11/25/2016

Are You Tukang Setting?

Dalam dunia kerja pada umumnya, suka-duka tentu menjadi hal biasa. Tapi menjadi seorang tukang setting sedikit berbeda, ada sensasi tersendiri yang hanya dirasakan oleh ia yang mengalaminya.

Seiring merebaknya dikotomi antara tukang setting dengan desainer, profesi ini kadang diremehkan, terlepas kamu adalah mastah atau newbie, kerja di percetakan gede atau percetakan biasa, semuanya dipukul rata.

"Kerjaanmu kan cuma masukin ini masukin itu, geser-geser dikit, kelar."

Padahal tidak demikian, tukang setting tidak melulu soal menguasai perangkat lunak komputer. Sebagaimana desainer, tukang setting juga harus tahu soal rasa. Seorang tukang setting harus punya feel. Intinya teknik tanpa harmoni hanya akan melahirkan karya tanpa seni. (ngomong apa sih?)

Intinya, meski dicap tukang setting, kita harus men-desainer-kan diri 😼

Memang ada sedihnya sih menjadi tukang setting. Apalagi kalau mendapat konsumen yang rewel, banyak maunya, kita layaknya maba ospek yang disuruh bawa benda-benda aneh dan perlu diterjemahkan.

Konsumen (MD a.k.a Minta Ditabok) :"Tolong gambarnya agak ke kanan dikit ya, hurufnya yang unik, backgroundnya pink pastel, eh ngga ding, nuansa coklat-coklat cafe gitu, bisa ga?"

Tukang Setting (TS) : "..................."

MD : "Warna hurufnya broken white ya, terus saya mau ada ornamen-ornamen yang dapat menarik minat gimanaaa gitu."

TS : "Begini?"

MD : "Eh terlalu rame ya ternyata.... Hmmmm, bagus-bagusnya mas deh gimana, kan masnya lebih tau"

TS : "*^&^*%R#^*@^(#*^@(*" (jejelin mulutnya pake spanduk flexy, gramasi 240, per meter 20rb, minat call me).

Masih mending kalau dibayar, seandainya hanya projek 'thank you' bagaimana?

Tapi jangan khawatir, menjadi tukang setting itu asyik. Bahkan kelakuannya di balik layar terkadang unik. Dan keunikan itulah yang akan saya ulas kali ini. Berikut top 3 keunikan seorang tukang setting, berdasarkan survei majalah tempo (tempo terbit tempo tidak) :

1. Kolektor

Ah Tong, Lama Tapi Berharga, koran lama, batre lama

Kamu adalah seorang tukang setting jika mengumpulkan koran lama, majalah lama, tabloid, flyer, buletin, poster, dan sejenisnya bukan karena isinya penting, melainkan karena desainnya bagus, menarik, mungkin suatu saat diperlukan sebagai bahan inspirasi.

Selain mengoleksi benda-benda fisik, tukang setting juga merupakan kolektor font. Ada berapa jumlah font yang terinstal di komputer mereka? Entahlah, yang jelas bukan hanya font yang mereka anggap keren, font yang jarang digunakan pun turut terinstal.

"Mungkin suatu saat kepake."

2. Korektor

Bung Towel, Tommy Welly, komentator, korektor

Jika kamu melihat sebuah spanduk terbentang di pinggir jalan, dan yang kamu lihat pertama kali adalah desainnya, disinyalir kamu mewarisi darah seorang tukang setting. Selain memerhatikannya, kamu pun berdiskusi di alam pikiranmu sendiri.

"Harusnya logo di sebelah kiri, fontnya kurang tebal, warna teks dan latarnya tabrakan tuh."

Pernah begini tak?

Ini bagus, tapi jangan hanya settingan yang diperhatikan. Mungkin ini salah satu penyebab adanya tukang setting yang acap kali mendapat komplain dari konsumen karena ke-typo-annya 😅

3. Analis

Are you graphic designer?

Seorang tukang setting adalah analis yang baik (Masa?). Ia bisa memerhatikan hal-hal detail yang berhubungan dengan dunia setting menyetting. Misalnya ketika disuguhi daftar menu di sebuah restoran, cafe. atau dimana lah itu tempatnya, yang dilihat bukan nama hidangan atau harganya, melainkan deretan hurufnya.

"Hmmm... Century Gothic."

Dalam kasus ini, seorang tukang setting bertindak pula sebagai penghafal yang baik, namun terkadang ia lupa kapan terakhir kali menggunakan font Times New Roman.

Demikianlah ulasan mengenai 3 keunikan seorang tukang setting yang dapat dijadikan referensi untuk mendeteksi apakah dirimu mewarisi darah tukang setting. Percaya atau tidak, beginilah kenyataannya. Kalau tidak percaya, terserah, asal jangan memvonis saya beraliran sesat ya.

Are you the next?

Wassalam :)

0 komentar:

Post a Comment