7/24/2014

Pengalaman Jadi Saksi Pemilu Legislatif

Ada yang berkesan pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) bulan Juni 2014 lalu. Saya diajak teman sebut saja Amucuy, untuk menjadi saksi Pileg. Katanya jadi saksi perwakilan Calon Legislatif (Caleg) Partai Hijau. Meskipun dengan diiming-imingi imbalan tertentu, tak membuat saya langsung meng-iyakan ajakan tersebut. Istilahnya digantung dulu gitu, biar tidak terkesan gampangan dan murahan.

Seminggu berlalu setelah ajakan itu, Amucuy kembali menghubungi saya via telepon untuk memastikan bahwa saya benar-benar menerima tawarannya. Dengan dalih solidaritas terhadap teman (ditambah bumbu paksaan) dan penuh pertimbangan, saya pun menyetujui ajakan menjadi saksi Pileg.

Tepatnya malam minggu, Amucuy kembali menelpon (ini benar-benar pemaksaan). Ia mengajak saya dan dua saksi lainnya Cikruh, dan Otet yang juga berasal dari kampung yang sama untuk berkunjung ke rumah sang Caleg dalam rangka silaturahmi. Letak rumahnya di kawasan Manglayang, cukup jauh dari kampung kami.

Untuk menuju ke sana kami berempat mengunakan dua sepeda motor. Karena buru-buru kami lupa tidak mengenakan helm, tapi tak apalah lagi pula jalan raya yang akan kami lalui bukan daerah operasi Polantas.

Kelakuan seperti demikian jangan dicontoh ya, karena sejatinya helm adalah pelindung kepala dari benturan, bukan pelindung dari tilang Polantas.

Jalanan malam kami susuri, dan ternyata rumahnya lumayan jauh dari jalan raya. Kami harus melewati jalan menanjak penuh lubang, samping kiri dan kanan masih ditumbuhi rimbunan pohon besar, ditambah sepanjang jalan tak ada lampu penerangan, pikasieunen pokona mah. Tapi alhamdulillah, kami berempat selamat jiwa-raga sampai tujuan.

Pertemuan kami tidak langsung face to face dengan sang Caleg, melainkan dengan seorang utusan. Lagi pula pertemuan tersebut tak berlangsung lama, hanya ramah tamah yang sebenarnya tak begitu penting. Tapi lumayan, pulang dari sana kami diberi uang bensin sebesar 100.000 rupiah, dibagi empat.

Beberapa hari menjelang pelaksanaan Pileg, para saksi dikumpulkan kembali di sebuah ruangan, katakanlah aula yang terletak di samping kediaman sang Caleg. Saya tidak mengira bahwa jumlah saksi dari sang Caleg cukup banyak. Di sana para saksi diberi pengarahan tata cara mengisi form C1, dan penyerahan surat mandat. Tak hanya itu, para saksi pun disuguhi bungkusan berisi roti dan pilus yang ternyata di dalamnya ada uang honor (sebatas uang lelah katanya).

Hari pencoblosan pun tiba, saya ditempatkan di TPS 34. Waktu saya datang ke lokasi sudah ada saksi dari partai lain. Kala itu saksi yang datang lebih dulu ada dua, yakni saksi dari Partai Gurinda dan Partai Pak KadeS. Saksi utusan Partai Pak KadeS itu seorang perempuan, mengenakan baju berwarna biru dongker, setelah ditilik-tilik sepertinya saya familiar dengan sosok perempuan itu, dan bagian ini sepertinya tidak penting juga untuk diceritakan.

Pengalaman Jadi Saksi Pemilihan Legislatif
Suasana pencoblosan di TPS 34 - Dok. Jurnal Rozak

Proses pencoblosan pun dimulai, warga berduyun-duyun datang ke TPS untuk menyumbangkan suaranya. Namun sangat disayangkan banyak pula warga yang tidak dapat mencoblos karena alasan administratif.

Terlepas dari berbagai masalah saat pencoblosan, akhirnya tiba proses penghitungan suara. Penghitungan suara berlangsung sangat lama. Bayangkan saja, panitia harus memeriksa setiap surat suara dari empat kotak yang berbeda. Yakni kotak suara DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPD, dan DPR-RI.

Pengalaman Jadi Saksi Pemilihan Legislatif
Penghitungan surat suara di TPS 34 - Dok. Jurnal Rozak

Saya tak peduli siapa pemenang Pileg di TPS tersebut, yang jelas penghitungan suara berlangsung hingga pukul setengah dua belas malam. Selain itu, saya juga dituntut untuk menyerahkan form C1 yang sudah ditandatangani ketua KPPS, panitia, dan saksi lain ke kediaman sang Caleg hari itu juga.

Setelah form C1 selesai diisi, saya langsung bergegas menelpon Amucuy yang telah melibatkan saya ke dalam permainan ini. Alhamdulillah dengan sedikit paksaan dia bersedia mengantar saya ke rumah sang Caleg. Saya tidak berani ke sana sendirian karena takut jurig begal atau alasan lainnya yang dapat membahayakan.

Singkat cerita saya tiba di kediaman sang Caleg, meskipun sepanjang jalanan sepi, ternyata di sana masih ramai, beberapa saksi yang saya jumpai pada pertemuan di aula tempo hari juga ada di sana. Saya langsung masuk ke dalam dan menyerahkan berkas ke petugas yang sekaligus menandai tugas saya sebagai saksi telah selesai. Nasi kotak pun menjadi bingkisan terakhir yang bisa saya bawa pulang.

Terima kasih Amucuy. Saya tidak akan terlibat permainan seperti ini lagi. Mission Passed.

Terima kasih telah menanggapi tulisan ini.
Semoga tanggapanmu dapat menjadi perantara untuk menjalin tali silaturahmi.