11/08/2015

Belum Selesai

“BELUM SELESAI ~ Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak”, buku nonfiksi karya Kris Biantoro ini saya dapatkan secara gratis dari Kick Andy (2012) yang waktu itu kebetulan bintang tamunya Pak Kris. Buku dengan tebal 170 halaman ini menceritakan perjuangannya menjalani berbagai pengobatan untuk menyembuhkan penyakit gagal ginjal yang dideritanya.

Sejak jatuh ke tangan saya, buku ini jarang dibaca, lebih sering digunakan sebagai tatakan mouse. Karenanya, buku ini selalu tergeletak begitu saja. Secara tak langsung, di antara buku lain yang tersusun rapih (jarang dibaca) di rak, buku inilah yang sering terlihat fisiknya. Lambat laun hasrat mengembalikan fungsi buku ini kepada fitrahnya pun muncul. Saya mulai membuka-buka isi buku (tidak membacanya). Lama kelamaan saya merasa tak ada gunanya hanya dibuka-buka, saya memutuskan untuk membacanya.

BELUM SELESAI ~ Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak

Kris Biantoro, mantan veteran pembela Trikora yang terlibat aktif membantu para pejuang Indonesia meski bukan sebagai militer. Pernah bertugas di kedutaan Indonesia untuk Australia, bahkan dikenal pula sebagai penyanyi, pemain film, dan MC kondang tanah air.

Kisah bermula di penghujung tahun 60-an, sejak ia kembali ke tanah air selepas menetap di Australia bersama istri, dan seorang anak. Berbekal mobil Holden tua, ia mencoba menata kehidupan di Jakarta. Mobil tersebut ia jual seharga Rp 1.000.000, hasilnya digunakan untuk membeli rumah di Tebet seharga Rp 375.000 dan Vespa tua seharga Rp 166.000.

Pesatnya pembangunan Jakarta tak menyentuh rumahnya. Sebagai penerangan ia mengunakan lampu teplok berbahan bakar minyak tanah. Bila turun hujan, sekitar rumahnya dipastikan becek. Akhirnya, terbongkarlah mengapa tak ada modernisasi berupa jalan aspal maupun listrik bagi wilayah rumahnya. Ternyata, rumahnya termasuk kawasan jalur hijau.

Di luar itu, kehidupan Kris terus membaik. Berbagai job ia dapatkan, baik sebagai pengisi acara TV maupun sebagai MC. Mendapat pemasukan dari deposito uang hasil jual mobil, ditambah penghasilan istrinya yang bekerja di Kedutaan Vietnam Selatan. Dengan penghasilan yang lumayan, ia merasakan nikmatnya hidup. Namun, itulah awal malapetaka. Selera makan akan menu favoritnya (nasi padang terutama jeroannya) tak terbendung, menyebabkan dirinya berkenalan dengan kerusakan ginjal.

Tahun 1972. Saat istrinya menengok orangtuanya di Vietnam bersama anak pertamanya. Kris ditinggal sendirian di rumah. Jam dua malam, pinggang Kris melilit, lalu muntah-muntah. Ia terkapar, bahkan membentur-benturkan kepala ke tembok karena sakit yang tidak tertahankan. Ia berteriak mengerang-erang. Setelah lama, barulah datang tetangga yang mendengarnya. Karena Jakarta tahun 70-an belum ada klinik yang tersebar dimana-mana, sambil menahan sakit ia harus menunggu hingga pagi. Esoknya ia mendapatkan pertolongan dari dokter perusahaan yang datang. Dari sinilah diketahui bahwa ia menderita batu ginjal.

Berbagai pengobatan ia jalani, mulai dari pengobatan medis, minum jamu, minyak bulus, pengobatan alternatif, hingga ke paranormal. