12/31/2016

Kaleidoskop AFF Cup 2016 : Menyusuri Lubang Jarum

Perjalanan Timnas Indonesia mengarungi Piala AFF 2016 bisa dibilang serba sulit. Tak usah bicara persiapan panjang, terlepas dari jeratan sanksi FIFA pun belum lama ini. Kita lupakan sejenak program KB dua anak lebih baik yang memberi wajah baru bagi Timnas, namun membatasi talenta terbaik negeri ini untuk berlaga, dan kita pun harus memaklumi dengan sedikit waktu yang tersisa Timnas kita hanya melakukan tiga kali laga uji coba, pun dengan kabar mengenai absennya Beckham from Indonesia -Irfan Bachdim- akibat cedera yang tak disengaja.

Kini kita bincangkan saja mengenai penampilan Timnas Indonesia yang bikin deg-deg-ser tapi secara grafik per pertandingan ternyata meningkat.

Jika mengikuti tiap pertandingan Piala AFF 2016, kita tentu tahu di laga pertama Indonesia berhasil menyarangkan dua gol ke gawang Thailand melalui sundulan Boaz Salossa dan Lerby Eliandri, sayangnya tim berjuluk The War Elephants itu membobol gawang Timnas kita yang dikawal Kurnia Meiga lebih banyak, melalui Peerapat Notchaiya 1 gol dan 3 gol lainnya dilesakkan Teerasil Dangda. 4 gol pemirsa!!!

Di laga kedua menghadapi tuan rumah Grup A Filipina yang bermaterikan pemain asing, Indonesia sejatinya sempat unggul dua kali, melalui Fachrudin Aryanto pada menit 8’ sebelum disamakan oleh Misagh Bahadoran pada menit 30’. Unggul lagi pada menit 67’ melalui Boaz Salossa, tapi kembali disamakan oleh Philip Suami Muda a.k.a Younghusband pada menit 80’, sehingga pertandingan kontra The Azkals pun berkesudahan imbang 2-2.

Di laga ketiga, dengan kondisi yang serba ketergantungan, Timnas Indonesia berhasil menjungkalkan Singapura dengan skor tipis 2-1. Secara grafik hasil pertandingan meningkat kan? Baik dari segi poin maupun tren mencetak gol.

Berebut Lubang Jarum

Sejatinya di laga terakhir Grup A, kondisi serupa dirasakan Singapura, mereka dituntut memenangkan pertandingan, seraya berharap di laga lain Filipina gagal meraih angka. Kenapa disebut serba ketergantungan? Begini skenarionya :

  1. Sebelum laga ketiga, Timnas Indonesia dan Singapura baru mengumpulkan 1 poin dari 2 laga, hasil sekali kalah dan sekali imbang. Di pihak lain, Filipina sudah mengantongi 2 poin dari 2 laga imbangnya, sedangkan Thailand sudah pasti lolos ke semifinal sebagai juara Grup A dengan berbekal 6 poin hasil menang di dua laga awal.
  2. Di laga pamungkas Grup A, Filipina wajib menang jika ingin lolos mendampingi Thailand, atau setidaknya meraih hasil imbang sambil berharap dalam laga Indonesia lawan Singapura tidak ada jawara.
  3. Timnas Indonesia bisa saja lolos, dengan syarat menundukkan Singapura. Begitu pula sebaliknya, Singapura harus mengalahkan Indonesia, seraya berdo’a Filipina kalah dari Thailand.
  4. Di lain sisi, Thailand sudah tidak memiliki beban harus menang atau imbang. Mereka tinggal menjalani pertandingan sewajarnya. Namun jika Thailand memiliki niatan ‘jahat’, bisa saja mereka bermain mata untuk secara tidak langsung menyingkirkan Indonesia dan Singapura.
  5. Nasib Indonesia, Singapura, dan Filipina pun saling bergantung pada hasil kedua laga pamungkas Grup A.

Andai diperbolehkan meminjam istilah populer untuk menggambarkan situasi ini, Indonesia dan Singapura berebut lolos dari lubang jarum. Meski sama, Filipina berada dalam posisi yang lebih untung.

