9/09/2018

Makna Kompetisi dalam Hidup

"Masyarakat Indonesia kurang suka dengan kompetisi." Begitu kata Gheeto TW dalam bukunya yang berjudul Gol!. Parameter "kurang suka" tersebut dilihat dari sikap para suporter sepakbola yang kerap bertindak anarkis ketika tim kesayangannya menelan kekalahan. Tak hanya suporter, pemain di lapangan pun cenderung mudah terpancing emosi bahkan tak jarang terlibat baku pukul baik dengan pemain lawan maupun dengan wasit.

Mungkin karena harga diri mereka yang terlalu tinggi sehingga kekalahan dianggap hina. Padahal kekalahan adalah sarana belajar untuk menjadi lebih baik di lain waktu. Itulah sebabnya suasana kompetisi sepakbola di negara kita masih kurang kondusif.

Maka, mau tak mau kita harus membandingkan dengan kompetisi di luar negeri. Sekalipun masih ada kekerasan, pelecehan, kecurangan atau anarki, suasana kompetisi di luar negeri macam di Inggris, Spanyol, Jerman, Jepang, bahkan negara tetangga kita Thailand jauh lebih baik. Mereka tetap respek, meskipun kalah; memacu diri untuk terus maju dan berkembang. Suasana kompetisi diatur sedemikian rupa sehingga sangat ketat dan seru. Karenanya, diperlukan mental dan fisik yang prima untuk dapat bermain di kompetisi ketat seperti itu. Dan, justru ketatnya kompetisi itulah yang membuat kemajuan pesat.

Brian McBridge (mantan pemain timnas AS) mengatakan, "Saya pikir kompetisi sangat penting. Kompetisi menghasilkan banyak hal yang baik dalam diri seseorang." Jadi, tak ada yang salah dengan kompetisi, ia justru membantu seseorang menemukan potensi terbesar dalam dirinya.

Makna Kompetisi dalam Hidup, catur, chess, grand master, competition

Secara bahasa, kompetisi atau competition berasal dari dua kata latin: com (bersama-sama) dan petere (mencari, melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh). Jadi, semangat kompetisi bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri, melainkan di dalamnya selalu ada semangat kebersamaan.

Selain kompetisi, ada pula kata persaingan. Lantas, apa perbedaan antara keduanya? Dalam bahasa Indonesia, definisi keduanya mirip. Perbedaannya terletak pada fokusnya. Persaingan cenderung terfokus pada "mengalahkan orang lain", sedangkan kompetisi lebih terfokus pada "mengalahkan diri sendiri". Kita bertanding bukan untuk mengalahkan lawan, melainkan untuk mengerahkan kemampuan terbaik dari diri kita.

Biasanya kompetisi sepakbola dibagi menjadi dua golongan; kompetisi panjang dan pendek. Mana yang lebih sulit? Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.

Dalam kompetisi pendek, seorang pemain harus gigih berjuang sehingga dalam kurun waktu kira-kira satu bulan mereka harus menjaga fisik dan konsentrasi, mulai dari babak penyisihan hingga akhir. Dengan jeda per pertandingan yang biasanya hanya dua atau tiga hari, bisa dibayangkan betapa lelahnya sebuah tim yang berhasil tembus ke babak final. Terkadang final malah menjadi anti-klimaks karena para pemain sudah sangat lelah.

Akan tetapi, ada yang cukup mengherankan, seorang pemain yang performanya moncer di kompetisi pendek macam Piala Dunia, Euro, Piala Asia, atau Olimpiade belum tentu bisa tampil apik di kompetisi panjang atau reguler bertajuk liga yang berlangsung selama satu musim (sekitar satu tahun). Ternyata berjuang dalam waktu yang lama lebih sulit dari pada berjuang dalam waktu yang singkat. Dalam kompetisi reguler, seorang pemain harus menjaga kebugarannya sehingga bisa tampil dengan performa terbaik dalam satu musim penuh.

Begitu pula dengan hidup ini yang ibarat kompetisi panjang, sangat panjang. Bukan hanya kebugaran fisik yang harus terjaga, melainkan juga kebugaran hati serta pikiran sepanjang hidup, belum lagi kita harus berhati-hati dengan yang namanya pelanggaran, kebobolan, blunder, dan jangan sampai bunuh diri. Bahkan tak seperti kompetisi sepakbola yang ada akhirnya, hidup ini tak ada yang mengetahui kapan dan dimana ujungnya, sebuah misteri bagi kita tapi tidak bagi sang pencipta.

Semoga ada hikmahnya. Wassalam :)

Referensi: Buku Gol! karya Gheeto TW (Terbitan BIP, 2013)

Terima kasih telah menanggapi tulisan ini.
Semoga tanggapanmu dapat menjadi perantara untuk menjalin tali silaturahmi.