11/07/2017

Cuanki, Mang Daeng, dan Carlton Cole

Cuanki, Cuangki, Chuanky bagaimana pun redaksi tulisannya tetap merujuk pada satu makanan berkuah gurih yang berisi siomay, tahu, dan baso (serta Indomie). Kata cuanki itu sendiri terdengar seperti serapan dari bahasa Cina. Namun konon katanya Cuanki merupakan akronim dari "Cari Uang Jalan Kaki". Meski belum terbukti kebenarannya sih.

Entah siapa pencetus, kapan, dan dimana asal muasal Cuanki. Sampai saat ini saya masih berkesimpulan bahwa Cuanki berasal dari Garut. Selain karena kebanyakan pedagangnya berasal dari kota berjuluk Swiss van Java tersebut, juga karena brand atau embel-embel yang kerap menghiasi pikulan dagangan mereka, "asgar" akronim dari Asli Garut, ada juga yang mengartikan Asal Garut.

Rasa Cuanki terkenal sangat gurih, tak pelak hal ini melahirkan kontroversi karena penggunaan bumbu penyedap yang dinilai berlebihan. Tapi anehnya, kebanyakan rasa Cuanki zaman now yang saya cicipi bercitarasa hambar, istilah sunda na mah cawerang. Asin, manis, gurihnya teu kaditu teu kadieu.

Namun, semua berubah ketika Mang Daeng datang menghadirkan cita rasa Cuanki yang telah lama hilang. Pria asal Limbangan, Garut ini sudah beberapa tahun ngontrak di dekat rumah saya. Sudah memenuhi syarat untuk dinaturalisasi pokona mah.

Entah apa rahasianya, yang jelas cita rasa Cuanki Mang Daeng itu cuanki banget. Meski terkadang siomaynya bau kompor pareum (minyak tanah). Tapi itu tak terlalu mengganggu lidah, anggap saja itu ciri khasnya. Tapi saya pribadi sering kali membeli Cuanki tanpa siomay, cukup tahu dan baso saja.

Cuanki, Mang Daeng, dan Carlton Cole, cuanki asgar, baso garut
Mang Daeng ketika menyajikan seporsi Cuanki. Eta Carlton Cole nanaonan? - Dok. Pribadi

Meskipun asli Garut, Mang Daeng merupakan pendukung Persib alias Bobotoh (karena untuk dukung Persigar Garut rasanya sulit). Maka setiap saya membeli cuankinya obrolan tentang Persib hingga sepakbola nasional tak pernah luput. Termasuk gagal moncernya mantan striker Westham United, Carlton Cole bersama skuad Maung Bandung (supaya nyambung sama judul aja sih).

Berbicara mengenai Carlton Cole dan Persib, kita dapat memetik satu pelajaran bahwa label WAAAAH dan harga yang mahal tak menjamin kualitas dari sebuah produk. Termasuk Cuanki Mang Daeng, meskipun harganya murah, lima rebu ge wareg, tapi rasanya berani diadukeun jeung Domba Garut.

Kini Cuanki Mang Daeng masih menjadi primadona di kampung saya dan warga Komplek Cibiru Raya. Sehingga beliau tak pernah terlihat ngider jauh-jauh, cukup keliling 2 sampai 3 RT dan sesekali masuk komplek, dagangannya sudah ludes. Itu cukup membuktikan bahwa Cuanki Mang Daeng masuk jajaran Cuanki terbaik, setidaknya di wilayah Cibiru Wetan hingga Cinunuk.

Dulu, waktu saya kecil, sebelum ada Mang Daeng tentunya, Emak tak pernah mengabulkan rengekan saya yang kepingin beli Cuanki.

"Ulah, eta mah daging bangkong," ucapnya.

Mendengar ucapan tersebut saya percaya-percaya saja. Bahkan saya berasumsi bahwa bangkongnya disimpan dalam kotak rahasia yang biasanya menggantung di sisi panci, yang ternyata itu cuma wadah cadangan air untuk kuah Cuanki.

Apakah kamu punya kenangan tersendiri bersama Cuanki, pedagang Cuanki, atau apa pun berbau Cuanki? Jika ada silakan coret di kolom komentar. Wassalam.

