2/04/2018

Kejadian Tak Menyenangkan Semasa Jadi Pelajar

Banyak yang bilang masa-masa sekolah adalah masa yang paling indah, karena di sana kita dapat menemukan kasih dan semut merah. Namun agaknya masa sekolah tak selamanya indah, pastilah kita pernah mengalami hal yang tak menyenangkan di sana. Meskipun hal tak menyenangkan itu bermacam-macam jenisnya, intensitas dan kualitasnya pun bertingkat.

Kejadian Tak Menyenangkan Selama Jadi Pelajar, is 2, ips, anak ips, social class, sacil, satu cileunyi, sman, sman sacil, asep abdul rozak, jalan pendidikan, rebellion family
Siswa-siswi IS 2 SMAN 1 Cileunyi lulusan 2011. Coba cari saya di foto ini! Jangan ding ga penting - Dok. Rebellion Family

Dulu semasa jadi pelajar saya pun tak luput dari kejadian yang tak menyenangkan, mulai dari yang konyol hingga yang miris. Khusus dalam tulisan ini, yang saya jabarkan adalah kejadian tak menyenangkan (dari sudut pandang pria) yang menjurus ke kekonyolan hidup. Jadi yang miris-miris mah diskip saja.

1. Dikeluarkan dari kelas

Waktu itu jam mata pelajaran (mapel) Sosiologi, tiap siswa diharuskan memiliki buku pegangan alias buku paket. Sedangkan saya tidak punya. Bukan hanya saya sih, teman-teman saya juga ada yang tidak punya. Bukannya tak mau beli, masalahnya ketika itu saya dalam posisi teu boga duit. Guru menyuruh saya untuk fotocopy saja biar murah. Ya tetap saja, ora ono duite.

Akhirnya saya dikeluarkan dari kelas, disuruh merenung di Perpustakaan. Tapi karena saya adalah tipe orang yang suka bersilaturahmi, maka sebelum ke perpus saya nyimpang dulu ke ibu kantin, jajan coki-coki atau loli milkita yang setara 1/3 gelas susu lah. Minimal biar tidak terlalu eteb merenungnya. Sangat disayangkan pada waktu itu belum musim ipok meti.

Tapi untuk pertemuan berikutnya saya memaksakan diri foto copybuku paket sosiologi tersebut supaya aman. Meski fotocopynya per bab dulu, biar ongkosnya tidak terlalu meledak.

Tragedi "pengusiran" dari kelas juga pernah saya alami pada masa kuliah, tepatnya dalam mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. Kali ini alasannya bukan karena buku paket ya. Melainkan saya dikeluarkan karena tidak bisa melafalkan (bukan membaca) dalil tentang dakwah (Q.S An-Nahl : 125). Ya... waktu itu mana saya tau? Perintahnya dadakan pula :D

Tapi sebagai mahasiswa UIN tentu sedikitnya saya harus hafal, akhirnya di luar kelas saya menghafal betul-betul ayat itu beserta terjemahannya. Hikmahnya ayat itu masih katalar meski lima tahun telah berlalu dari tragedi itu. 

2. Kepala dikeplak

Saya ingat betul bahwa pengeplakan itu terjadi hari Senin. Sebab pengeplakan itu terjadi akibat saya tak bergegas pergi ke lapangan ketika waktu upacara bendera hampir dimulai. Padahal waktu itu  posisi saya dan teman-teman sudah di depan pintu kelas siap OTW lapang lho, tapi Wakasek (wakil kepala sekolah) yang kesohor galaknya itu tak mau banyak kata, langsung dikeplaklah kepala kami menggunakan topi :D

Pengeplakkan tak berakhir di topi, pada saat Mapel TIK kepala saya dikeplak menggunakan buku paket. Alasannya? Lagi-lagi gegara tak punya buku paket. Pelakunya? Orang yang sama. Entahlah mungkin itu hobi beliau, atau memang saya terkena kutukan buku paket? :D

Penyelesaian kasus ini sama seperti kasus Sosiologi yakni dengan fotocopy. Bedanya saya tidak dikeluarkan dari kelas, penggantinya ya kepala dikeplak tadi.

3. Gagal ketika praktek Penjaskes

Dalam mapel Penjaskes (pendidikan jasmani dan kesehatan), tentu kita akan menemui beberapa sesi dimana harus mempraktekkan teori-teori yang disampaikan guru di kelas. Prakteknya macam-macam, hampir semua cabang olahraga ada; lari dan semacamnya, lompat jauh, lompat harimau, tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram, renang, jungkir balik, dan cabang olahraga lainnya yang lebih populer.

