10/06/2018

Pengguna Obat Kumur Amatir

Tiga hari yang lalu saya membeli Mouthwash alias obat kumur. Alasannya karena di rumah tidak memungkinkan untuk nyikat gigi sebab air sumur kemasukan curut. Bau bangke deh.

Siapa tau aja kan obat kumur bisa jadi pengganti nyikat gigi, soalnya dulu waktu study tour ke Baduy beberapa hari, saya lupa bawa seperangkat alat nyikat gigi, untung ada teman bawa obat kumur merk Misterbin warna biru, sekilas mirip spirtus. Tapi ternyata rasanya panas. Huek...

Maka dari itu kali ini saya beli yang merk Pepsodech warna merah muda, yang mana di sana tertulis memiliki spesialisasi pada gigi sensitif, dan yang terpenting adalah no alcohol. Hhmmm... Hhmmm...

Pengguna Obat Kumur Amatir, mouthwash, pepsodent, obat kumur

Awalnya saya tidak tahu bagaimana cara pakainya, setelah menyidik-nyidik kemasan botolnya, ternyata instruksi pemakaian ada di bagian belakang dengan menggunakan font PT Sans ukuran 5-8 pt.

Di sana dijelaskan bahwa takarannya adalah 20ml, dengan tutup botol kemasan sebagai gelas takar (sudah dilengkapi ukuran takar). Digunakan 2 x sehari setelah menyikat gigi, jadi obat kumur bukan pengganti nyikat gigi ya. Lalu durasi berkumurnya kira-kira 30 detik, tapi setelah mencoba saya hanya mampu berkumur sekira 10 detik karena ternyata rasanya sama saja, panas.

Terhitung sudah tiga hari saya berstatus sebagai pengguna obat kumur, tidak ada perubahan signifikan pada gigi saya, masih tetap dipenuhi lubang dan karang gigi, hanya saja mulut saya sedikit lebih segar, dan taraf hidup saya terasa lebih mevvah.

9/27/2018

Jalan Juara Kian Nyata

Tercatat hingga pekan ke 23, Persib Bandung masih nyaman bertengger di puncak klasemen Liga 1 Indonesia dengan raihan 44 poin, beda 6 poin dari PSM Makassar yang mengintip di posisi kedua.

Hasil ini tak lain imbas dari konsistensi skuad asuhan Abah Gomez yang rutin meraup poin di setiap laga, baik kandang maupun tandang.

Selain itu, faktor dari tim lain yang menjadi pesaing utama pun turut memengaruhi. Tercatat ada PSM Makassar, Bali United, Madura United, Persija Jakarta, Bhayangkara FC, dan Barito Putera yang membuntuti. Sayangnya, mereka gagal memangkas jarak di pekan terakhir karena tak mampu meraih poin maksimal di saat raihan poin Persib terus melaju.

Hal ini semakin membuat Persib di atas angin, jalan juara kian nyata, dengan sebelas laga tersisa, bukan tak mungkin skuad Maung Bandung keluar sebagai juara sebelum melakoni semua laga.

Jalan Juara Kian Nyata, jalan terbuka, jalan sepi, highway

Bukan hal aneh mengingat data statistik performa Persib musim ini, terutama memasuki putaran kedua cukup baik. Persib memiliki selisih surplus 16 dalam hal memasukan gol dan kebobolan. Dalam daftar pencetak gol terbanyak pun Persib memiliki satu wakil yaitu Ezechiel Ndouasel yang berada di urutan ketiga dengan berbekal 14 gol, kurang 2 gol lagi untuk menyamai raihan striker Persebaya, David da Silva yang membukukan 16 gol.

Apakah jalan juara ini akan bertahan hingga akhir musim? Semoga Persib konsisten dengan performanya.

9/26/2018

Shiva Itu Siapa? atau Apa?

