Kakek Lagi Pengen

Pernahkah kamu diajak ngobrol sama orang yang belum dikenal? Heran dan kaget kan? Waktu itu saya lagi nyari kosan Ratih (teman kuliah), niatnya mau nagih video liputan yang mau diedit. Ketika itu saya masih berstatus sebagai Editor di Bandung OkeTV.

Karena tidak tau posisi kosannya, saya numpang dulu parkir motor di pinggir jalan dekat tukang Ayam Serundeng Gardes (Goreng Ayam Racikan Desa Serundeng), digoreng dengan minyak khas berwarna hitam, rasanya gurih dan ada manis-manisnya gitu. Silakan mampir ke TKP di jalan Desa Cipadung.

Setelah memarkirkan motor, selanjutnya saya merogoh-rogoh saku celana, ada yang agak gatal. Bukan. Niatnya mau ngambil ponsel untuk menelpon Ratih.

Baru juga ngeluarin ponsel, tiba-tiba dari belakang ada yang nepuk pundak. Sontak saya noleh, takutnya ada orang yang mau hipnotis. Ternyata yang nepuk adalah kakek-kakek, badannya bongkok, tekstur kulitnya keriput, kalau dimakan pun keliatannya sudah alot.

Kakek Lagi Pengen, udud, kakek udud, udud dulu, rokok
Kakek udud dulu - Dok. lolbyte.com
Dia nanya-nanya seperti lagi interview,

"Nak, lagi apa?"
"Nak, masih kuliah?"
"Semester berapa?"
"Jurusan apa?"
"Mau ga jadi pacar aku?" (yang ini bohong)

Itulah pertanyaan singkat si kakek yang saya jawab dengan singkat pula. Sampai bagian ini kecurigaan belum muncul. Selanjutnya si kakek minta bantuan;

"Nak, sebenarnya kakek mau minta tolong."
"Tolong apa?" tanya saya.
"Kakek pengen ngopi sama rokok!"

Busyet, ini aki-aki vulgar amat minta kopi sama rokok. Saya kasih saja uang dua ribu rupiah, dengan asumsi beli sebungkus kopi instant sachet-an sama rokok Djarum Coklat sebatang. Meskipun ikhlas dengan pemberian itu, namun tak lupa juga saya noleh kiri-kanan, siapa tau lagi masuk acara MINTA TOLONG! di RCTI. Siapa tau kaaan . . . hahaha

Acara Minta Tolong di RCTI
Acara minta tolong, tolongin bang.. saya belum maen warnet.. - Dok. Internet

Masalahnya aneh, di lingkungan Sunda, jarang ada kakek-kakek yang fasih berbahasa Indonesia. Lah ini bahasa Indonesianya tertata rapih. Itu menambah kecurigaan saya terkait skenario yang mungkin sedang dilakukan sang kakek.

Di luar kemungkinan skenario acara televisi yang saya harapkan itu, timbul pertanyaan, apakah si kakek ini benar-benar pengemis? Kok pengemis tampilannya rapih? Pake kacamata pula, bahasa Indonesianya mantap lagi. Entahlah, saya juga bingung.

Setelah si kakek itu pergi, tak ada tanda-tanda kedatangan crew acara Minta Tolong! yang tentu akan bertanya;

"Mas kenal dengan kakek itu?"
"Kenapa Mas menolongnya?"

()&*^$%&#$&#^$&&% sudahlah lupakan semua skenario khayalan itu. Akhirnya saya kembali ke tujuan semula, menagih video liputan. Wassalam.

Posting Komentar

2 Komentar

Terima kasih telah menanggapi tulisan ini.
Semoga tanggapanmu dapat menjadi perantara untuk menjalin tali silaturahmi.
InsyaAllah saya akan balik berkunjung ke blog kamu (jika ada).