*NOTE: Tulisan ini murni atas kehendak dan inisiatif saya sendiri, bukan atas request dari siapa pun, tanpa imbalan apa pun :D

Simpang Siur Masa Berlaku E-KTP

Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau E-KTP keluaran terbaru tidak memiliki masa berlaku alias berlaku seumur hidup bagi si pemilik. Tentu inovasi ini menguntungkan bagi warga negara Indonesia karena tidak harus bolak-balik dari tingkat RT hingga Kecamatan untuk memperpanjang KTP ketika masa berlakunya habis (kecuali ada perubahan data).

Namun, apa kabar dengan pemilik E-KTP versi beta atau keluaran pertama? Dimana dalam E-KTP lama masih tertera masa berlaku sebagaimana KTP konvensional. Awalnya saya merasa ada ketidakadilan di sini, karena saya (mungkin kamu juga) sebagai pemilik E-KTP jilid 1 dirugikan oleh sistem yang berubah-ubah.

Ketika awal-awal ramai E-KTP, dalam benak saya, bentuk E-KTP akan seperti kartu ATM yang memiliki garis hitam di bagian belakang atau memiliki semacam Barcode, QR-Code, atau yang sejenisnya yang bisa digunakan untuk suatu hal. Nyatanya, bentuk E-KTP memang mirip kartu ATM namun tak seperti yang saya bayangkan. Ini lebih ke ganti bahan saja.

Tapi saya tetap berhusnudzon, barangkali data-data kita telah ditanam di dalam kartu tersebut, entah menggunakan teknologi nano atau apalah yang penting husnudzon saja judulnya.

Penerbitan E-KTP sempat dihentikan karena alasan tertentu. Namun setelah dimulai kembali, terdapat perbedaan format, yang awalnya masih memiliki masa berlaku, kini menjadi seumur hidup tanpa memandang usia pemilik E-KTP.

"Lho kok kamu seumur hidup, saya tidak? Wah... tidak enak di saya dong masih harus uras-urus KTP lagi."

Tentu kasus ini dikhawatirkan menimbulkan kecemburuan sosial. Di lain sisi juga mencerminkan sikap pemerintah yang antara tidak konsisten dengan keputusan sendiri atau program E-KTP memang belum dipersiapkan secara matang.

Tapi alangkah baiknya kita lagi-lagi harus berhusnudzon. Karena khawatir kalau curhat macam-macam nanti tercyduck. Sekarang kan lagi musim. Apalagi sekarang pembahasan mengenai E-KTP semakin sensitif, sebab terindikasi ada korupsi berjamaah di belakang proyek ini.

Sebenarnya, pembahasan mengenai masa berlaku E-KTP sudah bukan hal baru. Poin-poin dalam tulisan ini pun sudah saya buat beberapa bulan lalu. Hanya saja saya lupa memposting tulisan ini. Namun tak ada salahnya tetap saya posting, barangkali ada yang belum tahu.

Inti tulisan ini sebenarnya hanya ingin menyampaikan bahwa E-KTP yang terbit sejak 2011 hingga sekarang, masa berlakunya adalah SEUMUR HIDUP, meski dalam kartu masih tercantum masa berlaku. E-KTP saya sendiri harusnya habis pertengahan tahun 2017 (Ga ada yg nanya ya?).

Berikut surat edaran dari pemerintah tertanda Mendagri yg saya dapat dari pihak Desa Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung.

E-KTP Berlaku Seumur Hidup, masa berlaku e-ktp, ktp elektronik
Surat Edaran perihal masa berlaku E-KTP tertanda Mendagri - Dok. Desa Cinunuk

Dengan adanya surat tersebut, jelas sudah bahwa masa berlaku E-KTP adalah seumur hidup. Alhamdulillah. Namun agaknya masalah mengenai E-KTP masih akan berlanjut selama ada masyarakat yang E-KTPnya tak kunjung jadi, juga segala kasus yang membuntuti proyek ini belum terselesaikan. Kita do'akan saja, semoga permasalahan E-KTP segera tuntas. Wassalam.

10/30/2017

Bayar Denda Tilang di Tempat, Apakah Sah?