Sudah sejak lama dunia hiburan India masuk ke Indonesia. Mulai dari film-film jadul hingga serial drama alias sinetron yang banyak muncul akhir-akhir ini. Untuk film "Bollywood" saya rasa hingga kini masih memiliki rating yang bagus, dilihat dari sering diputar ulangnya film-film macam Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham, Koi Mil Gaya, dan lainnya di televisi.

Kalau sinetron-sinetronnya seperti Anandhi, Thapki, Madhubala, Paakhi, Jodha Akbar, dan sebagainya sih saya ragu, meski jumlahnya banyak dan aktris-akrtisnya sering datang ke Indonesia untuk sekadar meet and greet, bahkan beberapa dari mereka menetap untuk mengisi acara-acara televisi dalam negeri, itu belum mencerminkan taraf 'ngefans' publik kita terhadap mereka.

Kini tak hanya perfilmannya, serial animasi a.k.a kartun pun mulai diekspor ke negeri ini, bersaing dengan film kartun luar negeri yang lebih dulu tayang seperti Doraemon, Upin & Ipin, dan Spongebob Squarepants. Film kartun produksi India yang saya tahu dan sudah tayang di Indonesia diantaranya; Little Krishna, Chhota Bheem, dan Shiva.

Dari ketiga judul yang saya sebut, Shiva lah yang menurut saya cukup menarik untuk disimak. Kelebihan dari kartun Shiva antara lain terdapat dalam aspek gambar. Sekilas kualitas gambarnya mirip kartun Upin & Ipin hanya saja pergerakan dalam kartun Shiva lebih halus.

Selain itu, Kalau diibaratkan film beneran, pengambilan gambar dalam kartun shiva sangat detail, terutama dalam variasi angle pengambilan gambar. Kelemahannya menurut saya terdapat pada jalan cerita yang terlalu sederhana sehingga cenderung mudah ditebak. Mungkin supaya mudah dipahami anak-anak.

Sesuai judulnya, film ini mengisahkan tentang bocah sakti bernama Shiva. Latar cerita terjadi di kota Vedas. Di kota ini sering terjadi tindak kejahatan, mulai dari percaloan tiket, pencurian, perampokan, pembajakan, hingga eksploitasi sumber daya alam secara ilegal.

Tindak kejahatan terus terjadi di kota Vedas, kehadiran pihak berwenang yang diwakili Inspektur Ladoo Singh dan Jalaram tak begitu berarti, karena kemampuan mereka bisa dibilang 0%, upaya-upaya penindakan kejahatan yang dilakukan kedua orang ini kebanyakan malah berujung kesialan.

Nah, untung ada si Shiva ini yang memiliki kemampuan bela diri tinggi, didukung dengan peralatan canggih seperti jam tangan yang bisa mengeluarkan drone berbentuk lebah, dan sepeda yang memiliki banyak fasilitas seperti turbo, baling-baling, sayap, dan lainnya yang kesemuanya itu bisa dikendalikan melalui remote control, bahkan pada episode mengejar penjahat di sungai sepedanya bisa berubah menjadi vortex.

Kehebatan Shiva ini sudah diakui warga kota Vedas, meskipun begitu ia nampaknya tak ingin terlalu diekspos media, sebab setelah kasus teratasi ia biasanya langsung pergi bersama teman-temannya (Reva, Adi, dan Uday), malah Inspektur Ladoo Singh lah yang so' aksi di hadapan wartawan.

Satu yang paling Shiva benci adalah ketika dibilang "anak kecil" oleh penjahat yang kerap ia hadapi. Dialog sesaat sebelum perkelahian pun hampir sama di setiap kasus.

Penjahat: "Hey anak kecil! Jangan halangi aku"
Shiva: "Jangan panggil aku anak kecil Paman"
Penjahat: "Anak kecil tapi tidak mau disebut anak kecil? Lalu harus aku panggil apa?"
Shiva: "Aku Shiva, namaku adalah Shiva"

Shiva pun langsung menyerang secepat kilat, para penjahat yang biasanya berjumlah banyak pun dihajarnya satu per satu hingga tak berdaya. Ladoo Singh datang dan memborgol mereka, kota Vedas pun kembali aman. Begitu seterusnya.