Hal yang paling tidak menyenangkan adalah ketika kita gagal menuntaskan tes tersebut. Bukan rasa sakit atau efek fisik sih, lebih ke rasa malu karena kegagalan itu ditonton banyak orang. Bukan hanya sekelas, tapi kelas lain pun suka ikut nonton. Apalagi kalau ciwi yang kita taksir ada di sana, bisa jadi bukan hanya malu yang dirasa, tapi kita jadi terlihat konyol dan lemah :D

Kecuali renang deh, alasannya selain kolam laki-laki dan perempuan dipisah, juga karena dari sekian banyak lelaki yang ikut ternyata banyak yang tidak bisa renang atau cuma berani di kedalaman 1 meter, supaya kalau tenggelam kaki masih bisa napak.

4. Razia rambut

Kejadian ini paling sering dialami karena kegiatannya dilakukan rutin mingguan atau dwi mingguan, dan korbannya adalah siswa laki-laki berambut gondrong. Sepertinya, ukuran gondrong menurut guru bisa dilihat dari apakah rambut siswa sudah menyentuh telinga atau belum. Di luar ukuran itu, rambut yang modelnya aneh-aneh tetap kena razia, termasuk rambut berwarna-warni.

Kalau tidak lupa saya pernah kena razia rambut dua kali. Sebenarnya tak masalah kena razia kalau dipotongnya bagus dan simetris. Tapi kan ini dipotong asal-asalan dan satu sisi saja sehingga menimbulkan efek jingjet. Keadaan tersebut tentu memaksa saya untuk merapikannya ke tukang cukur.

Di luar pakem-pakem sosial yang ada, suatu kejadian dianggap menyenangkan atau tidak itu tergantung dari individu yang mengalaminya. Kejadian tak menyenangkan tak melulu datang dari luar, bisa saja datang akibat dari ulah sendiri. Saya sendiri menganggap empat poin di atas memang kejadian tidak menyenangkan yang datang dari diri sendiri, tapi masih dalam taraf amateur sih.

Tapi jangan salah, kejadian tak menyenangkan pada masa lalu bisa menjadi kenangan indah pada masa mendatang, dan bisa menjadi momen paling diingat sepanjang hidup. Contohnya ya tulisan ini :D

Jika dari sidang pembaca ada yang pernah mengalami kejadian serupa atau ada pengalaman lain, boleh dong corat-coret di kolom komentar. Wassalam.

1/09/2018

Belajar Fotografi Ponsel

Sekira mulai akhir tahun lalu saya cukup gandrung dengan hal ihwal fotografi. Meski sebenarnya fotografi bukan hal baru bagi saya, karena semasa ngampus pernah mempelajari mata kuliah fotografi, baik fotografi umum maupun foto jurnalistik.

Namun, agaknya dulu saya tak begitu meminati dunia fotografi, bisa dibilang saya lebih ke videografi. Selain karena kurang minat juga karena faktor tidak punya kamera. Bahkan kamera ponsel pun tidak punya sebab kala itu saya masih setia dengan hengpong jadul :D

Setelah lulus kuliah, saya disibukan dengan pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan fotografi, maka semakin jauhlah saya dari dunia fotografi. Namun, entah kesurupan apa saya mendadak suka popotoan (bukan swa foto) dan berhasrat mempelajari kembali fotografi.

Dimulai dengan niat dan keterbatasan alat (budget tepatnya), saya gunakan kamera ponsel, toh untuk sekadar hobi atau untuk diunggah via internet kualitas gambarnya tak begitu mengecewakan. Karena pernah ada yang bilang (entah siapa) bahwa selain kamera, fotograferlah yang berperan terhadap kualitas sebuah gambar.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja mencari-cari objek foto atau menyetting suatu keadaan agar layak untuk difoto, melainkan ketika di sekitar saya ada objek yang menarik, maka akan saya abadikan. Sehingga foto-foto hasil jepretan saya didominasi foto candid, dengan objek suasana jalanan, tumbuhan, pedagang, dan sebagainya. Hasil jepretan saya bisa dilihat di akun Instagram @aiderazak.