Kamis, 19 Oktober 2017, sekira pukul 10.00 WIB, untuk pertama kalinya saya terjaring operasi Polisi lalu lintas alias kena tilang. Tepatnya di depan SPBU Cikadut, sebelum Polsek Antapani (jalan antara Sukamiskin-Cicaheum) orang Bandung Timur pasti hafal daerah yang memang rawan tilang ini.

Bayar Denda Tilang di Tempat, Apakah Sah?
Polisi memegang surat tilang saat sosialisasi Operasi Simpatik Lodaya, 1 Maret 2016, di Jalan Merdeka, Bandung, Jawa Barat. - Dok. TEMPO

Di pagi menjelang siang yang cukup terik itu, saya dengan santai mengendarai sepeda motor. Tetiba saya lihat dari kejauhan ada polisi berdiri di tengah jalan, tepat di jalur yang saya lalui. Beliau memberikan isyarat dengan tangan gerak nyomot-nyomot ke depan (tau bentuk tangan Younglex di meme 'bang makan bang' kan?) yang berarti terjadi masalah pada lampu motor saya.

Setelah kian dekat, beliau menyuruh saya menepikan kendaraan. Kronologi selanjutnya akan saya sajikan dalam bentuk (sebut saja) dialog berikut:

Pakpol (P): "Siang. Lampunya mati." dengan dialek medoknya.
Saya (S): (Tengok saklar nyala... tengok lampu spaneng...)
P: "Mana SIM sama STNK!"

Saya keluarkanlah dua dokumen penting tersebut untuk selanjutnya diserahkan pada beliau.

P: "Sudah tau kesalahannya?"
S: "Lampunya nyala pak" sambil menunjuk ke lampu yang memang udah lemah.
P: "Nyala dari mana? Masuk ke pos!"
S: "Dimana?"
P: "Depan Yongmaret."

Hah? Yongmaret? Karena tidak jelas saya kembali bertanya.

S: "Dimana pak?"
P: "Itu di Yongmaret" sambil nunjuk Minimarket 'Yomart' -_-

Motor pun saya parkirkan depan Yomart. Tak berselang lama, polisi yang tadi nilang menghampiri saya bersama 'tersangka' lainnya dan menggiring kami ke Pos Polisi :D

P: "Mau sidang atau diproses polsek terdekat (Polsek Antapani)?"
S: "Bedanya apa?"
P: "Kalau sidang nanti ke Jalan Jakarta, bulan depan... hhmmm... tanggal 3" mata beliau menerawang ke angkasa raya yang mungkin dihuni makhluk terestrial. "Kalau di sini kamu bayar denda 100 ribu, STNK sama SIM langsung balik" lanjutnya sambil memamerkan daftar harga denda per pelanggaran.
S: "Kalau sidang tetap bayar denda?"
P: "Ya sarua (sama) bayar."

Satu 'tersangka' sebelah saya mencoba memelas agar diberi keringanan, tapi dia malah dibentak Pakpol.

P: "Kamu ga punya SIM, STNK juga mati, mau minta keringanan?" bentak Pakpol pada pria malang yang tak diketahui namanya itu.

P: "Gimana? Sidang atau proses di sini?" sambil nunjuk ke Gedung Polsek Antapani. "Terserah, mau sidang atau di sini, mun sidang ada waktu ga? Terserah kamu." lanjutnya.
S: "Yaudah di sini aja."
P: "Kesini ikut saya!" sambil nyelonong mengajak saya masuk ke sebuah kios gorengan yang tak jauh dari Pos Polisi.

Di dalam kios beliau mencatat pelanggaran saya dalam selembar surat tilang warna merah. Sambil menunggu beliau menulis, saya pun mengajak beliau ngobrol ngalér-ngidul. Mulai dari hal formal mengenai pengurusan STNK hingga hal bersifat pribadi.

Setelah beliau selesai menulis, saya diminta menandatangani surat tilang tersebut. Saya pun dengan mudahnya membubuhkan tandatangan.

P: "Mana?" sambil menadahkan tangan.

What the...? Kirai beneran diproses di kantor. Ternyata di kios gorengan :D

S: "Harus segitu ya pak?"
P: "Iya, saya mah tidak mengada-ada" sembari kembali memamerkan daftar harga denda.

