3/06/2017

Tidak Ada Juara Bertahan Tahun Ini

"Juara euy...", masih segar ingatan saya akan teriakan dengan logat Sunda yang khas di akhir pertandingan malam itu. Mungkin di antara kamu juga ada yang berteriak demikian. Karena saat itu Bobotoh saalam dunya gegap gempita merayakan kemenangan Persib Bandung atas Sriwijaya FC di laga final Piala Presiden 2015 yang dihelat di stadion GBK, dan memastikan trophy Piala Presiden jilid pertama diboyong ke Bandung.

Tidak Ada Juara Bertahan Tahun Ini, piala presdien 2017, persib, pbfc

5 Maret 2017, asa juara itu kembali hadir. Meskipun kalah di laga pertama, toh skornya tipis 2-1. Untuk melaju ke babak final Persib cukup memasukkan sebiji gol ke gawang Pesut Etam dengan syarat tidak kebobolan. Tak ada kata mustahil untuk membalas. Bahkan mungkin dengan jumlah gol yang lebih fantastico... galactico... seblak buatanmu numero uno...!

Berbekal satu gol tandang, psywar pendukung lawan, pembakaran jersey Persib, hingga mulut besar Coach Ricky Nelson, laga kedua disinyalir berjalan panas. Dan kata "disinyalir" itu jadi kenyataan, laga hidup mati berjalan dalam tempo tinggi. Saling senggol seakan lumrah, ditambah kepemimpinan wasit yang menurut saya rada aduh-alah.

Akhir babak pertama leg kedua, dominasi permainan Maung Bandung membuat saya bersinyalir lagi bahwa laga akan berjalan mudah pasca rehat. Namun kesinyaliran saya kali ini meleset, siapa sangka skenario pada leg pertama terulang kembali... jawaban apa yang kan kuberi... (jangan sambil nyanyi guys). Tuan rumah unggul, dibalas tim tamu, sebelum akhirnya tuan rumah unggul lagi. Agregat pun imbang 3-3 dan mengharuskan kedua tim menjalani adu tendangan penalti. Sebuah babak yang paling saya tidaksukai, karena hoki lebih andil ketimbang skill dalam babak ini.

Saya pun kembali bersinyalir untuk ketigakalinya. Feeling saya Persib akan kalah. Selain karena faktor pengalaman PBFC dalam adu tendangan penalti, juga ekspresi kiper Persib, I Made Wirawan yang kurang meyakinkan seakan tunduheun. Entah matanya yang emang sipit kali ya? Atau ia sedang akting sebagai Ariel Noah yang sering menyipit-nyipitkan mata? Entahlah. Semoga kesinyaliran yang ini salah.

"Takdir teu beunang dipungkir, kadar teu bisa disinglar, najan pait bari peuheur, teu bisa dikumahakeun... ulah ceurik, tong diceungceurikan..."

Ulah Ceurik - Oon B

Kesinyaliran yang tak diinginkan malah menjadi kenyataan. Persib kalah setelah semua algojo penalti PBFC sukses menyarangkan si kulit bundar ke gawang anak Pak Wirawan (I Made Wirawan). Sedangkan Persib gagal menceploskan bola di penendang ketiga, Kim Jeffrey Kurniawan.

Tapi ini bukan salah Kim, bukan juga salah Coach Djanur. Semua ini salah wasit. Eh bukan ketang, kita tidak boleh menyalahkan wasit meski merasa terdzolimi. Kita, Bobotoh, harus belajar dari Cagub DKI Nomor urut satu, AHY yang secara ksatria dan lapang dada menerima kekalahan.

Meskipun begitu, saya sarankan kepada pihak berwenang untuk meningkatkan kualitas dunia perwasitan dalam negeri. Karena semua penonton, terutama yang nonton di televisi, sudah tahu lah. Jangan jadikan ungkapan "wasit juga manusia, tempat khilaf dan salah" sebagai alasan klasik. Plis atuh euy ini bukan acara wasit show!

Lantas siapa yang salah? Yang salah tetaplah tukang bajigur. Sudah tahu airnya keruh, masih saja diaduk-aduk. Terpujilah wahai tukang bajigur.

Tidak ada juara bertahan tahun ini, itulah ungkapan kesekian saya pasca pertandingan, menyusul ungkapan "ah... euh...", dan ungkapan emosional lainnya. Asa juara benar-benar menjadi asa juara (Asa = Perasaan/Rasa-rasanya #BasaSunda).

Seperti judul lagu band asal Malaysia, New Boyz "Sejarah Mungkin Berulang", mungkin itu pula yang akan menghinggapi Persib Bandung. Persib juara Liga Indonesia pertama, harus menunggu sekian tahun untuk kembali meraihnya. Persib juara Piala Presiden jilid pertama, semoga tidak harus menunggu bertahun-tahun untuk kembali merengkuhnya. Sekarang gagal, tahun depan siapa tahu? Gagal lagi, eh juara maksudnya, itu juga kalau Presidennya masih ada, eh Piala Presiden maksadna... Punten.

Terlepas dari semua drama yang terjadi, ingatlah bahwa rivalitas hanya berlangsung 90 menit di lapangan. Babak perpanjangan dan adu penalti? Kumaha urang. Maafkan saya jika ada pihak yang tersentil dalam tulisan ini. CMIIW. Wassalam 😃

0 komentar:

Post a Comment