9/12/2016

Antara Kuliah dan Sarjana

Kuliah adalah satu tahap panjang untuk meraih gelar sarjana, Diploma, dan sejenisnya. Untuk meraih gelar itu kita akan melalui satu prosesi yang bernama wisuda. Namun, wisuda tidak akan pernah terwujud jika kita tidak lulus sidang skripsi. Akan tetapi, kita tidak akan pernah melalui sidang skripsi tanpa mengerjakan skripsi. Dan kita tidak akan mengerjakan skripsi kalau kuliah kita amburadul. Pada akhirnya kita harus melalui ini lingkaran setan, jika tidak kuat, kecundanglah di tengah jalan.

Maka dari itu, bagi mahasiswa teladan, wisuda adalah satu penantian. Sedangkan bagi mahasiswa berkebutuhan, wisuda menjadi kata yang menyeramkan.

Awalnya saya kira wisuda itu mirip hari kelulusan di SMA, dengan sidang skripsi sebagai UN-nya. Ternyata kenyataan tidak berkata demikian ding. Jika mengambil sebuah analogi, kuliah itu mirip balapan MotoGP, awalnya ngabring, finishnya masing-masing.

Ya, jika mengamati fenomena di lapangan, analogi yang saya utarakan barusan lumayan shahih. Baru lumayan sih. Buktinya, masih ada teman seangkatan saya yang masih betah ngampus. Entah disengaja atau deritanya, saya tak urus.

Sebenarnya enak juga sih jadi mahasiswa, ketimbang ngampus malah banyak nganggurnya, nongkrong di kantin, atau ngerumpi di bawah pohon sambil bersila. Pun di KTP, status mahasiswa disejajarkan dengan pelajar. Yang namanya pelajar berbuat kesalahan tentu masih ada toleransi dan dianggap wajar. Mantep kan?

Tapi, mau sampai kapan betah sebagai mahasiswa? Di luar sudah menunggu dunia nyata, dimana aroma persaingan begitu kentara, perjudian idealisme menjadi hal biasa, dan kesalahan setitik rusak karir sebelanga.

Rasa-rasanya, tulisan ini mulai menjurus ke arah sotoy bin songong. Maka dari itu saya gantungkan tulisan ini, dengan diakhiri ucapan "Happy Graduation" bagi kawan-kawan yang diwisuda. Semoga ilmu yang kalian dapat menjadi berkah dunia akhirat.

Amin... :)

0 komentar:

Post a Comment