Pada hari-H laga ketiga, eks striker Persiba Balikpapan, Khairul Amri, memulai panasnya peta persaingan setelah memecundangi Kurnia Meiga melalui gol akrobatiknya pada menit ke-27’. Gol yang membuat Singapura semakin percaya diri, supporter Indonesia makin deg-degan, karena sepengetahuan saya -maaf jika ini bernuansa suudzon- pemain Singapura acap kali mengulur-ulur waktu ketika situasi berpihak pada mereka, sering kali mereka menjadikan lapangan sebagai panggung opera dengan berguling-guling di lapangan tanpa diketahui jelas sebabnya. Tapi untunglah Timnas kita memiliki winger energik, Andik Vermansyah, membawa Timnas Indonesia kembali menyemai asa melalui gol 1st time nya pada menit 62’.

Namun, kedua tim masih belum aman karena di laga lain skor Filipina kontra Thailand masih kacamata. Situasi ini tentu tidak mengenakan bagi Indonesia maupun Singapura. Sebab jika hingga peluit panjang skor mereka tetap imbang 1-1, sedang di laga lain Filipina kontra Thailand tetap sama kuat 0-0. Maka pertandingan Indonesia melawan Singapura tak ubahnya permainan belaka, tak berarti apa-apa. Maka dari itu dalam laga yang dihelat di stadion Rizal Memorial harus ada pemenangnya.

Tapi peta persaingan Grup A Piala AFF 2016 mendadak berubah sepuluh menit menjelang kedua laga usai. Sarawut Masuk membawa Thailand unggul 1-0 di menit 80', sedangkan keputusan Riedl memasukkan Ferdinand Sinaga dan Zulham Zamrun di akhir-akhir laga terbukti ampuh untuk membuat linglung lini pertahanan Singapura, sehingga lini tengah Indonesia melalui Stefano Jantje Lilipaly lebih leluasa untuk melepaskan tendangan jeger menyambut umpan manis Boaz Salossa dari sisi kiri sekaligus membawa Indonesia unggul 2-1 pada menit 85'. Meski masih ada kemungkinan berubahnya kedudukan, dengan tenaga yang kian terkuras, waktu yang terasa berjalan kian deras, permainan seakan Tuntas. Dan nyatanya benar-benar tuntas. Kita ke semifinal 😹

Kesetiaan Dewi Fortuna

Indonesia berhak lolos ke semifinal setelah menjadi runner-up Grup A mendampingi Thailand, dengan ini secara otomatis mengharuskan Indonesia berhadapan dengan jawara Grup B Vietnam.

Berkaca pada dua laga uji coba sebelumnya, Timnas kita selalu kesulitan ketika menghadapi The Golden Star. Pertadingan uji coba pertama yang dihelat di Indonesia berakhir dengan skor 2-2, sedangkan dalam laga uji coba kedua yang berlangsung di Vietnam berkesudahan 3-2 untuk keunggulan tuan rumah.
Kita memang tak unggul, namun kita bisa mencetak gol, sebuah nilai positif yang menjadi harapan agar kita bisa kembali mencetak gol dengan tidak kebobolan lebih banyak.

Harapan itu benar-benar terwujud. Semifinal leg pertama yang berlangsung di Stadion Pakansari, Bogor berhasil dimenangkan Indonesia dengan skor tipis 2-1. Bukan kedudukan yang aman bagi kita mengingat Vietnam hanya perlu menang 1-0 saja untuk melenggang ke final. Semoga saja statistik mencetak 2 gol per pertandingan tetap terjaga.

Keajaiban benar-benar terjadi dalam leg kedua semifinal yang berlangsung di My Dinh Stadium, Vietnam. Kita berhasil menahan Vietnam dengan skor 2-2. Gol Stefano Lilipaly menjadi pembuka ketika laga memasuki interval kedua. Hingga sepuluh menit menjelang akhir laga, sekilas pertandingan akan berakhir untuk kemenangan Indonesia. Namun sayangnya tidak setelah Than Vu Van dan Tuan Vu Minh mencetak masing-masing 1 gol yang memaksa kita kalah 2-1. Sehingga laga dilanjutkan dengan babak perpanjangan.

