7/27/2018

Bandung Lebih Dingin dari Biasa

Beberapa minggu terakhir suhu di Bandung terasa tak seperti biasa. Kata tiris hampir tak pernah terlewat diucap tiap pagi, pun dengan birigidig yang mengiringi ucapan tersebut.

Jika hanya berdiam di rumah, apalagi sambil meneguk teh manis atau kopi hangat, tentu dinginnya tak akan begitu terasa. Coba saja injakkan kaki ke teras rumah, mungkin telapak kakimu akan sedikit tersentak alias ngejat, bahkan mungkin akan baal.

Sialnya lagi saat ini saya memiliki tugas baru, yaitu membonceng Adik ke tempat kerjanya. Belum lama ini Adik saya bertugas sebagai Guru Sekolah Dasar di kawasan Cilengkrang, jadi dari Cileunyi berangkatnya memang harus pagi-pagi sebelum jam 7.

Jumat, 27 Juli 2018. Saya masih harus nganterin adik, dan dingin terasa semakin menjadi-jadi. Meski sudah mengenakan jaket, hawa dingin seakan tak peduli. Bahkan tangan saya seperti ditusuk-tusuk jarum, karena selain menghadapi suhu juga harus melawan angin.

Ketika menemukan tempat agak lengang dan tersinari matahari saya berhenti sejenak. Sekadar menghangatkan tangan yang genggamannya seakan melemah (lebay). Tapi sinar matahari waktu itu ibaratnya masih lembut sehingga tak mampu melawan dingin yang terlalu.

Karena dikejar waktu tak berapa lama saya langsung tancap gas hingga tugas mengantar adik pun beres sesuai rencana. 

Pulangnya suhu masih terasa dingin tapi untung matahari sudah agak meninggi. Sambil melaju saya mencari titik yang enak untuk moyan. Akhirnya ada tempat lengang di pinggir lapangan bola tanpa ada satu pun objek nyata yang menghalangi sinar matahari.

Laju motor saya hentikan, di sana saya mengembus-embuskan nafas dari mulut, menggosok-gosok kedua telapak tangan, dan menggerak-gerakkkan kaki yang hanya mengenakan sendal capit.

Mengalami hal-hal seperti itu saya seperti menjadi Mas Refa Kashiki (vlogger itu lho) yang sedang kedinginan menyusuri jalanan Hiroshima.

Tanpa disadari kelakuan saya itu sepertinya mengundang perhatian orang, setelah tengok kanan-kiri sejumlah orang memandangi saya. Tapi mungkin juga itu hanya kegeeran saya saja. Bodo amat ah :D

Singkat cerita perjalanan pulang saya lanjutkan hingga sampai ke rumah dengan selamat. Sebungkus kopi instant sisa semalam nonton Persib pun tak luput dari seduhan air panas.

Segelas kopi saya bawa ke kamar kerja, menyalakan komputer, dan mulai berpikir. Apakah kedinginan yang tak biasa ini layak menjadi pengisi blog buluk ini?

Apakah hidup saya akan terus bigini? Sepi, sendiri, ditemani kopi?
Mungkin di lain hari akan ada kamu di sisi :D

Wassalam.

0 komentar:

Posting Komentar