Belajar Fotografi Ponsel, angle, panjalu, momen, situ lengkong, penangkap ikan
Seorang penangkap ikan di Situ Lengkong, Panjalu. Salah satu foto hasil jepretan saya menggunakan ponsel Nokia - Dok. Pribadi

Terkait memotret menggunakan ponsel, saya coba Googling apakah ada istilah fotografi ponsel, dengan harapan saya menemukan pembahasan seperti halnya mengenai jurnalistik media cetak, jurnalistik radio, jurnalistik televisi, jurnalistik online, dan jurnalistik foto. Hasilnya? tidak ada :D

Belum saya temukan definisi shahih mengenai fotografi ponsel dari pakar atau ahli fotografi. Sederhananya menurut saya, fotografi ponsel adalah proses fotografi dengan menggunakan kamera ponsel. Boleh setuju atau tidak ya :D

Tapi setidaknya saya menemukan beberapa blog yang membahas fotografi bermediakan ponsel, yang tentunya bagai oase di tengah gurun (lebay gak sih?). Berikut saya kutip poin-poin penting dari blog yang saya temui:

1. Pencahayaan

Untuk mendapatkan hasil gambar yang cerah dan jelas, usahakan posisi objek foto tidak melawan arah cahaya. Kecuali jika kamu ingin mendapatkan hasil gambar berupa siluet.

2. Fokus dan Kestabilan

Fokus kamera tentu akan memengaruhi kualitas gambar. Jika terjadi blur, ketuk layar ponsel (jika menggunakan HP android) agar kamera benar-benar fokus. Fokus dipengaruhi pula oleh kestabilan tangan saat memegang ponsel, usahakan jangan goyang ketika pengambilan gambar. 

3. Hindari Zoom Digital

Zoom digital akan memengaruhi kualitas gambar, karenanya jika ingin mendapatkan objek foto secara detil usahakan memotret dari jarak dekat.

4. Momen dan Sudut Pandang

Sebuah foto yang bagus haruslah memiliki makna di dalamnya, momen adalah unsur penting yang membuat sebuah foto jadi bermakna, tanpa momen yang tepat sebuah foto akan terasa biasa saja. Maka pengambilan gambar harus dilakukan pada waktu yang tepat, lebih dari itu momen yang tepat akan membuat gambar terasa hidup. Selain momen, sudut pandang atau angle juga memengaruhi makna dari sebuah foto. Sudut pengambilan gambar seringkali diindahkan, padahal jika diambil dari sudut yang tepat foto akan terlihat lebih "mahal".

5. Editing Sederhana

Jika diperlukan, edit hasil foto sesederhana mungkin. Editing bisa berupa cropping jika dirasa komposisi foto kurang seimbang. Atau dengan menambahkan filter agar foto terlihat lebih cerah, redup, atau hitam-putih.

Setidaknya itulah poin-poin yang menurut saya perlu diperhatikan perihal memotret menggunakan ponsel. Selain juga kita harus memerhatikan aspek teknis seperti memastikan lensa kamera bersih dari debu atau uap, mengingat ponsel sering keluar masuk saku. Serta gunakan resolusi tinggi dan kenali aplikasi kamera ponsel yang kamu gunakan, biasanya kalau ponsel bagus memiliki mode-mode pengambilan gambar khusus, mode panorama misalnya.

Selebihnya kamu bisa pelajari komposisi, angle, momen, dan hal ihwal fotografi lainnya secara lebih komprehensif melalui buku, artikel atau diskusi di forum-forum daring. Terpenting adalah perbanyak praktek :)

Semoga saja dengan mulai mempelajari (lagi) fotografi, Tuhan mengijinkan saya untuk memiliki kamera foto beneran. Dan apakah ini adalah sebuah pertanda sekaligus jalan pembuka bagi saya untuk berkarir di dunia yang saya pelajari selama empat tahun? Kita lihat ke depannya :D

Jika ada yang salah dalam postingan ini atau ingin menambahkan, sila sampaikan di kolom komentar ya. Wassalam.

11/26/2017

Perpanjang STNK Tahunan di Samsat Outlet Ladies

Sebagai warga negara yang baik, tiap November saya rutin membayar pajak atau perpanjang STNK motor. Kadaluarsanya sih tanggal 17, tapi saya selalu bayar beberapa hari sebelumnya. Termasuk pajak untuk tahun ini saya bayar tanggal 15, sehari setelah jadwal operasi zebra usai.

Meskipun berkas yang dibutuhkan untuk perpanjangan STNK tahunan katanya hanya KTP dan STNK, demi jaga-jaga saya persiapkan segala sesuatu mulai dari KTP, STNK, hingga BPKB, asli dan foto copy.