Dengan tidak ikhlas saya memberikan uang 100 ribu kepada beliau. Untungnya SIM dan STNK pun kembali dalam genggaman saya (apanya yang untung?). Sekilas saya lihat mantan uang saya beliau hekter ke surat tilangnya.

S: "Sudah pak?"
P: "Iya." pungkas beliau sambil menjabat tangan saya.

S: "Bapak senang?" pertanyaan fiktif.

Saya pun melanjutkan perjalanan, melaksanakan kewajiban mencari nafkah untuk anak dan istri di rumah. Meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati saya. Apakah uang saya tadi dijamin masuk kas negara? Apakah prosedur tilang yang tadi saya lalui itu sah? Jangan-jangan saya dikibuli. Maklum, masih newbie.

Karena penasaran, di perjalanan saya sempatkan searching via internet mengenai prosedur tilang, mulai dari penyebab hingga cara penyelesaiannya. Dan yang saya temui ternyata banyak versi. Ada yang membenarkan prosedur yang tadi saya lalui, namun ada pula yang menyatakan bahwa itu ilegal.

Entah mana yang benar, yang pasti saya berharap uang denda tersebut masuk ke kas negara. Namun bila uang tersebut masuk ke kantong Pakpol yang terhormat, saya hanya bisa mengucapkan "semoga mendapat azab dari-Nya" hahaha (ketawa jahat).

Kalau di antara sidang pembaca ada yang mengalami hal serupa, atau paham masalah tilang menilang, silakan corat-coret di kolom komentar. Wassalam.

*NOTE: Setelah pulang dari perjalanan melelahkan tersebut. Lampu motor saya nyala lagi, dan sampai sekarang sehat wal afiat... Alhamdulillah... Hadewh rugi cepé -_-

10/24/2017

Pesepakbola Indonesia di Brunei Darussalam

Kabar luar biasa namun bukan hal asing bagi kita mendengar ada pesepakbola Indonesia bermain di klub luar negeri. Sebab meskipun ada, tapi tak banyak pesepakbola Indonesia yang dapat mencicipi pengalaman tersebut.

Beberapa di antara sekian pesepakbola itu adalah Kurniawan Dwi Yulianto yang pernah berseragam FC Luzern (Swiss), dan Sarawak FA (Malaysia), Ricky Yacobi yang pernah memperkuat Matsushita FC (kini bernama Gamba Osaka), Rochy Putiray yang malang melintang di liga Hongkong, Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy di Selangor FA (Malaysia), serta pemain lainnya yang belum saya sebutkan atau bahkan belum saya ketahui.

Ada juga yang belum terlalu lama, kita sudah tau bahwa Andik Vermansyah main di negara tetangga, Victor Igbonefo juga main di luar. begitu pun bakat-bakat muda kita banyak yang menimba ilmu di luar negeri. Kabar terbaru bintang-bintang muda macam Evan Dimas, Febri Hariyadi, dan Egi Maulana Vikri dilirik sejumlah klub luar negeri. 

Dalam benak kita, pemain Indonesia yang bermain di luar negeri merupakan pemain top berlabel timnas, atau paling tidak sosoknya tenar di kalangan pecinta sepakbola nasional. Namun pernahkan terpikir oleh kamu bahwa pemain non-tenar Indonesia ternyata ada juga yang main di klub luar negeri, ya meski klub dan negara tersebut tak begitu memiliki nama dalam percaturan sepakbola kawasan.

Satu dari sekian pesepakbola Indonesia yang bermain di luar negeri itu bernama Agus Haryono. Familiarkah dengan nama tersebut? Tentu ini bukan Haryono pemain Persib Bandung, meski keduanya sama-sama bermain di posisi midfielder.

Agus Haryono, Pesepakbola Indonesia di Brunei Darussalam, Wijaya FC
Pemain Wijaya FC Agus Haryono (Jersey Biru) kecewa setelah gagal menuntaskan peluang gol saat melawan Jerudong FC di Berakas Sports Complex - Dok. nfabd.org

Sedikit bahkan hampir tidak ada media nasional yang memberitakan pemain kelahiran 10 Agustus 1989 ini. Saya mengetahui nama Agus Haryono pun ketika menjelajahi laman wikipedia saat mencari informasi mengenai sepakbola lokal Brunei Darussalam. Di salah satu laman yang memuat informasi klub bernama Wijaya FC, terselip nama khas Indonesia tersebut dengan bendera Indonesia di sampingnya yang menandakan negara asalnya.

