9/02/2017

Nasi Instan, Rasa yang Pernah Ada

Suatu hari ada demo masak di kantor RW, suasana kala itu cukup berjejal. Mayoritas hadirin adalah ibu-ibu dan anak-anak, dan tentunya saya termasuk golongan anak-anak, karena demo masak tersebut diadakan sekira belasan tahun lalu, ketika usia saya antara usia anak belum sekolah atau baru masuk SD, lupa, dengan alasan itu pula tulisan ini saya sajikan seingatnya saja :D

Kabar burung mengatakan bahwa demo masak tersebut adalah dalam rangka mempromosikan produk baru berupa nasi instan, yang cukup dengan diseduh bisa langsung matang. Cukup menarik, apa lagi demo masak tersebut terbilang megah dan langsung berkoordinasi dengan pihak RW. Produk yang didemonstrasikan adalah Tara Nasiku. Ada yang masih ingat?

Mungkin anak generasi kekinian kurang familiar dengan produk yang satu ini, karena memang produk ini sudah sulit dijumpai di pasaran, atau mungkin malah sudah tidak ada. Jelasnya produk ini pernah benar-benar ada dan tersebar di pasaran, sampai akhirnya tenggelam ditelan jaman.

Seperti halnya mie instan, nasi instan pun memiliki varian rasa. Yang saya ingat ada rasa nasi goreng dan nasi kuning. Saya pernah merasakan keduanya, karena pada demo masak yang saya hadiri belasan tahun lalu itu, hadirin diperkenankan mencicipi nasi instan yang telah matang. Masing-masing mendapat satu wadah kecil, sejenis cangkir plastik putih untuk wadah es puter.

Terlepas dari pernah ada atau tidaknya produk serupa sebelumnya, mengenai inovasi, produk ini layak diacungi jempol karena berani menggebrak pasar makanan instan. Mengingat produk mie masih merajai dunia perinstanan di Indonesia. Mungkin produsen nasi instan berpikir, karena makanan pokok rakyat Indonesia adalah nasi, maka besar kemungkinan produk mereka akan mudah merebut hati masyarakat. Sayangnya kenyataan tak demikian, karena soal rasa, memang belum bisa mengalahkan dominasi produk mie dalam jajaran makanan instan.

Kesan pertama saya terhadap nasi instan yang satu ini adalah AMBYARRRRR... Untuk ukuran "nasi goreng" rasanya kurang cocok di lidah saya. Meskipun demikian saya tak kapok untuk merasakan nasi dengan rasa yang lain. Karena ketua RW-nya tetangga saya, jadi saya minta lagi yang rasa nasi kuning, lewat jalur nir-antre tentunya. Dan kesan saya dengan rasa yang kedua adalah..... SAMA SAJAAAAA... Kurang berkenan sekujur badan, kecuali ketika darurat boleh lah.

Kala itu adalah pengalaman pertama dan terakhir saya mencicipi nasi instan. Meskipun produk tersebut sudah tersebar di pasaran, serta bermunculan produk serupa dari produsen yang berbeda, saya tidak pernah lagi membeli dan mencicipi nasi instan. Mungkin semacam kapok, trauma, atau tak punya duit.

Seiring dengan waktu, produk nasi instan, entah itu Tara Nasiku atau produk lainnya semakin sulit ditemui di pasaran. Mungkin rasa yang saya rasakan tempo hari juga dirasakan oleh hadirin lain dan masyarakat umum yang membeli produk tersebut di luaran.

Dalam rangka nostalgia dan melengkapi postingan ini, saya coba searching di internet mengenai nasib dari produk Tara Nasiku. Dan ternyata cukup sulit untuk mencari bukti-bukti otentik produk ini, yang bermunculan malah nasi instan dari produsen lain, termasuk yang paling populer adalah Nasi Instan GarudaFood. Hanya saja saya menemukan sebuah rilis dari laman Slideshare dengan nama akun samerdanta sinulingga, terpercaya sih sepertinya. Kurang lebih isinya seperti berikut :

Kisah Gagalnya Tara Nasiku

Produk nasi instan ini diluncurkan dengan harapan agar mampu menjadi makanan instan pengganti makanan pokok seperti halnya sukses mie instan. Logikanya cukup masuk akal, nasi adalah makanan pokok sebagian besar orang Indonesia,bila ada nasi instan maka akan besar kemungkinan produknya akan diserap dengan baik oleh pasar. maka Tara Nasiku pun diluncurkan dengan didukung marketing communication yang luar biasa besar. Tapi produk itu gagal. Awalnya banyak orang mencoba Tara Nasiku, namu  itu rupanya hanya first trial semata. Kelemahan Tara Nasiku yang mencolok adalah untuk menghasilkan nasi instan yang optimal, maka mesti dimasak dengan teflon, hal inilah yang cukup menyulitkan konsumennya. Selain itu, rasa Tara Nasiku kurang berkenan di lidah kita. pada intinya, ekspektasi akan rasa dan "instan" dari iklan Tara Nasiku ternyata tidak dipenuhi.

Gagalnya Tara Nasiku, nasi instan

Berkaca dari beberapa paragraf di atas, saya mendapat pelajaran bahwa tak semua inovasi dapat diterima semua kalangan, menembus batas-batas ruang.

Kesan pertama dari sebuah hal akan memengaruhi kesan pada hal serupa lainnya, meski terjadi dalam ruang dan waktu yang berbeda, kita akan cenderung membanding-bandingkannya.

Wassalam.

0 komentar:

Post a Comment