Niatan awalnya saya mau perpanjang di Samsat Rancaekek, tapi karena pagi itu cuaca gerimis mengundang, saya putuskan untuk coba perpanjang STNK di Samsat Outlet Ladies Bandung Timur yang ada di kawasan Ruko Tritan Point, Cipadung. Selain karena faktor jarak yang tak terlalu jauh dari rumah, juga sepertinya di sana tak pernah terlihat terjadi antrean yang ekstrim.

Karena namanya Samsat Outlet Ladies, konon kabarnya semua petugas di sana adalah wanita. Sangat Cukup menarik.

Sebelum berangkat, saya searching dulu via Google Maps mengenai jadwal buka-tutup Samsat Outlet Ladies tersebut. Tayangan Google menyatakan bahwa jam operasi Samsat Outlet Ladies adalah pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Saya memutuskan berangkat dari rumah pukul delapan pas, biar tidak kelihatan ngebet banget ingin bayar pajak. Sekira 15 menit kemudian saya sampai di lokasi. Motor pun saya parkirkan tepat di depan gedungnya.

Ketika hendak masuk ruangan saya disambut oleh seorang petugas. Beliau menyambut dengan sapaan khas front office, dilanjut dengan pertanyaan "Mau perpanjangan?". Lalu saya jawab "Mau bayar pajak tahunan", karena kalau dijawab "iya" saja takut salah paham.

Petugas pun meminta KTP dan STNK asli untuk selanjutnya diproses di Loket 1 (Pendaftaran, Penetapan, Pengesahan). Sedangkan saya dipersilakan duduk menunggu panggilan.

Selang 10 menit nama saya dipanggil oleh petugas Loket 2 (Pembayaran & Penyerahan) atau kasir bank, dan saya diberitahu besaran pajak yang harus dibayar. Setelah membayar, saya pun bisa memboyong KTP, dan STNK yang sudah divalidasi (termasuk lembar Surat Ketetapan Pajak Daerah atau SKPD) kembali ke habitatnya.

Perpanjang STNK Tahunan di Samsat Outlet Ladies, bandung timur, bayar pajak, samsat
Samsat Outlet Ladies Bandung Timur - Dok. Pribadi

Sesuai namanya, semua petugas yang ada di Samsat Outlet Ladies adalah ladies, tidak ada gentlemen, mulai dari petugas yang jaga pintu hingga kasir bank. Jadi bisa saya tegaskan bahwa embel-embel ladies di sana bukanlah isapan jempol belaka.

Sebagai informasi, Samsat Outlet Ladies Bandung Timur buka hari Senin sampai Sabtu, mulai pukul 08.00-15.00 WIB, tapi pendaftaran ditutup pukul 14.30 WIB. Khusus hari Sabtu, Samsat tutup pukul 11.00 WIB.

Samsat Outlet Ladies Bandung Timur pun sepertinya hanya menerima perpanjang STNK tahunan mencakup PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), SWDKLLJ (Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan), dan pengesahan STNK tahunan. Untuk lima tahunan tetap harus ke Samsat asli.

Dari pengalaman perpanjang STNK tahunan di Samsat Outlet Ladies Bandung Timur, saya memiliki  kesimpulan sebagai berikut :

  1. Syarat perpanjang STNK tahunan di sana hanya KTP dan STNK asli, keduanya harus atas nama yang sama.
  2. Pelayanan di Samsat Outlet Ladies Bandung Timur terbilang cekatan.
  3. Prosedur perpanjang STNK tahunan di Samsat Outlet Ladies Bandung Timur terbilang cukup sederhana. Tinggal memberikan KTP dan STNK asli, kita tinggal menunggu panggilan untuk pembayaran.

Intinya, perpanjang STNK di Samsat Outlet Bandung Timur itu Mudah, Cepat, dan Bebas Calo. Begitulah pengalaman saya perpanjang STNK di Samsat Outlet Ladies Bandung Timur. Wassalam.

11/07/2017

Cuanki, Mang Daeng, dan Carlton Cole

Cuanki, Cuangki, Chuanky bagaimana pun redaksi penulisannya tetap merujuk pada satu makanan berkuah gurih yang beranggotakan siomay, tahu, dan baso (serta Indomie). Kata cuanki itu sendiri terdengar seperti serapan dari bahasa Cina. Namun konon katanya Cuanki merupakan akronim dari "Cari Uang Jalan Kaki". Meski belum terbukti kebenarannya sih.

Entah siapa pencetus, kapan, dan dimana asal mula Cuanki. Sampai saat ini saya masih berkesimpulan bahwa Cuanki berasal dari Garut. Selain karena kebanyakan pedagangnya berasal dari kota berjuluk Swiss van Java tersebut, juga karena brand atau embel-embel yang kerap menghiasi pikulan dagangan mereka, "asgar" akronim dari Asli Garut, ada juga yang mengartikan Asal Garut.