Saya pun tak menyangka, ternyata ada juga pesepakbola Indonesia yang bermain di klub peserta liga Brunei Darussalam.

Mendapati hal tersebut saya langsung gencar mencari informasi mengenai pemain satu ini. Mulai dari laman NFABD (PSSI-nya Brunei), laman-laman berita lokal, hingga situs-situs data sepakbola mancanegara saya jelajahi. Sayangnya, dari upaya tersebut hanya sedikit informasi yang didapat. Saat tulisan ini diposting, Agus Haryono masih menjadi bagian dari skuad Wijaya FC, dan berdasarkan penelusuran dari berbagai laman berita yang ada di Brunei Darusalam, pemain ini cukup rajin mencetak gol.

Setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata bukan hanya Agus Haryono lah pesepakbola Indonesia yang bermain di Brunei Darussalam. Ada nama Sigit Prasetia yang juga berposisi sebagai midfielder.

Dibanding Agus Haryono, data mengenai Sigit Prasetia amatlah sulit ditelusuri. Hanya laman worldfootball.com yang menyajikan sekilas informasi yang menyatakan bahwa Sigit Prasetia lahir pada 18 Juli 1986, dan tercatat pernah satu tim bersama Agus Haryono memperkuat klub yang bermarkas di Stadion Padang dan Balapan, Bandar Seri Begawan tersebut.

Mengenai kiprah dan riwayat sepakbola keduanya, saya kesulitan untuk menemukan data akurat, kedua pemain ini pun tak terdaftar di situs transfermarkt.com. Sehingga saya rasa kiprah keduanya cukup sulit ditelusuri jika hanya mengandalkan internet. Jika ada sidang pembaca yang memiliki koreksi atau informasi tambahan, sila coret di kolom komentar. Wassalam.

9/21/2017

Mengatasi Printer HPPSC 1410 Series Tidak Terdeteksi

Awal September 2017 saya membeli printer HP PSC 1410 All-in-One, harganya murah cuma 280 ribu (second sih). Awalnya curiga juga dengan harga segitu, secara biar pun second tapi printernya kan multifungsi (scan and copy). Tapi setelah dites sama penjualnya ternyata masih normal.

Sesampainya di rumah, saya langsung unduh drivernya dari laman resmi HP sebagai syarat menginstall ke komputer. Setelah unduhan selesai (ukuran filenya sekira 370MB), lanjut ke proses install. Nah, pada tahap inilah terjadi masalah yang cukup mendebarkan.

Printer tidak terdeteksi, padahal sudah menginstall drivernya. Sebenarnya terdeteksi sih, tapi hanya scan dan copy saja, sedangkan fungsi utamanya sebagai printer tidak bisa digunakan. Saya coba add printer secara manual lewat control panel, namun tak membuahkan hasil karena tipe printer saya tidak tercantum dalam list printer. Saya coba menggunakan driver HP tipe lain yang ada dalam list, namun tidak ada yang cocok. Lalu saya diperintahkan untuk melakukan Windows Update, saya pun menuruti perintah tersebut, namun hasilnya nihil banget.

Mengadu dan mencari bantuan di forum printer HP sangat tak membantu, karena solusi yang mereka berikan amat berbau formalitas, seperti install driver dan bla bla bla lainnya. Bermacam-macam cara telah dilakukan, tidak ubahnya seperti perlombaan. Mulai dari ganti kabel USB, install-uninstall program beberapa kali, hingga install ulang komputer. Tapi tetap saja hasilnya NOL BESAR, meskipun hal absurd telah saya lakukan, seperti memukul printernya (siapa tahu manjur seperti halnya pada remot TV).

Saya pun coba menenangkan diri. Setelah tiga hari bersemedi saya mendapat ilham dan coba menghadapi printer kampret ini lagi. Kali ini saya menggunakan cara sendiri, kira-kira begini :

  1. Komputer kamu harus terkoneksi ke internet.
  2. Install driver HP, dengan tidak menghubungkan printer ke komputer.
  3. Ikuti proses install driver sampai ada perintah menghubungkan printer ke komputer.
  4. Hubungkan printer ke komputer hingga printer terdeteksi, proses ini memerlukan waktu sekira 30 menit atau lebih.
  5. Setelah proses install driver selesai, secara otomatis printer kamu terdeteksi dan bisa digunakan.