Sikap Shiva yang tak mau disebut anak kecil pun menimbulkan tanda tanya bagi saya. Pertanyaannya hampir sama dengan tanya para penjahat. "Anak kecil tapi tidak mau disebut anak kecil? Lantas harus dipanggil apa?"

Sebenarnya Shiva itu siapa? Atau kalau saya lebih radikal mungkin pertanyaannya "sebenarnya Shiva itu apa?"

Dalam cerita, Shiva tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Tak diceritakan siapa dan dimana kedua orangtuanya. Apakah ia yatim piatu? Atau hanya dititipkan orangtuanya pada Kakek dan Neneknya? Entahlah. Saya juga ragu, apakah mereka benar Kakek dan Nenek asli atau hanya Kakek-Nenek asuh saja? Semua tak dikisahkan.

Semakin menyimak, tanda tanya dalam pikiran saya semakin mengayun kencang. Mungkinkah Shiva ini sebenarnya orang dewasa yang memiliki perawakan seperti anak kecil? Entah itu kelainan genetik maupun disebabkan suatu kejadian seperti Shinichi Kudo alias Detective Conan. Lalu dari mana Shiva mendapatkan peralatan canggihnya? Apakah ada seorang ahli teknologi di belakangnya? Mungkin.

Atau yang lebih absurd mungkin Shiva adalah jelmaan Alien. Sebab teman dekatnya yang bernama Uday adalah Alien Enthusiast, ia selalu menghubungkan setiap kejadian dengan Alien. Mungkinkah hal ini pertanda? Malah saya juga aneh pada Kakeknya Shiva yang ternyata memiliki kekuatan super yang terdapat pada suaranya. Apakah ini juga berhubungan? Bisa ya bisa juga tidak. Kita simak saja serial animasi Shiva episode demi episode, patut kita nantikan apakah sang pengarang berani membongkar identitas Shiva atau tetap menjadikannya sebagai misteri.

Wassalam.

9/09/2018

Tim Medioker: Tentang Hidup yang "Mau Gitu Aja?"

Dalam dunia sepakbola, kita tentu pernah mendengar istilah tim medioker. Lantas apa yang dimaksud medioker? Medioker atau mediocre merupakan sebuah istilah yang mencerminkan nada negatif karena mengandung makna "biasa-biasa saja", tidak istimewa, setengah-setengah, tidak sungguh-sungguh, bahkan antara ada dan tiada.

Jadi, tim medioker dapat diartikan sebagai tim yang "B-aja", seperti tanpa motivasi juara, tidak duduk di papan atas pun tak terperosok di jurang degradasi. Filosofinya mungkin "yang penting aman".

Tim Medioker: Tentang Hidup yang "Mau Gitu Aja?", west ham united, tim medioker
Apakah layak West Ham United disebut tim medioker? - Dok. flickr.com

Eleanor Roosevelt (istri Franklin Delano Roosevelt, mantan Presiden AS 1933-1945) mengatakan, "Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people." Artinya mungkin; Orang hebat berpikir tentang ide, orang yang biasa-biasa saja berpikir tentang hal-hal yang terjadi, sedangkan orang yang pemikirannya "cetek" tenggelam dalam gosip.

Pikiran bukanlah sentra hidup kita karena wilayah sentra milik Tuhan. Namun, itu tak serta merta membuat kita tidak perlu mengelola pemikiran kita. Pemikiran seseorang yang agung selalu merupakan terobosan. Itu sebabnya mengapa mereka memiliki nama besar dan reputasi yang mengagumkan.

Lalu apa hubungan antara tim medioker dengan pernyataan Eleanor Roosevelt?

Manusia yang hidup dalam mediokritas, mirip tim medioker yang serba tanggung dalam menjalani kompetisi. Dalam buku Gol! karya Gheeto TW (2013) disebutkan, ada beberapa hal yang membuat sebuah tim menjadi tim medioker: karena manajer atau pelatihnya tidak punya visi yang jelas; karena pemain yang hanya puas dengan gaji dan memiliki semangat"daripada nganggur, lebih baik main bola"; atau karena pemilik klub tidak mempunyai keinginan yang kuat untuk maju.

