9/09/2018

Tim Medioker: Tentang Hidup yang "Mau Gitu Aja?"

Dalam dunia sepakbola, kita tentu pernah mendengar istilah tim medioker. Lantas apa yang dimaksud medioker? Medioker atau mediocre merupakan sebuah istilah yang mencerminkan nada negatif karena mengandung makna "biasa-biasa saja", tidak istimewa, setengah-setengah, tidak sungguh-sungguh, bahkan antara ada dan tiada.

Jadi, tim medioker dapat diartikan sebagai tim yang "B-aja", seperti tanpa motivasi juara, tidak duduk di papan atas pun tak terperosok di jurang degradasi. Filosofinya mungkin "yang penting aman".

Tim Medioker: Tentang Hidup yang "Mau Gitu Aja?", medioker, mediocre, westham united
Apakah layak Westham United disebut tim medioker? - Dok. Telegrafi.com

Eleanor Roosevelt (istri Franklin Delano Roosevelt, mantan Presiden AS 1933-1945) mengatakan, "Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people." Artinya mungkin; Orang hebat berpikir tentang ide, orang yang biasa-biasa saja berpikir tentang hal-hal yang terjadi, sedangkan orang yang pemikirannya "cetek" tenggelam dalam gosip.

Pikiran bukanlah sentra hidup kita karena wilayah sentra milik Tuhan. Namun, itu tak serta merta membuat kita tidak perlu mengelola pemikiran kita. Pemikiran seseorang yang agung selalu merupakan terobosan. Itu sebabnya mengapa mereka memiliki nama besar dan reputasi yang mengagumkan.

Lalu apa hubungan antara tim medioker dengan pernyataan Eleanor Roosevelt?

Manusia yang hidup dalam mediokritas, mirip tim medioker yang serba tanggung dalam menjalani kompetisi. Dalam buku Gol! karya Gheeto TW (2013) disebutkan, ada beberapa hal yang membuat sebuah tim menjadi tim medioker: karena manajer atau pelatihnya tidak punya visi yang jelas; karena pemain yang hanya puas dengan gaji dan memiliki semangat"daripada nganggur, lebih baik main bola"; atau karena pemilik klub tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk maju.

Ketika berada dalam tim medioker, baik di lapangan hijau maupun kehidupan nyata, kita perlu memikirkan dua hal. Pertama, jika kita punya potensi untuk mengubah keadaan, kita perlu bertahan sembari dengan tulus memperbaiki diri dan kondisi yang menaungi kita. Kedua, jika dianggap "kurang ajar" karena tidak mau menjadi medioker seperti lingkungan yang menaungi kita, maka lebih baik kita cepat-cepat keluar dari sana. Jangan mau menjadi "pahlawan" di tim yang memang tidak pernah punya niat untuk mengejar apa pun.

"Rék kitu waé hirup téh?"

Semoga ada hikmahnya. Wassalam :)

Referensi:
- Buku Gol! karya Gheeto TW (Terbitan BIP, 2013)

0 komentar:

Posting Komentar