Kira-kira begitulah cara saya mengatasi masalah printer HPPSC 1410 Series yang tidak terdeteksi oleh komputer. Sepertinya cara ini berlaku juga untuk printer HP tipe lain, karena setelah dicek ulang, list tipe printer HP yang terdaftar di komputer saya bertambah.

Mengatasi Printer HPPSC 1410 Series Tidak Terdeteksi

Dari pemecahan kasus di atas, saya berkesimpulan bahwa solusi inti untuk memecahkan masalah printer HP yang tidak terdeteksi adalah harus terkoneksi ke internet ketika menginstall drivernya. Cukup simpel meski harus mengorbankan kuota internet (kecuali pengguna internet langganan). Semoga postingan ini bisa menjadi solusi pemecahan masalah bagi kamu yang bernasib serupa. Wassalam.

9/19/2017

Cara Mengganti Kartu ATM BCA Xpresi

Sejak pertama kali membuatnya, tak pernah terpikir bahwa kartu ATM saya akan rusak. Tapi yang namanya benda pasti ada masa rusaknya, entah itu karena sering dipakai atau karena suatu sebab keteledoran pemiliknya.

Kerusakan pada kartu ATM saya sepertinya akibat keteledoran. Mungkin karena ditaruh dalam dompet, jadi secara tidak sengaja sering didudukin, walhasil kartu ATM-nya retak menjurus patah. Lagi pula selain retak, kartu ATM saya sudah lusuh, lapisan pelindungnya terkelupas atau dalam bahasa Republik Ceko disebut "moletek".

Hal tersebut membuat saya ragu untuk bertransaksi lewat mesin ATM karena khawatir terjadi sesuatu, kartu nyangkut atau tertelan mesin misalnya.

Dari pada terus dirundung keraguan, saya memutuskan pergi ke Bank untuk mengganti kartu ATM. Kartu ATM saya adalah Tahapan BCA Xpresi, itu lho Tahapan BCA tanpa buku tabungan (kartu ATM Only) yang desain gambar kartunya bisa milih sendiri, dan tentunya memiliki batasan-batasan tertentu dibanding Tahapan BCA Silver atau di atasnya. Maklum saja sih, setoran awalnya saja cuma Rp 50.000.

Sebenarnya bukan sengaja ke Bank ding, tapi sekalian ada urusan di daerah Jl. Ahmad Yani a.k.a Cicadas-Bandung, kebetulan dulu saya buka Tahapan Xpresi juga di BCA Ahmad Yani.

Sekira pukul 11.00 saya tiba di Bank, seperti biasa ketika masuk gedung langsung disambut Security. Pertama Security penjaga metal detector, kedua Security yang ada di dalam yang bertugas membantu customer dalam mengambil antrean.

Security (SC) : "Selamat siang pak!"
Saya (SY) : "(Saya balas dengan senyum saja)"
SC : "Bisa dibantu?"
SY : "Mau ganti kartu ATM"
SC : "KTP-nya dibawa?"
SY : "Iya"
SC : "Silakan antre di CS sebelah kiri pak, tiga antrean lagi", sambil memberikan karcis antrean seraya menunjukkan tangan ke mana saya harus pergi.

Dari percakapan singkat di atas, sudah ketahuan bahwa syarat ganti kartu ATM cuma KTP doang.

Ketika menunggu giliran, saya didatangi Teteh cantik yang bertugas membantu customer agar transaksi berjalan lancar. Beliau cuma meminjam kartu ATM, KTP, dan nomor ponsel untuk mengisi data pada selembar form. Katanya nanti tinggal kasih kertas berisi data tersebut dan saya tinggal pilih motif kartunya.

(Saya kurang tahu, apakah fasilitas bantuan ini ada di tiap Bank atau hanya di cabang utama saja.)

Setelah menunggu beberapa saat, giliran saya pun tiba. Sebagaimana umumnya, sang CS (Customer Service) melontarkan sapaan hangat. Awas jangan baper!