Rasa Cuanki terkenal sangat gurih, tak pelak hal ini melahirkan kontroversi karena penggunaan bumbu penyedap yang dinilai berlebihan. Tapi anehnya, kebanyakan rasa Cuanki zaman now yang saya cicipi bercitarasa hambar, istilah sunda na mah cawerang. Asin, manis, gurihnya teu kaditu teu kadieu.

Namun, semua berubah ketika Mang Daeng datang menghadirkan cita rasa Cuanki yang telah lama hilang. Pria asal Limbangan, Garut ini sudah beberapa tahun ngontrak di dekat rumah saya. Sudah memenuhi syarat untuk dinaturalisasi pokona mah.

Entah apa rahasianya, yang jelas cita rasa Cuanki Mang Daeng itu cuanki banget. Meski terkadang siomaynya bau kompor pareum (minyak tanah). Tapi itu tak terlalu mengganggu lidah, anggap saja itu ciri khasnya. Tapi saya pribadi sering kali membeli Cuanki tanpa siomay, cukup tahu dan baso saja.

Cuanki, Mang Daeng, dan Carlton Cole, cuanki asgar, baso garut
Mang Daeng ketika menyajikan seporsi Cuanki. Eta Carlton Cole nanaonan? - Dok. Pribadi

Meskipun asli Garut, Mang Daeng merupakan pendukung Persib alias Bobotoh (karena untuk dukung Persigar Garut rasanya sulit). Maka setiap saya membeli cuankinya obrolan tentang Persib hingga sepakbola nasional tak pernah luput. Termasuk gagal moncernya mantan striker Westham United, Carlton Cole bersama skuad Maung Bandung (supaya nyambung sama judul aja sih).

Berbicara mengenai Carlton Cole dan Persib, kita dapat memetik satu pelajaran bahwa label WAAAAH dan harga yang mahal tak menjamin kualitas dari sebuah produk. Termasuk Cuanki Mang Daeng, meskipun harganya murah, lima rebu ge wareg, tapi rasanya berani diadukeun jeung Domba Garut.

Kini Cuanki Mang Daeng masih menjadi primadona di kampung saya dan warga Komplek Cibiru Raya. Sehingga beliau tak pernah terlihat ngider jauh-jauh, cukup keliling 2 sampai 3 RT dan sesekali masuk komplek, dagangannya sudah ludes. Itu cukup membuktikan bahwa Cuanki Mang Daeng masuk jajaran Cuanki terbaik, setidaknya di wilayah Cibiru Wetan hingga Cinunuk.

Dulu, waktu saya kecil, sebelum ada Mang Daeng tentunya, Emak tak pernah mengabulkan rengekan saya yang kepingin beli Cuanki.

"Ulah, eta mah daging bangkong," ucapnya.

Mendengar ucapan tersebut saya percaya-percaya saja. Bahkan saya berasumsi bahwa bangkongnya disimpan dalam kotak rahasia yang biasanya menggantung di sisi panci, yang ternyata itu cuma wadah cadangan air untuk kuah Cuanki.

Apakah kamu punya kenangan tersendiri bersama Cuanki, pedagang Cuanki, atau apa pun berbau Cuanki? Jika ada silakan coret di kolom komentar. Wassalam.

*NOTE: Tulisan ini murni atas kehendak dan inisiatif saya sendiri, bukan atas request dari siapa pun, tanpa imbalan apa pun :D

Simpang Siur Masa Berlaku E-KTP

Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau E-KTP keluaran terbaru tidak memiliki masa berlaku alias berlaku seumur hidup bagi si pemilik. Tentu inovasi ini menguntungkan bagi warga negara Indonesia karena tidak harus bolak-balik dari tingkat RT hingga Kecamatan untuk memperpanjang KTP ketika masa berlakunya habis (kecuali ada perubahan data).

Namun, apa kabar dengan pemilik E-KTP versi beta atau keluaran pertama? Dimana dalam E-KTP lama masih tertera masa berlaku sebagaimana KTP konvensional. Awalnya saya merasa ada ketidakadilan di sini, karena saya (mungkin kamu juga) sebagai pemilik E-KTP jilid 1 dirugikan oleh sistem yang berubah-ubah.