Ketika berada dalam tim medioker, baik di lapangan hijau maupun kehidupan nyata, kita perlu memikirkan dua hal. Pertama, jika kita punya potensi untuk mengubah keadaan, kita perlu bertahan sembari dengan tulus memperbaiki diri dan kondisi yang menaungi kita. Kedua, jika dianggap "kurang ajar" karena tidak mau menjadi medioker seperti lingkungan yang menaungi kita, maka lebih baik kita cepat-cepat keluar dari sana. Jangan mau menjadi "pahlawan" di tim yang memang tidak pernah punya niat untuk mengejar apa pun.

"Rék kitu waé hirup téh?"

Semoga ada hikmahnya. Wassalam :)

Referensi:
- Buku Gol! karya Gheeto TW (Terbitan BIP, 2013)

Makna Kompetisi dalam Hidup

"Masyarakat Indonesia kurang suka dengan kompetisi." Begitu kata Gheeto TW dalam bukunya yang berjudul Gol!. Parameter "kurang suka" tersebut dilihat dari sikap para suporter sepakbola yang kerap bertindak anarkis ketika tim kesayangannya menelan kekalahan. Tak hanya suporter, pemain di lapangan pun cenderung mudah terpancing emosi bahkan tak jarang terlibat baku pukul baik dengan pemain lawan maupun dengan wasit.

Mungkin karena harga diri mereka yang terlalu tinggi sehingga kekalahan dianggap hina. Padahal kekalahan adalah sarana belajar untuk menjadi lebih baik di lain waktu. Itulah sebabnya suasana kompetisi sepakbola di negara kita masih kurang kondusif.

Maka, mau tak mau kita harus membandingkan dengan kompetisi di luar negeri. Sekalipun masih ada kekerasan, pelecehan, kecurangan atau anarki, suasana kompetisi di luar negeri macam di Inggris, Spanyol, Jerman, Jepang, bahkan negara tetangga kita Thailand jauh lebih baik. Mereka tetap respek, meskipun kalah; memacu diri untuk terus maju dan berkembang. Suasana kompetisi diatur sedemikian rupa sehingga sangat ketat dan seru. Karenanya, diperlukan mental dan fisik yang prima untuk dapat bermain di kompetisi ketat seperti itu. Dan, justru ketatnya kompetisi itulah yang membuat kemajuan pesat.

Brian McBridge (mantan pemain timnas AS) mengatakan, "Saya pikir kompetisi sangat penting. Kompetisi menghasilkan banyak hal yang baik dalam diri seseorang." Jadi, tak ada yang salah dengan kompetisi, ia justru membantu seseorang menemukan potensi terbesar dalam dirinya.

Makna Kompetisi dalam Hidup, catur, chess, grand master, competition

Secara bahasa, kompetisi atau competition berasal dari dua kata latin: com (bersama-sama) dan petere (mencari, melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh). Jadi, semangat kompetisi bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, melainkan di dalamnya selalu ada semangat kebersamaan.

Selain kompetisi, ada pula kata persaingan. Lantas, apa perbedaan antara keduanya? Dalam bahasa Indonesia, definisi keduanya mirip. Perbedaannya terletak pada fokusnya. Persaingan cenderung terfokus pada "mengalahkan orang lain", sedangkan kompetisi lebih terfokus pada "mengalahkan diri sendiri". Kita bertanding bukan untuk mengalahkan lawan, melainkan untuk mengerahkan kemampuan terbaik dari diri kita.