Seperti kata Teteh yang bantu di awal, saya tinggal menyerahkan form yang tadi sudah diisi, beserta KTP tentunya. Lalu CS memberitahukan bahwa biaya penggantian kartu ATM adalah Rp 25.000 yang akan dipotong langsung dari saldo ATM. Setelah CS-nya cek ini itu, saya diminta membubuhkan tandatangan dalam form sebanyak 2 kali.

Selanjutnya diperlihatkanlah melalui layar komputer, berbagai desain kartu yang nantinya harus kita pilih salah satu. Tinggal pilih saja, jangan dibikin ribet. Jika kita sudah memilih, tibalah proses pembuatan kartu ATM. Sang CS menyalakan stopwatch seraya sesumbar bahwa pembuatan kartu ATM tak akan memakan waktu lebih dari 10 menit.

Pada tahap menunggu ini jangan salting ya, biasanya CS suka ngajak ngobrol. Atau biasanya di meja CS tersedia permen dan air mineral untuk customer, nah nikmati saja sajian itu (jangan nawar).

Tak berselang lama (rasanya belum sampai 5 menit) kartu ATM pun tiba di meja. Meski tak ingat betul detailnya, saya ingat bahwa kartu ATM digesek ke sebuah alat lalu saya diminta memasukkan pin ATM 2 kali, dan membubuhkan tandatangan di bagian belakang kartu.

"Pak, kartu ATM-nya sudah bisa langsung digunakan, begitu juga dengan M-Banking dan Internet Banking. Kartu yang lama saya gunting ya? Pakai gunting rumput."

Begitulah kira-kira ucapan CS, yang tentunya sudah saya tambahkan bumbu yang tak penting di bagian akhir.

Cara Mengganti Kartu ATM Tahapan BCA Xpresi
Kartu ATM Tahapan BCA Xpresi - Dok. Pribadi

Kartu ATM baru beserta KTP pun saya terima sebagai tanda cintamu padaku transaksi selesai. CS pun memperlihatkan stopwatch yang tadi, dan ternyata ucapannya terbukti bahwa transaksi berlangsung tak lebih dari 10 menit, malah hanya 6 menit saja.

Terakhir saya diminta memijit satu dari 4 tombol penilaian, mulai dari tidak memuaskan hingga sangat memuaskan. Dan saya memijit tombol #%$@&*%+*&$%.

Keluarlah saya dari gedung Bank untuk selanjutnya pergi ke mesin ATM dengan tujuan memeriksa apakah benar kartu ATM baru tersebut langsung tokcer. Dan ternyata memang langsung bisa digunakan. Puja CS ajaib.

Begitulah kiranya cara mengganti kartu ATM BCA Xpresi sesuai pengalaman saya. Entah untuk Tahapan BCA lainnya apakah prosedurnya sama atau tidak, begitu pun cara ganti kartu ATM di Bank lain saya kurang tahu. Semoga postingan ini ada faedahnya. Wassalam.

9/02/2017

Nasi Instan, Rasa yang Pernah Ada

Suatu hari ada demo masak di kantor RW, suasana kala itu cukup berjejal. Mayoritas hadirin adalah ibu-ibu dan anak-anak, dan tentunya saya termasuk golongan anak-anak, karena demo masak tersebut diadakan sekira belasan tahun lalu, ketika usia saya antara usia anak belum sekolah atau baru masuk SD, lupa, dengan alasan itu pula tulisan ini saya sajikan seingatnya saja :D

Kabar burung mengatakan bahwa demo masak tersebut adalah dalam rangka mempromosikan produk baru berupa nasi instan, yang cukup dengan diseduh bisa langsung matang. Cukup menarik, apa lagi demo masak tersebut terbilang megah dan langsung berkoordinasi dengan pihak RW. Produk yang didemonstrasikan adalah Tara Nasiku. Ada yang masih ingat?

Mungkin anak generasi kekinian kurang familiar dengan produk yang satu ini, karena memang produk ini sudah sulit dijumpai di pasaran, atau mungkin malah sudah tidak ada. Jelasnya produk ini pernah benar-benar ada dan tersebar di pasaran, sampai akhirnya tenggelam ditelan jaman.