Ketika awal-awal ramai E-KTP, dalam benak saya, bentuk E-KTP akan seperti kartu ATM yang memiliki garis hitam di bagian belakang atau memiliki semacam Barcode, QR-Code, atau yang sejenisnya yang bisa digunakan untuk suatu hal. Nyatanya, bentuk E-KTP memang mirip kartu ATM namun tak seperti yang saya bayangkan. Ini lebih ke ganti bahan saja.

Tapi saya tetap berhusnudzon, barangkali data-data kita telah ditanam di dalam kartu tersebut, entah menggunakan teknologi nano atau apalah yang penting husnudzon saja judulnya.

Penerbitan E-KTP sempat dihentikan karena alasan tertentu. Namun setelah dimulai kembali, terdapat perbedaan format, yang awalnya masih memiliki masa berlaku, kini menjadi seumur hidup tanpa memandang usia pemilik E-KTP.

"Lho kok kamu seumur hidup, saya tidak? Wah... tidak enak di saya dong masih harus uras-urus KTP lagi."

Tentu kasus ini dikhawatirkan menimbulkan kecemburuan sosial. Di lain sisi juga mencerminkan sikap pemerintah yang antara tidak konsisten dengan keputusan sendiri atau program E-KTP memang belum dipersiapkan secara matang.

Tapi alangkah baiknya kita lagi-lagi harus berhusnudzon. Karena khawatir kalau curhat macam-macam nanti tercyduck. Sekarang kan lagi musim. Apalagi sekarang pembahasan mengenai E-KTP semakin sensitif, sebab terindikasi ada korupsi berjamaah di belakang proyek ini.

Sebenarnya, pembahasan mengenai masa berlaku E-KTP sudah bukan hal baru. Poin-poin dalam tulisan ini pun sudah saya buat beberapa bulan lalu. Hanya saja saya lupa memposting tulisan ini. Namun tak ada salahnya tetap saya posting, barangkali ada yang belum tahu.

Inti tulisan ini sebenarnya hanya ingin menyampaikan bahwa E-KTP yang terbit sejak 2011 hingga sekarang, masa berlakunya adalah SEUMUR HIDUP, meski dalam kartu masih tercantum masa berlaku. E-KTP saya sendiri harusnya habis pertengahan tahun 2017 (Ga ada yg nanya ya?).

Berikut surat edaran dari pemerintah tertanda Mendagri yg saya dapat dari pihak Desa Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung.

E-KTP Berlaku Seumur Hidup, masa berlaku e-ktp, ktp elektronik
Surat Edaran perihal masa berlaku E-KTP tertanda Mendagri - Dok. Desa Cinunuk

Dengan adanya surat tersebut, jelas sudah bahwa masa berlaku E-KTP adalah seumur hidup. Alhamdulillah. Namun agaknya masalah mengenai E-KTP masih akan berlanjut selama ada masyarakat yang E-KTPnya tak kunjung jadi, juga segala kasus yang membuntuti proyek ini belum terselesaikan. Kita do'akan saja, semoga permasalahan E-KTP segera tuntas. Wassalam.

10/30/2017

Bayar Denda Tilang di Tempat, Apakah Sah?

Kamis, 19 Oktober 2017, sekira pukul 10.00 WIB, untuk pertama kalinya saya terjaring operasi Polisi lalu lintas alias kena tilang. Tepatnya di depan SPBU Cikadut, sebelum Polsek Antapani (jalan antara Sukamiskin-Cicaheum) orang Bandung Timur pasti hafal daerah yang memang rawan tilang ini.

Bayar Denda Tilang di Tempat, Apakah Sah?
Polisi memegang surat tilang saat sosialisasi Operasi Simpatik Lodaya, 1 Maret 2016, di Jalan Merdeka, Bandung, Jawa Barat. - Dok. TEMPO

Di pagi menjelang siang yang cukup terik itu, saya dengan santai mengendarai sepeda motor. Tetiba saya lihat dari kejauhan ada polisi berdiri di tengah jalan, tepat di jalur yang saya lalui. Beliau memberikan isyarat dengan tangan gerak nyomot-nyomot ke depan (tau bentuk tangan Younglex di meme 'bang makan bang' kan?) yang berarti terjadi masalah pada lampu motor saya.

Setelah kian dekat, beliau menyuruh saya menepikan kendaraan. Kronologi selanjutnya akan saya sajikan dalam bentuk (sebut saja) dialog berikut:

Pakpol (P): "Siang. Lampunya mati." dengan dialek medoknya.
Saya (S): (Tengok saklar nyala... tengok lampu spaneng...)
P: "Mana SIM sama STNK!"

