Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fakta Mengenai Tukang Setting

Dalam dunia kerja pada umumnya, suka-duka tentu menjadi hal biasa. Tapi menjadi seorang tukang setting sedikit berbeda, ada sensasi tersendiri yang hanya dirasakan oleh ia yang mengalaminya.

Tukang setting dalam konteks ini adalah dalam dunia percetakan, bukan tukang setting keributan, atau pun yang lainnya.

Lanjut.

Seiring merebaknya dikotomi antara tukang setting dengan desainer, profesi ini kadang diremehkan, terlepas kamu adalah master atau newbie, kerja di percetakan gede atau percetakan kecil, semuanya dipukul rata.

"Kerjaanmu kan cuma masukin ini masukin itu, geser-geser dikit, kelar."

Padahal tidak demikian juga, profesi ini tidak melulu soal menguasai perangkat lunak komputer macam CorelDRAW, Photoshop, Adobe Illustrator, dsb. Sebagaimana desainer pro, tukang setting juga harus tahu soal rasa. Intinya teknik tanpa harmoni hanya akan melahirkan karya tanpa seni. (ngomong apa sih?)

Sedih dan suka memang selalu ada dalam setiap profesi, termasuk menjadi tukang setting.  Sedihnya... Kesedihan atau lebih tepat keapesan yang paling sering dialami mungkin mendapat konsumen yang rewel, banyak maunya, tak terdikte, kita layaknya maba ospek yang disuruh bawa benda-benda aneh dan perlu ditafsirkan.

Konsumen (MD a.k.a Minta Ditabok) :"Tolong gambarnya agak ke kanan dikit ya, hurufnya yang unik, backgroundnya pink pastel, eh ngga ding, nuansa coklat-coklat cafe gitu, bisa ga?"

Tukang Setting (TS) : "..................."

MD : "Warna hurufnya broken white ya, terus saya mau ada ornamen-ornamen yang dapat menarik minat gimanaaa gitu."

TS : "Begini?"

MD : "Hhmmm... Tolong dikreatifin lagi ya!"

TS : "Kalau begini?"

MD : "Eh terlalu rame ya ternyata.... Hmmmm, bagus-bagusnya mas deh gimana, kan masnya lebih tau"

TS : "*^&^*%R#^*@^(#*^@(*" (jejelin mulutnya pake spanduk flexy, gramasi 260, per meter 25rb, minat call me).

Tapi jangan khawatir, ada sukanya juga kok jadi tukang setting. Sukanya, sering bertemu banyak orang dari semua gender, usia, dan kalangan, bahkan karena langganan dan komunikasi berjalan nyaman, antara tukang setting dan customernya lumrah bertukar nomor kontak, dan hubungan mereka berlanjut akrab di luar urusan bisnis.

Selain itu, ada beberapa fakta yang dialami tukang setting, berikut penjabarannya :

1. Kolektor

Ah Tong, Lama Tapi Berharga, koran lama, batre lama

Kamu adalah seorang tukang setting jika mengumpulkan koran lama, majalah lama, tabloid, flyer, buletin, poster, dan sejenisnya bukan karena isinya penting, melainkan karena desainnya bagus, menarik, mungkin suatu saat diperlukan sebagai bahan inspirasi.

Jaman dulu ini mungkin berlaku, namun pada masa kini sepertinya sudah jarang yang melakukan seiring dengan lebih mudahnya mendapat akses untuk mencari inspirasi melalui internet. Jangankan inspirasi desain, kini situs penyedia desain jadi atau vektor gratis pun sudah banyak bertebaran di jagat maya, sehingga makna kata kekurangan inspirasi sepertinya sudah tak relevan lagi.

Selain mengoleksi benda-benda fisik, tukang setting juga merupakan kolektor font. Ada berapa jumlah font yang terinstal di komputer mereka? Entahlah, yang jelas bukan hanya font yang mereka anggap keren, font yang jarang digunakan pun turut terinstal.

"Mungkin suatu saat kepake."

Tapi harus diingat, koleksi font pun jangan sembarangan, harus dalam porsinya. Maksud saya, font yang kita punya harus digunakan sesuai lisensinya. Misal, font dengan lisensi personal use baiknya digunakan hanya untuk keperluan pribadi seperti latihan desain, desain untuk acara amal, dan keperluan non-commercial lainnya. Jika hendak menggunakannya dalam urusan komersil, kamu harus membeli lisensi pada sang pembuat.

Jika belum mampu, maka gunakanlah font yang berlisensi free for commercial atau bebas digunakan dalam urusan komersil (mengandung keuntungan materil).

2. Korektor

Bung Towel, Tommy Welly, komentator, korektor

Jika kamu melihat sebuah spanduk terbentang di pinggir jalan, dan yang kamu lihat pertama kali adalah desainnya, disinyalir kamu mewarisi darah seorang tukang setting. Selain memerhatikannya, kamu pun berdiskusi di alam pikiranmu sendiri.

"Harusnya logo di sebelah kiri, fontnya kurang tebal, warna teks dan latarnya tabrakan tuh."

Ini bagus, tapi jangan hanya settingannya yang diperhatikan, susunan hurufnya pun harusnya tak luput dari pantauan. Mungkin ini salah satu penyebab adanya tukang setting yang mendapat komplain dari konsumen karena ke-typo-annya... hehe

3. Analis

Are you graphic designer?

Seorang tukang setting adalah analis yang baik (Masa?). Ia bisa memerhatikan hal-hal detail yang berhubungan dengan dunia setting menyetting. Misalnya ketika disuguhi daftar menu di sebuah restoran, cafe. atau dimana lah itu tempatnya, yang dilihat bukan nama hidangan atau harganya, melainkan deretan hurufnya.

"Hmmm... Century Gothic."

Dalam kasus ini, seorang tukang setting bertindak pula sebagai penghafal yang baik, namun terkadang ia lupa kapan terakhir kali menggunakan font Times New Roman.

Itulah fakta mengenai tukang setting berdasarkan riset bodong tim Jurnal Rozak. Terima kasih telah sudi membaca hingga paragraf terakhir ini. Akhirulkalam. Wassalamu'alaikum :)

1 komentar untuk "Fakta Mengenai Tukang Setting"