Seperti halnya mie instan, nasi instan pun memiliki varian rasa. Yang saya ingat ada rasa nasi goreng dan nasi kuning. Saya pernah merasakan keduanya, karena pada demo masak yang saya hadiri belasan tahun lalu itu, hadirin diperkenankan mencicipi nasi instan yang telah matang. Masing-masing mendapat satu wadah kecil, sejenis cangkir plastik putih untuk wadah es puter.

Terlepas dari pernah ada atau tidaknya produk serupa sebelumnya, mengenai inovasi, produk ini layak diacungi jempol karena berani menggebrak pasar makanan instan. Mengingat produk mie masih merajai dunia perinstanan di Indonesia. Mungkin produsen nasi instan berpikir, karena makanan pokok rakyat Indonesia adalah nasi, maka besar kemungkinan produk mereka akan mudah merebut hati masyarakat. Sayangnya kenyataan tak demikian, karena soal rasa, memang belum bisa mengalahkan dominasi produk mie dalam jajaran makanan instan.

Kesan pertama saya terhadap nasi instan yang satu ini adalah AMBYARRRRR... Untuk ukuran "nasi goreng" rasanya kurang cocok di lidah saya. Meskipun demikian saya tak kapok untuk merasakan nasi dengan rasa yang lain. Karena ketua RW-nya tetangga saya, jadi saya minta lagi yang rasa nasi kuning, lewat jalur nir-antre tentunya. Dan kesan saya dengan rasa yang kedua adalah..... SAMA SAJAAAAA... Kurang berkenan sekujur badan, kecuali ketika darurat boleh lah.

Kala itu adalah pengalaman pertama dan terakhir saya mencicipi nasi instan. Meskipun produk tersebut sudah tersebar di pasaran, serta bermunculan produk serupa dari produsen yang berbeda, saya tidak pernah lagi membeli dan mencicipi nasi instan. Mungkin semacam kapok, trauma, atau tak punya duit.

Seiring dengan waktu, produk nasi instan, entah itu Tara Nasiku atau produk lainnya semakin sulit ditemui di pasaran. Mungkin rasa yang saya rasakan tempo hari juga dirasakan oleh hadirin lain dan masyarakat umum yang membeli produk tersebut di luaran.

Dalam rangka nostalgia dan melengkapi postingan ini, saya coba searching di internet mengenai nasib dari produk Tara Nasiku. Dan ternyata cukup sulit untuk mencari bukti-bukti otentik produk ini, yang bermunculan malah nasi instan dari produsen lain, termasuk yang paling populer adalah Nasi Instan GarudaFood. Hanya saja saya menemukan sebuah rilis dari laman Slideshare dengan nama akun samerdanta sinulingga, terpercaya sih sepertinya. Kurang lebih isinya seperti berikut :

Kisah Gagalnya Tara Nasiku

Produk nasi instan ini diluncurkan dengan harapan agar mampu menjadi makanan instan pengganti makanan pokok seperti halnya sukses mie instan. Logikanya cukup masuk akal, nasi adalah makanan pokok sebagian besar orang Indonesia,bila ada nasi instan maka akan besar kemungkinan produknya akan diserap dengan baik oleh pasar. maka Tara Nasiku pun diluncurkan dengan didukung marketing communication yang luar biasa besar. Tapi produk itu gagal. Awalnya banyak orang mencoba Tara Nasiku, namu  itu rupanya hanya first trial semata. Kelemahan Tara Nasiku yang mencolok adalah untuk menghasilkan nasi instan yang optimal, maka mesti dimasak dengan teflon, hal inilah yang cukup menyulitkan konsumennya. Selain itu, rasa Tara Nasiku kurang berkenan di lidah kita. pada intinya, ekspektasi akan rasa dan "instan" dari iklan Tara Nasiku ternyata tidak dipenuhi.

Gagalnya Tara Nasiku, nasi instan

Berkaca dari beberapa paragraf di atas, saya mendapat pelajaran bahwa tak semua inovasi dapat diterima semua kalangan, menembus batas-batas ruang.

Kesan pertama dari sebuah hal akan memengaruhi kesan pada hal serupa lainnya, meski terjadi dalam ruang dan waktu yang berbeda, kita akan cenderung membanding-bandingkannya.

Wassalam.