Saya keluarkanlah dua dokumen penting tersebut untuk selanjutnya diserahkan pada beliau.

P: "Sudah tau kesalahannya?"
S: "Lampunya nyala pak" sambil menunjuk ke lampu yang memang udah lemah.
P: "Nyala dari mana? Masuk ke pos!"
S: "Dimana?"
P: "Depan Yongmaret."

Hah? Yongmaret? Karena tidak jelas saya kembali bertanya.

S: "Dimana pak?"
P: "Itu di Yongmaret" sambil nunjuk Minimarket 'Yomart' -_-

Motor pun saya parkirkan depan Yomart. Tak berselang lama, polisi yang tadi nilang menghampiri saya bersama 'tersangka' lainnya dan menggiring kami ke Pos Polisi :D

P: "Mau sidang atau diproses polsek terdekat (Polsek Antapani)?"
S: "Bedanya apa?"
P: "Kalau sidang nanti ke Jalan Jakarta, bulan depan... hhmmm... tanggal 3" mata beliau menerawang ke angkasa raya yang mungkin dihuni makhluk terestrial. "Kalau di sini kamu bayar denda 100 ribu, STNK sama SIM langsung balik" lanjutnya sambil memamerkan daftar harga denda per pelanggaran.
S: "Kalau sidang tetap bayar denda?"
P: "Ya sarua (sama) bayar."

Satu 'tersangka' sebelah saya mencoba memelas agar diberi keringanan, tapi dia malah dibentak Pakpol.

P: "Kamu ga punya SIM, STNK juga mati, mau minta keringanan?" bentak Pakpol pada pria malang yang tak diketahui namanya itu.

P: "Gimana? Sidang atau proses di sini?" sambil nunjuk ke Gedung Polsek Antapani. "Terserah, mau sidang atau di sini, mun sidang ada waktu ga? Terserah kamu." lanjutnya.
S: "Yaudah di sini aja."
P: "Kesini ikut saya!" sambil nyelonong mengajak saya masuk ke sebuah kios gorengan yang tak jauh dari Pos Polisi.

Di dalam kios beliau mencatat pelanggaran saya dalam selembar surat tilang warna merah. Sambil menunggu beliau menulis, saya pun mengajak beliau ngobrol ngalér-ngidul. Mulai dari hal formal mengenai pengurusan STNK hingga hal bersifat pribadi.

Setelah beliau selesai menulis, saya diminta menandatangani surat tilang tersebut. Saya pun dengan mudahnya membubuhkan tandatangan.

P: "Mana?" sambil menadahkan tangan.

What the...? Kirai beneran diproses di kantor. Ternyata di kios gorengan :D

S: "Harus segitu ya pak?"
P: "Iya, saya mah tidak mengada-ada" sembari kembali memamerkan daftar harga denda.

Dengan tidak ikhlas saya memberikan uang 100 ribu kepada beliau. Untungnya SIM dan STNK pun kembali dalam genggaman saya (apanya yang untung?). Sekilas saya lihat mantan uang saya beliau hekter ke surat tilangnya.

S: "Sudah pak?"
P: "Iya." pungkas beliau sambil menjabat tangan saya.

S: "Bapak senang?" pertanyaan fiktif.

Saya pun melanjutkan perjalanan, melaksanakan kewajiban mencari nafkah untuk anak dan istri di rumah. Meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Apakah uang saya tadi dijamin masuk kas negara? Apakah prosedur tilang yang tadi saya lalui itu sah? Jangan-jangan saya dikibuli. Maklum, masih newbie.

Karena penasaran, di perjalanan saya sempatkan searching via internet mengenai prosedur tilang, mulai dari penyebab hingga cara penyelesaiannya. Dan yang saya temui ternyata banyak versi. Ada yang membenarkan prosedur yang tadi saya lalui, namun ada pula yang menyatakan bahwa itu ilegal.

Entah mana yang benar, yang pasti saya berharap uang denda tersebut masuk ke kas negara. Namun bila uang tersebut masuk ke kantong Pakpol yang terhormat, saya hanya bisa mengucapkan "semoga mendapat azab dari-Nya" hahaha (ketawa jahat).

Kalau di antara sidang pembaca ada yang mengalami hal serupa, atau paham masalah tilang menilang, silakan corat-coret di kolom komentar. Wassalam.

