan untuk minggu depan pun sudah kurampungkan.

"Kamu hari minggu datang ke resepsi Vania, gak?"

Gadis itu tersenyum semakin manis. Pemuda itu duduk semakin kebas. Ayolah katakan! Ajak dia! Ayolah katakan! Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar ketakutan. Kau hanya akan mempermalukan diri sendiri, bodoh! Bagaimana kalau dia menolak?

"Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak ke sana?"

Ya Tuhan, apn yang telah kukatakan? Pemuda itu mengumpat berkali-kali. Seharusnya langsung saja mengajaknya pergi bersama. Senyuman gadis ini membuatnya sedikit pun tidak bisa berpikir sehat lagi.

"Belum ada teman. Malas kalau sendirian!"

Ayolah katakan! Ajak dia! Bukankah ia telah memberikan kode padamu. Sedikit lagi.... tak terlalu susah. Pemuda itu mencengkeram keras-keras kursinya. Apa sulitnya mengatakan itu?! bentak separuh jantungnya. Dan tanpa ia sadari, di tengah usahanya membujuk separuh jantungnya yang lain, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia teringat Sinta. Mungkin dengan menyela pembicaraan ini dengan kabar soal Sinta akan sedikit membantu. Maka tanpa menyadari akibatnya sedikit pun, pemuda itu justru berkata, "Si Sinta katanya hams menjenguk ibunya!"

Tidak. Ia sama sekali tidak bermaksud menolaknya. Tetapi gadis itu dengan tetap tersenyum berkata pelan, "Ya, katanya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian."

Ya Tuhan, kerusakan apa yang telah kuperbuat?

"Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman pergi ke pernikahan Vania?" Pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu. Tersenyum jantan mendekati Dahlia. "Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!"

"Tolonglah. Jangan. Jangan katakan setuju!" pemuda itu memohon dalam ha tiny a. "Jangan sampai kau pergi dengannya. la playboy kelas kakap, dan kau akan terperangkap." Tetapi gadis itu justru tersenyum menganggukkan kepalanya.

Andrei tersenyum senang. Sambil memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, "Oke, Sayang. Sampai ketemu hari Minggu. Jangan lupa dandan yang cantik!"

***

0 komentar:

Post a Comment