Biasanya kompetisi sepakbola dibagi menjadi dua golongan; kompetisi panjang dan pendek. Mana yang lebih sulit? Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam kompetisi pendek, seorang pemain harus gigih berjuang sehingga dalam kurun waktu kira-kira satu bulan mereka harus menjaga fisik dan konsentrasi, mulai dari babak penyisihan hingga akhir. Dengan jeda per pertandingan yang biasanya hanya dua atau tiga hari, bisa dibayangkan betapa lelahnya sebuah tim yang berhasil tembus ke babak final. Terkadang final malah menjadi anti-klimaks karena para pemain sudah sangat lelah.

Akan tetapi, ada yang cukup mengherankan, seorang pemain yang performanya moncer di kompetisi pendek macam Piala Dunia, Euro, Piala Asia, atau Olimpiade belum tentu bisa tampil apik di kompetisi panjang atau reguler bertajuk liga yang berlangsung selama satu musim (sekitar satu tahun). Ternyata berjuang dalam waktu yang lama lebih sulit dari pada berjuang dalam waktu yang singkat. Dalam kompetisi reguler, seorang pemain harus menjaga kebugarannya sehingga bisa tampil dengan performa terbaik dalam satu musim penuh.

Begitu pula dengan hidup ini yang ibarat kompetisi panjang, sangat panjang. Bukan hanya kebugaran fisik yang harus terjaga, melainkan juga kebugaran hati serta pikiran sepanjang hidup, belum lagi kita harus berhati-hati dengan yang namanya pelanggaran, kebobolan, blunder, dan jangan sampai bunuh diri. Bahkan tak seperti kompetisi sepakbola yang ada akhirnya, hidup ini tak ada yang mengetahui kapan dan dimana ujungnya, sebuah misteri bagi kita tapi tidak bagi sang pencipta.

Semoga ada hikmahnya. Wassalam :)

Referensi: Buku Gol! karya Gheeto TW (Terbitan BIP, 2013)

8/18/2018

Cara Mengubah Nama Karakter Ninja Saga

Ketika pertama kali memainkan Ninja Saga terkadang kita bingung memberi nama pada karakter ninja yang kita buat. Walhasil biasanya kita memberi nama asal-asalan karena belum terpikir nama yang cocok.

Namun ketika karakter ninja buatan kita sudah mencapai level tertentu atau sudah melihat nama-nama karakter ninja orang lain, hasrat untuk mengubah nama karakter ninja pun timbul, bermunculan lah nama-nama keren dalam benak kita.

Contohnya saya, saat membuat karakter Ninja Saga yang kedua ini hanya nama Idoy Melehoy yang melintas, nama yang ngasal banget, mungkin karena keseringan nonton sinetron Dunia Terbalik. Namun ketika sudah level 85, saya baru menyesali kengasalan saya tersebut.

Tapi bukan berarti nama tersebut permanen ya, ternyata nama karakter dalam Ninja Saga dapat diubah. Tentu beberapa syarat diberlakukan untuk mengubah nama karakter Ninja Saga. Syarat tersebut adalah dengan memiliki 5 (lima) buah Name Change License bagi free user, sedangkan untuk premium user cukup dengan 3 (tiga) buah Name Change License.

Cara Mengubah Nama Karakter Ninja Saga, Name Change License
Name Change License atau Rename Badge

Teman-teman bisa mendapatkan Name Change License atau Rename Badge dari Lucky Draw, Lucky Gatcha, atau undian-undian semacamnya dari event-event musiman yang ada di Ninja Saga. Hanya saja cara ini memerlukan kesabaran dan keberuntungan.

Cara cepat pun ada, yakni dengan membeli Name Change License seharga 200 Token /buah. Dengan demikian, untuk mengganti nama karakter Ninja Saga teman-teman harus siap mengeluarkan 600 hingga 1000 Token. Sayang banget kan?