*NOTE: Setelah pulang dari perjalanan melelahkan tersebut. Lampu motor saya nyala lagi, dan sampai sekarang sehat wal afiat... Alhamdulillah... Hadewh rugi cepé -_-

10/24/2017

Pesepakbola Indonesia di Brunei Darussalam

Kabar luar biasa namun bukan hal asing bagi kita mendengar ada pesepakbola Indonesia bermain di klub luar negeri. Sebab meskipun ada, tapi tak banyak pesepakbola Indonesia yang dapat mencicipi pengalaman tersebut.

Beberapa di antara sekian pesepakbola itu adalah Kurniawan Dwi Yulianto yang pernah berseragam FC Luzern (Swiss), dan Sarawak FA (Malaysia), Ricky Yacobi yang pernah memperkuat Matsushita FC (kini bernama Gamba Osaka), Rochy Putiray yang malang melintang di liga Hongkong, Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy di Selangor FA (Malaysia), serta pemain lainnya yang belum saya sebutkan atau bahkan belum saya ketahui.

Ada juga yang belum terlalu lama, kita sudah tau bahwa Andik Vermansyah main di negara tetangga, Victor Igbonefo juga main di luar. begitu pun bakat-bakat muda kita banyak yang menimba ilmu di luar negeri. Kabar terbaru bintang-bintang muda macam Evan Dimas, Febri Hariyadi, dan Egi Maulana Vikri dilirik sejumlah klub luar negeri. 

Dalam benak kita, pemain Indonesia yang bermain di luar negeri merupakan pemain top berlabel timnas, atau paling tidak sosoknya tenar di kalangan pecinta sepakbola nasional. Namun pernahkan terpikir oleh kamu bahwa pemain non-tenar Indonesia ternyata ada juga yang main di klub luar negeri, ya meski klub dan negara tersebut tak begitu memiliki nama dalam percaturan sepakbola kawasan.

Satu dari sekian pesepakbola Indonesia yang bermain di luar negeri itu bernama Agus Haryono. Familiarkah dengan nama tersebut? Tentu ini bukan Haryono pemain Persib Bandung, meski keduanya sama-sama bermain di posisi midfielder.

Agus Haryono, Pesepakbola Indonesia di Brunei Darussalam, Wijaya FC
Pemain Wijaya FC Agus Haryono (Jersey Biru) kecewa setelah gagal menuntaskan peluang gol saat melawan Jerudong FC di Berakas Sports Complex - Dok. nfabd.org

Sedikit bahkan hampir tidak ada media nasional yang memberitakan pemain kelahiran 10 Agustus 1989 ini. Saya mengetahui nama Agus Haryono pun ketika menjelajahi laman wikipedia saat mencari informasi mengenai sepakbola lokal Brunei Darussalam. Di salah satu laman yang memuat informasi klub bernama Wijaya FC, terselip nama khas Indonesia tersebut dengan bendera Indonesia di sampingnya yang menandakan negara asalnya.

Saya pun tak menyangka, ternyata ada juga pesepakbola Indonesia yang bermain di klub peserta liga Brunei Darussalam.

Mendapati hal tersebut saya langsung gencar mencari informasi mengenai pemain satu ini. Mulai dari laman NFABD (PSSI-nya Brunei), laman-laman berita lokal, hingga situs-situs data sepakbola mancanegara saya jelajahi. Sayangnya, dari upaya tersebut hanya sedikit informasi yang didapat. Saat tulisan ini diposting, Agus Haryono masih menjadi bagian dari skuad Wijaya FC, dan berdasarkan penelusuran dari berbagai laman berita yang ada di Brunei Darusalam, pemain ini cukup rajin mencetak gol.

Setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata bukan hanya Agus Haryono lah pesepakbola Indonesia yang bermain di Brunei Darussalam. Ada nama Sigit Prasetia yang juga berposisi sebagai midfielder.

Dibanding Agus Haryono, data mengenai Sigit Prasetia amatlah sulit ditelusuri. Hanya laman worldfootball.com yang menyajikan sekilas informasi yang menyatakan bahwa Sigit Prasetia lahir pada 18 Juli 1986, dan tercatat pernah satu tim bersama Agus Haryono memperkuat klub yang bermarkas di Stadion Padang dan Balapan, Bandar Seri Begawan tersebut.

Mengenai kiprah dan riwayat sepakbola keduanya, saya kesulitan untuk menemukan data akurat, kedua pemain ini pun tak terdaftar di situs transfermarkt.com. Sehingga saya rasa kiprah keduanya cukup sulit ditelusuri jika hanya mengandalkan internet. Jika ada sidang pembaca yang memiliki koreksi atau informasi tambahan, sila coret di kolom komentar. Wassalam.