Dewi fortuna rupanya masih betah mendampingi Timnas kita, adalah Manahati Lestusen yang mengubah segalanya menjadi lebih indah. Eksekusi tendangan 12 pas-nya membawa Indonesia menyamakan kedudukan. Dengan segala kontroversi yang terjadi, mulai dari dikartu merahnya Kiper Vietnam, hingga tendangan penalti yang dibatalkan wasit. Kita berhasil ke final, pencapaian yang melebihi ekspektasi pecinta Timnas Indonesia sebelumnya.

Gajah Tersenyum di Penghujung Lubang Jarum

Di final kelima bagi Timnas kita dalam ajang sepakbola antar Negara-negara Asia Tenggara ini, mengharuskan Indonesia kembali berhadapan dengan Tim Gajah Perang Thailand yang di semifinal berhasil menggagahi Myanmar dengan setengah lusin gol tak berbalas. Menakutkan! Patutlah kita gentar?

Indonesia bukanlah negara cemen yang langsung lemas ketika disuguhi statistik pertemuan dan kecemerlangan lawan. Data hanyalah masa lalu, yang kita perjuangkan adalah fakta bahwa Indonesia berpeluang menjadi yang terdepan.

Terbukti! Di leg pertama, kita berhasil membungkam si mulut besar Kiatisuk Senamuang. Meski sempat kecolongan satu gol Teerasil Dangda, kita bisa membalas lewat gol deflected Rizky Pora dan gol hasil sundulan Hansamu Yama. Keunggulan 2-1 bertahan hingga akhir laga. Kita berhasil mempertahankan tren 2 gol per pertandingan dengan sempurna. Sebuah asa telah tercipta. Akankah kembali berakhir sia-sia?

Nyatanya, YA.

Di Thailand sana, kita tak dapat berbuat banyak. Kita tak mampu memaksakan hasil imbang. Kita tak dapat membendung asa juara yang juga dimiliki pasukan gajah perang. Kita tumbang. Ya kembali tumbang. Bukan lewat gol mantan pemain Almeria itu lagi, melainkan lewat 2 gol Siroch Chattong. Siapa dia? Entahlah, saya pun baru tahu ada nama Siroch dalam skuad Thailand setelah ia membobol gawang Indonesia malam itu.

Namun tentu kekalahan kita bukan salah Siroch Chattong. Andai saja lini pertahanan kita bermain lebih edan, mungkin si Siroch ini tak akan sagawayah menggerayangi keperawanan gawang Indonesia.

Kaleidoskop AFF Cup 2016, Menyusuri Lubang Jarum

Tapi semua sudah terjadi. Thailand benar-benar menjadi raja sepakbola Asia Tenggara dengan raihan lima trophy, sedangkan Indonesia mengukir sejarah dengan menjadi runner-up lima kali. Meski kita telah susah payah menyusuri lubang jarum, tapi tetap di penghujung sang gajah lah yang tersenyum.

Tak apa, mungkin kita kurang belajar arti keikhlasan, sehingga Tuhan memberikan ini ujian. Di tengah kondisi sepakbola nasional yang masih berantakan, masuk final saja sudah membuat kita kegirangan.

Ibarat ingin melamar perempuan, tentu tak cukup dengan cinta dan keberanian. Harus ada bekal-bekal yang telah dipersiapkan secara matang. Nah agaknya Indonesia belum cukup bekal untuk dapat mempersunting Trophy Piala AFF tahun ini.

Dengan gagal (lagi) juara, setidaknya kita tetap memiliki harapan besar untuk meraih trophy pertama. Asalkan, harapan yang kita perjuangkan bukanlah harapan yang tak berkesudahan. Melainkan harapan yang berakhir dengan kemenangan. Bravo Indonesia! Salam olahraga!

0 komentar:

Post a Comment