6/02/2016

Dalam Pikiranku

Dalam pikiranku, kau kuajak ke mana-mana, kebanyakan sih ke tempat sederhana. Seperti waktu itu, aku mengajakmu ke sebuah taman. Taman yang sejuk, dengan suasana yang membuatku kerasan.

Beralaskan rumput hijau, dihiasi bunga-bunga indah meski jarang. Kita duduk di sebuah bangku, tepat di bawah pohon rindang. Entah pohon apa, yang pasti waktu itu hanya ada kau dan aku, dibelai angin yang tetiba berembus kencang.

Hingga kulihat jilbabmu berkibar, dan kau menyipit-nyipitkan matamu yang lebar. Untung saja kala itu kau mengenakan baju hangat, hingga aku tak perlu repot-repot memelukmu erat... hehe

Aku mengajakmu ke taman itu bukan untuk mengobrol, menyatakan sesuatu, bukan itu. Meski kau tau perkara aku yang menyimpan perasaan, tapi kau pun tau sifatku, yang mana mungkin dengan lantang berani menyatakan.

Aku hanya ingin di dekatmu, menikmati sensasi deg-deg brrrrr... saat menatapmu. Entah kenapa kala itu aku ingin menatapmu lebih lama dari pertama kali kau dan aku bertemu. Dulu, di kantor Kecamatan Panjalu.

Ketika kau sibuk bergelut dengan angin, aku semakin dalam menatapmu. Hingga satu waktu kau menoleh ke arahku, dan kau menemukan aku sedang memandangimu.

Seolah jijik, kau cepat-cepat memalingkan muka, padahal rasa-rasanya aku memandang dengan sewajarnya. Tak sampai mataku terbelalak dengan mulut menganga.

Yaaa... Silakan saja berpaling muka, menghadap ke arah sana pun kau tetap menarik untuk dipandang.

Tapi ayolah... Jangan berpura, kau mau menatapku juga kan? Iya kan?

Tuh kan, kau menengok ke arahku, dan kau masih menemukanku dalam keadaan serupa. Kali ini kau tak lagi memalingkan muka, malah tersenyum malu-malu. Sedang aku tak kuasa menahan tawa bahagia.

Kau memukul-mukul bahu dan punggungku dengan kepalmu yang mungil itu,
"Ugh... Ugh..." aku menggeliat pura-pura kesakitan,

Aaaargh... Aku suka momen itu. Tapi setelah itu, cukup lama kita menyepi. Saat-saat seperti itulah yang aku benci. Kau terlihat jenuh, aku tak tau harus bagaimana.

Tentunya bukan lagi rahasia, perihal aku yang tak banyak berkata. Jika dalam situasi normal saja aku lebih banyak membisu, apalagi di dekatmu? Mati guguplah aku.

Seolah berusaha memecah sepi, mulutmu memainkan nada, entah nada lagu apa. Iramanya terdengar asing, mungkin kau ciptakan sendiri, bahkan mungkin dadakan.

Huh... Aku tau aku membosankan, tapi berhentilah melakukan itu. Bagiku itu lebih seperti isyarat bahwa kau menunggu aku berbuat sesuatu.

"Hey lihat! Matahari hampir terbenam. Apa yang kau pikirkan tentang matahari terbenam?" Aku coba membuka obrolan.
"Matahari terbenam? Ya tentu saja pertanda hari senja," jawaban retoris.

"Lalu?"
"Ia indah, menyemburkan jingga, menembus awan-awan, meski terkadang menyilaukan," jawaban puitis.

"Menurutmu, apa mungkin jingga senja berubah warna? Hijau misalnya."
"Hmmm... Paling warnanya saja yang menjadi pekat atau sebaliknya, memudar. Tapi jika semesta ini masih normal, di luar kehendak-Nya, sepertinya tak mungkin berubah warna, apalagi menjadi hijau," jawaban logis.

"Seperti itulah yang aku rasakan..."
"Rasakan? Merasakan perihal apa?"

"Ya... Perasaanku padamu..."
"Aku? Maksudnya?"

"Seperti jingga senja yang tak mungkin berubah warna..."
"Hah???" kau mengernyitkan dahi.

"Sudahlah... Ayo pulang! Hari sudah semakin gelap." Aku berdiri, berjalan meninggalkan.
"Hey... Tunggu!" Kau mengejarku, dan kita jalan beriringan.

Yaaa... Sayangnya semua itu terjadi dalam pikiranku saja.

0 komentar:

Post a Comment