2/04/2018

Kejadian Tak Menyenangkan Semasa Jadi Pelajar

Banyak yang bilang masa-masa sekolah adalah masa yang paling indah, karena di sana kita dapat menemukan kasih dan semut merah. Namun agaknya masa sekolah tak selamanya indah, pastilah kita pernah mengalami hal yang tak menyenangkan di sana. Meskipun hal tak menyenangkan itu bermacam-macam jenisnya, intensitas dan kualitasnya pun bertingkat.

Kejadian Tak Menyenangkan Selama Jadi Pelajar, is 2, ips, anak ips, social class, sacil, satu cileunyi, sman, sman sacil, asep abdul rozak, jalan pendidikan, rebellion family
Siswa-siswi IS 2 SMAN 1 Cileunyi lulusan 2011. Coba cari saya di foto ini! Jangan ding ga penting - Dok. Rebellion Family

Dulu semasa jadi pelajar saya pun tak luput dari kejadian yang tak menyenangkan, mulai dari yang konyol hingga yang miris. Khusus dalam tulisan ini, yang saya jabarkan adalah kejadian tak menyenangkan (dari sudut pandang pria) yang menjurus ke kekonyolan hidup. Jadi yang miris-miris mah diskip saja.

1. Dikeluarkan dari kelas

Waktu itu jam mata pelajaran (mapel) Sosiologi, tiap siswa diharuskan memiliki buku pegangan alias buku paket. Sedangkan saya tidak punya. Bukan hanya saya sih, teman-teman saya juga ada yang tidak punya. Bukannya tak mau beli, masalahnya ketika itu saya dalam posisi teu boga duit. Guru menyuruh saya untuk fotocopy saja biar murah. Ya tetap saja, ora ono duite.

Akhirnya saya dikeluarkan dari kelas, disuruh merenung di Perpustakaan. Tapi karena saya adalah tipe orang yang suka bersilaturahmi, maka sebelum ke perpus saya nyimpang dulu ke ibu kantin, jajan coki-coki atau loli milkita yang setara 1/3 gelas susu lah. Minimal biar tidak terlalu eteb merenungnya. Sangat disayangkan pada waktu itu belum musim ipok meti.

Tapi untuk pertemuan berikutnya saya memaksakan diri foto copybuku paket sosiologi tersebut supaya aman. Meski fotocopynya per bab dulu, biar ongkosnya tidak terlalu meledak.

Tragedi "pengusiran" dari kelas juga pernah saya alami pada masa kuliah, tepatnya dalam mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. Kali ini alasannya bukan karena buku paket ya. Melainkan saya dikeluarkan karena tidak bisa melafalkan (bukan membaca) dalil tentang dakwah (Q.S An-Nahl : 125). Ya... waktu itu mana saya tau? Perintahnya dadakan pula :D

Tapi sebagai mahasiswa UIN tentu sedikitnya saya harus hafal, akhirnya di luar kelas saya menghafal betul-betul ayat itu beserta terjemahannya. Hikmahnya ayat itu masih katalar meski lima tahun telah berlalu dari tragedi itu. 

2. Kepala dikeplak

Saya ingat betul bahwa pengeplakan itu terjadi hari Senin. Sebab pengeplakan itu terjadi akibat saya tak bergegas pergi ke lapangan ketika waktu upacara bendera hampir dimulai. Padahal waktu itu  posisi saya dan teman-teman sudah di depan pintu kelas siap OTW lapang lho, tapi Wakasek (wakil kepala sekolah) yang kesohor galaknya itu tak mau banyak kata, langsung dikeplaklah kepala kami menggunakan topi :D

Pengeplakkan tak berakhir di topi, pada saat Mapel TIK kepala saya dikeplak menggunakan buku paket. Alasannya? Lagi-lagi gegara tak punya buku paket. Pelakunya? Orang yang sama. Entahlah mungkin itu hobi beliau, atau memang saya terkena kutukan buku paket? :D

Penyelesaian kasus ini sama seperti kasus Sosiologi yakni dengan fotocopy. Bedanya saya tidak dikeluarkan dari kelas, penggantinya ya kepala dikeplak tadi.

3. Gagal ketika praktek Penjaskes

Dalam mapel Penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan), tentu kita akan menemui beberapa sesi dimana harus mempraktekkan teori-teori yang disampaikan guru di kelas. Prakteknya macam-macam, hampir semua cabang olahraga ada; lari dan semacamnya, lompat jauh, lompat harimau, tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram, renang, jungkir balik, dan cabang olahraga lainnya yang lebih populer.

Hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika kita gagal menuntaskan tes tersebut. Bukan rasa sakit atau efek fisik sih, lebih ke rasa malu karena kegagalan itu ditonton banyak orang. Bukan hanya sekelas, tapi kelas lain pun suka ikut nonton. Apalagi kalau ciwi yang kita taksir ada di sana, bisa jadi bukan hanya malu yang dirasa, tapi kita jadi terlihat konyol dan lemah :D

Kecuali renang deh, alasannya selain kolam laki-laki dan perempuan dipisah, juga karena dari sekian banyak lelaki yang ikut ternyata banyak yang tidak bisa renang atau cuma berani di kedalaman 1 meter, supaya kalau tenggelam kaki masih bisa napak.

4. Razia rambut

Kejadian ini paling sering dialami karena kegiatannya dilakukan rutin mingguan atau dwi mingguan, dan korbannya adalah siswa laki-laki berambut gondrong. Sepertinya, ukuran gondrong menurut guru bisa dilihat dari apakah rambut siswa sudah menyentuh telinga atau belum. Di luar ukuran itu, rambut yang modelnya aneh-aneh tetap kena razia, termasuk rambut berwarna-warni.

Kalau tidak lupa saya pernah kena razia rambut dua kali. Sebenarnya tak masalah kena razia kalau dipotongnya bagus dan simetris. Tapi kan ini dipotong asal-asalan dan satu sisi saja sehingga menimbulkan efek jingjet. Keadaan tersebut tentu memaksa saya untuk merapikannya ke tukang cukur.

Di luar pakem-pakem sosial yang ada, suatu kejadian dianggap menyenangkan atau tidak itu tergantung dari individu yang mengalaminya. Kejadian tak menyenangkan tak melulu datang dari luar, bisa saja datang akibat dari ulah sendiri. Saya sendiri menganggap empat poin di atas memang kejadian tidak menyenangkan yang datang dari diri sendiri, tapi masih dalam taraf amateur sih.

Tapi jangan salah, kejadian tak menyenangkan pada masa lalu bisa menjadi kenangan indah pada masa mendatang, dan bisa menjadi momen paling diingat sepanjang hidup. Contohnya ya tulisan ini :D

Jika dari sidang pembaca ada yang pernah mengalami kejadian serupa atau ada pengalaman lain, boleh dong corat-coret di kolom komentar. Wassalam.

2 comments: