Sunday, August 28, 2016

Masih Adakah?

Jika aku ke rumahmu,
Masih adakah segelas kopi?
Yang wangi dan manis.

Aku bertanya begini karena tau,
Jika redaksinya "masih adakah hati?"
Jawabnya pasti sudah habis.

(Agustus 2016)

Sunday, August 14, 2016

Lima Besar Pencarian di Google Earth

Google Earth? Kamu yang membaca blog ini tentu pernah membukanya atau setidaknya tahu Google Earth itu benda macam apa. Bentuknya bulat, ditusuk bisa - dibungkus plastik juga bisa, diguyur bumbu kacang tambah nikmat.

Sudah bukan rahasia bahwa Google Earth turut berperan dalam berbagai hal, salah satunya adalah membantu mencari jalan ketika kita tersesat di Bumi. Google Earth adalah layanan pemetaan yang memberikan citra satelit, sehingga memungkinkan penggunanya melihat sudut-sudut Bumi secara nyata hasil foto udara atau citra satelit (sejenis atlas tanpa batas).

Lalu apa bedanya Google Earth dengan Google Maps? Menurut saya, secara hakikat keduanya sama saja menampilkan peta, bedanya kalau Earth menyajikan peta berdasarkan citra satelit sehingga mirip dengan kondisi nyata ketika citra tersebut diambil, Earth juga menyajikan citra Bulan, Mars, dan jagat raya. Sedangkan Maps menyajikan peta bumi berupa gambar grafis.

Perbedaan lainnya yakni jika untuk mengakses Earth kita harus mengunduh programnya terlebih dahulu, sedangkan Maps bisa diakses langsung dari Google.

Simpan dulu perkara definisi dan perbedaan, karena di sini saya merangkum lima besar pencarian ketika membuka Google Earth, antara lain:

1. Rumah sendiri

Entah apa yang menjadi motivasi orang-orang yang mencari rumah sendiri ketika membuka Google Earth. Apakah mereka tidak tahu jalan pulang? Entahlah, coba tanya pada rumpun bambu yang berbisik merdu, mengusik hati yang pilu.

2. Tempat yang akan (angan) dikunjungi

Pencarian yang satu ini terhitung wajar, karena sebelum pergi ke suatu tempat kita harus mengetahui situasi-kondisi tempat yang akan kita kunjungi. Salah satunya dengan survey melalui Google Earth.

Atau, kelakuan ini muncul ketika kita merasakan adanya getaran kemustahilan mengunjungi suatu tempat. Karenanya, Google Earth dijadikan sebagai sarana pelampias dahaga untuk mengunjungi destinasi meski melalui angan yang fana.

3. Tempat yang pernah dikunjungi

Poin ketiga adalah kebalikan dari poin kedua. Biasanya hal ini dilakukan ketika seseorang baru saja mengunjungi suatu tempat. Setelah mencari via Google Earth, dan menemukan tempat yang baru dikunjungi, ia akan bergumam "Oh ternyata tadi saya ada di tempat ini ya...".

Selain itu, kelakuan ini juga muncul ketika kumpul-kumpul bersama teman (di kosan misalnya), "Guys.. guys! Gue pernah ke tempat ini lho..." (Sambil nunjuk lokasi Pulau Nusa Kambangan, yang mungkin ia kira Pantai Pangandaran).

4. Perbatasan negara beserta isinya

Bisa jadi karena rasa ingin tahu yang tinggi, bisa juga karena sentimen antar negeri. Mengintip batas negara kita dengan negara tetangga juga sering dilakukan para Google Earth Mania (supporter klub bola mana tuh?). Pencarian macam ini sebenarnya juga sering saya lakukan. Niatnya untuk mengontrol patok batas negara, takutnya ada yang geser.

Seperti diketahui Indonesia adalah negara yang cukup luas, terdiri dari ribuan pulau (mungkin), dengan kurang lebih setengahnya berupa perairan. Maka dari itu perbatasan negara tidak begitu jelas dan rawan, sehingga berpotensi mengundang sengketa.

Contoh yang telah ada; kasus blok Ambalat, Sipadan-Ligitan, hingga Natuna dan Laut Cina Selatan. Belum lagi dengan nelayan kita yang kebablasan mancing sampai Australia (katanya).

Oleh karena itu, hati saya tergerak untuk menjaga patok batas negara agar tetap di tempatnya. Selanjutnya muncul pertanyaan,  "Emang patoknya kelihatan? Kalau nyatanya kelihatan, dan ada yang mau geserin situ bisa hadang?"

Selain batasnya, jeroan negara tetangga juga sering dikunjungi. Malaysia, Singapura, Brunei, Timor leste, Papua Nugini, hingga Filipina, sudah tidak asing bagi orang-orang ini. Merlion, Stadion Marina Bay, Menara Kembar, kondisi geografis Sabah yang mirip kepala Anjing, dan lain-lain, tentu sudah terjamahi.

5. Tempat asing, populer, dan wilayah sengketa

Pencarian yang terakhir adalah mengintip tempat-tempat asing dan populer. Kutub Utara dan Kutub Selatan sudah pasti. Selain kutub, tempat-tempat seperti Samudra Pasifik yang membentang luas dengan negara-negaranya yang berserakkan, keajaiban dunia macam Tembok Cina yang tak jelas mana pangkal dan ujungnya pun termasuk.

Pulau Christmas yang ternyata lebih dekat ke Jawa Barat ketimbang ke Australia, Pulau Cocos milik Australia yang konon penduduknya berbahasa melayu, beragama muslim, dan nonton saluran TV Indonesia  juga memiliki daya tarik tersendiri.

Pun dengan, negara-negara yang sering dijadikan  bahan jokes seperti Zimbabwe, Kongo, Uganda, dan rekan-rekannya, juga segitiga bermuda pun masuk dalam draft pencarian.

Selain tempat yang disebutkan di atas, wilayah sengketa pun memiliki daya magnet yang cukup kuat. Yang paling populer tentu wilayah Palestina-Israel. Bahkan akhir-akhir ini jagat internet dihebohkan dengan ketiadaan Palestina dari Google Maps/Earth.

Demikianlah lima besar pencarian di Google Earth versi saya. Terlepas dari lima poin yang keabsahannya masih diragukan, bagi sebagian besar orang kehadiran Google Earth membuat dunia terasa lebih kecil, tapi bagi orang-orang yang berpikir, Google Earth justru menyadarkan bahwa betapa kecilnya kita. Wassalam.

Sunday, July 10, 2016

Ba'da Ramadan

Ya Tuhan tempat bermuara segala pujian.

Maafkan hamba yang sering melupakan. Jangankan mengejar seribu bulan, hamba malah membiarkan Ramadan berlalu tanpa kesan.

Puasa yang hamba lakukan seolah tak berarti, karena kami masih merawati penyakit hati; iri, dengki, nafsu dan emosi yang tak terkendali, seakan menetap enggan pergi.

Mendirikan salat hanya sebagai penggugur kewajiban. Mengasyikan diri dengan buku-buku picisan, sedang Quran terasing di pojokan.

Ya Tuhan pencipta semesta alam.

Apakah pertaubatan akan berujung penerimaan? Dikala hamba terus mengingkari ketetapan.

10-07-16

Friday, July 8, 2016

Ideal

Di sini aku sedang menyaksikan, kamu
yang menyaksikan kebahagiaan dia yang kamu nantikan.

Entah lelucon macam apa, ketika aku menantimu, kamu menantinya, sedang dia memiliki penantian yang lain.

Sungguh ideal jika merelakan dia bersamanya. Dan kamu menerima orang yang punya lebih dari sekadar bujuk rayu. Aku.

Sayangnya, dunia ini selalu diwarnai perkara yang tak ideal. Seperti kita, yang betah terkungkung dalam do'a (entah) khayal.

07-07-16

Wednesday, June 29, 2016

Pengabaian

Sejak dua dadu jatuh dari kocokan sloki, mereka berputar, bergulir liar di atas papan pengundi nasib. Entah kombinasi titik apa yang akan menyapa, aku tak dapat memastikan, dan aku tak mau berjudi dengan harap yang menginginkan kombinasi titik dua dan satu, membawaku ke masa di mana terciptanya asa yang menggebu.

Jika saja kembali ke saat itu, aku akan menghindarimu, aku tak akan mendatangi takdir Tuhan. Sehingga dalam hidupku -entah dalam hidupmu- tak akan ada pertemuan yang menjadi candu.

Tapi dadu memberikan kombinasi titik dua dan lima, membawaku tepat ke hari di mana aku sedang bermain dadu, seraya berusaha mengabaikan destinasiku.

Pengabaian

Memang, sejak awal aku tak pernah berharap denganmu ada pertemuan-pertemuan, tapi kuasa-Nya lah yang maha menyeting waktu, tempat, dan suasana yang begitu menyenangkan.

Maka dari itu, tak ada alasan pula untukku berpilu, karena bertemu denganmu bukan hal yang diimpikan. Meski tak kunafikan di sebalik dadaku ada lubang menganga semenjak kau abaikan.

25 Juni 2016

Wednesday, June 22, 2016

Dispersi Kardiomiopati

Semangkuk penyesalan tengah aku paksa memenuhi tenggorokan sebagai perayaan kepergianmu di lain pelukan. Sendiri, meresapi manis yang menguap sebelum tertelan. Membaca satu per satu kebahagiaanmu kini bersamanya, mensyukuri sedikit senyum yang pernah ada.

Waktu yang bersaksi akan sungai deras yang mengalir di pipi, menikmati kecewa bersanding sepi. Sore ini aku ingin minta maaf, bahwa melupakanmu aku belum bisa, dan hatiku masih saja mengeja namamu sebagai satu-satunya rasa.

Dengamu, jatuh cinta adalah patah hati paling sengaja.

Detik memaksa ingatan untuk bertanya. Menagih candu yang dulu begitu mudah aku menerima, kini kabarmu hanya rintihan duka yang menyimpul di batas hampa. Memukul kepalaku, lebam jiwaku.

Ingin aku pergi mencintai ribuan hati, tetapi semua tentangmu masih saja mengitari. Bayangkan, betapa menyedihkan mencintai tanpa kerelaan, sehingga lebih baik aku menikmati sakit hingga batas perpisahan.

Denganmu, jatuh cinta adalah kematian yang tinggal menunggu waktu.

Sekarang senja hanya menyajikan rona derita, membiaskan warna tanpa cerita. Terseret aku memendam lara pada kebisuan dengan air mata bermekaran. Aku masih bisa, aku masih kuat mencintaimu walau sudah sangat jelas yang kau pilih bukan aku.

Bahkan kesibukanku masih saja merajut rindu dan memintal doa untuk kau kenakan, menjagamu tetap hangat walau dari kejauhan. Dengan sangat sadar dan mengerti, pelukannya lebih istimewa dan bukan sekadar mimpi.

Denganmu, jatuh cinta adalah bahagia yang manisnya terpaksa.

Aku mendambamu bagai deru angin yang mengeringkan keringat, nikmati saja kesegarannya biar jemari pasanganmu yang menjadi sapu tangannya. Remuk jantungku, anggaplah biasa. Namun, jika sampai hilang lingkar peluknya, berdebar dan khawatirlah. Sebab dia bukan aku, yang dengan sangat sadar melukai diri untuk tetap mencintaimu.

Sehat-sehatlah selalu, makan teratur, dan tersenyumlah untuk geliat manja di dalam perutmu. Rumahmu akan dihinggapi malaikat, sambutlah dengan suka cita dan rayakan dengan meriahnya doa.

Bahagiakan dia seperti pasanganmu membahagiakanmu, ajari dia cara tertawa seindah sungging senyumanmu. Kelak aku akan menghampiri dia, bercerita tentang betapa susahnya aku mendapatkanmu.

Karena, denganmu, jatuh cinta adalah keikhlasan terpenjara walau kepadaku yang kau sajikan hanya duka lara.

~ Wira Nagara (Distilasi Alkena)

Sunday, June 19, 2016

Dalam Pikiranku II



Dalam pikiranku,

Kau menjelma daun, sedang aku embun
yang sedia mendekapmu di pagi yang dingin.

Aku lahir
sebentuk bulir-bulir rindu
yang perlahan terhempas, memercik,
tergelincir ke tepian waktu
menyisakan buncahan air pilu.

Saat fajar meninggi
Kau masih di sana, sedang aku entah ke mana.

Tapi, percayalah
esok aku akan kembali untuk menemani
dirimu yang kuingin.

~ 18 Juni 2016

Tuesday, June 14, 2016

Keloceh Tuna Asmara

Menurutku, kisah ini tak semestinya diperlakukan seperti air dalam bejana. Bagaimana pun bentuk bejana, entah itu cekung, cembung, atau meliuk, air akan terkungkung mengikutinya. Selayaknya kisah ini ibarat air sungai yang mengalir. Seberapa terjal jurang, sebesar apa pun batu menghadang, ia akan tetap ke hilir.

Kisah ini pun tak sepantasnya diperlakukan seperti pasir dalam genggaman. Semakin digenggam erat, dia akan berjatuhan dan lama kelamaan akan hilang. Lain halnya jika kita mencoba untuk meregangkan genggaman, niscaya pasirnya tidak akan berjatuhan.

Ya... namanya juga hidup, alurnya tak seperti dongeng sebelum mata terkatup. Hidup itu penuh warna dan corak; terang-redup, kasar-halus, tak sekadar menghirup dan mengembus. Pun tak cuma meratapi waktu yang membuat raga kian tergerus.

Bicara soal waktu, awalnya kukira hanya tentang menunggu. Padahal waktu juga bicara tentang mencari. Apa gunanya menunggu yang semu jika kau bisa mendapat yang pasti. Sayangnya, urusan hati tak semudah memakan kerupuk. Karena semakin dalam kau rasa, meninggalkannya akan membuatmu makin terpuruk.

Akhirnya yang harus kau lakukan adalah berikhtiar. Berusaha untuk sabar, meski harus merawati bermacam cabar. Kau juga harus pintar mengelola hati yang sering bergetar.

Selain itu, kau harus terbiasa, disantroni dia dalam bentuk rasa, entah kecewa atau bahagia, yang pasti keduanya berpotensi menggores luka. Atau, kau tergoda cerita baru rasa lama, sebentuk rayu dugaan cinta.

Memang, jatuh hati bukan kesalahan. Tapi ada yang perlu dicamkan, jangan sekali lagi terjerat oleh ikatan semu bernama pacaran. Karena survey membuktikan, pacaran tak selalu berujung pernikahan. Malah menurutku pacaran itu semacam salah satu cabang seni untuk memulai pertengkaran.

Percayalah, bahwa perihnya kekecewaan, jenuhnya penantian, adalah satu dari sekian ujian menuju kedewasaan. Sekarang, waktunya kau, juga aku untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Karena pada hakikatnya segala sesuatu; kelahiran, kehidupan, hingga kematian, itu berasal dari Tuhan.

~

Undzur ma qola, wa laa tandzur man qola.
Kadang tuna asmara lebih bijak dari para pecinta :D