Saya cukup beruntung karena berhasil mengumpulkan kelima buah Name Change License dari Lucky Draw dalam waktu beberapa bulan hehe. Tanpa pikir panjang saya langsung mengganti nama karakter Ninja Saga dengan cara berikut ini :

1. Masuk ke menu Profil, Klik tombol Rename yang ada di bawah nama karakter Ninja Saga.

Cara Mengubah Nama Karakter Ninja Saga, Name Change License

2. Masukkan nama karakter baru yang teman-teman inginkan, di sini saya mengganti nama Idoy Melehoy menjadi Taring Putih.

Cara Mengubah Nama Karakter Ninja Saga, Name Change License

3. Klik tombol Rename (karena saya free user jadi membutuhkan 5 Name Change License)
4. Selesai, nama karakter Ninja Saga pun berubah.

Cara Mengubah Nama Karakter Ninja Saga, Name Change License

Sekian tutorial singkat mengenai cara mengganti nama karakter Ninja Saga. Bagi teman-teman yang berhasrat untuk mengganti nama karakter Ninja Saga, tetaplah bersabar untuk menunggu keberuntungan :D

Goodluck. Wassalam.

7/27/2018

Bandung Lebih Dingin dari Biasa

Beberapa minggu terakhir suhu di Bandung terasa tak seperti biasa. Kata tiris hampir tak pernah terlewat diucap tiap pagi, pun dengan birigidig yang mengiringi ucapan tersebut.

Jika hanya berdiam di rumah, apalagi sambil meneguk teh manis atau kopi hangat, tentu dinginnya tak akan begitu terasa. Coba saja injakkan kaki ke teras rumah, mungkin telapak kakimu akan sedikit tersentak alias ngejat, bahkan mungkin akan baal.

Sialnya lagi saat ini saya memiliki tugas baru, yaitu membonceng Adik ke tempat kerjanya. Belum lama ini Adik saya bertugas sebagai Guru Sekolah Dasar di kawasan Cilengkrang, jadi dari Cileunyi berangkatnya memang harus pagi-pagi sebelum jam 7.

Jumat, 27 Juli 2018. Saya masih harus nganterin adik, dan dingin terasa semakin menjadi-jadi. Meski sudah mengenakan jaket, hawa dingin seakan tak peduli. Bahkan tangan saya seperti ditusuk-tusuk jarum, karena selain menghadapi suhu juga harus melawan angin.

Ketika menemukan tempat agak lengang dan tersinari matahari saya berhenti sejenak. Sekadar menghangatkan tangan yang genggamannya seakan melemah (lebay). Tapi sinar matahari waktu itu ibaratnya masih lembut sehingga tak mampu melawan dingin yang terlalu.

Karena dikejar waktu tak berapa lama saya langsung tancap gas hingga tugas mengantar adik pun beres sesuai rencana. 

Pulangnya suhu masih terasa dingin tapi untung matahari sudah agak meninggi. Sambil melaju saya mencari titik yang enak untuk moyan. Akhirnya ada tempat lengang di pinggir lapangan bola tanpa ada satu pun objek nyata yang menghalangi sinar matahari.

Laju motor saya hentikan, di sana saya mengembus-embuskan nafas dari mulut, menggosok-gosok kedua telapak tangan, dan menggerak-gerakkkan kaki yang hanya mengenakan sendal capit.

Mengalami hal-hal seperti itu saya seperti menjadi Mas Refa Kashiki (vlogger itu lho) yang sedang kedinginan menyusuri jalanan Hiroshima.

Tanpa disadari kelakuan saya itu sepertinya mengundang perhatian orang, setelah tengok kanan-kiri sejumlah orang memandangi saya. Tapi mungkin juga itu hanya kegeeran saya saja. Bodo amat ah :D

Singkat cerita perjalanan pulang saya lanjutkan hingga sampai ke rumah dengan selamat. Sebungkus kopi instant sisa semalam nonton Persib pun tak luput dari seduhan air panas.

Segelas kopi saya bawa ke kamar kerja, menyalakan komputer, dan mulai berpikir. Apakah kedinginan yang tak biasa ini layak menjadi pengisi blog buluk ini?

Apakah hidup saya akan terus bigini? Sepi, sendiri, ditemani kopi?
Mungkin di lain hari akan ada kamu di sisi :D

Wassalam.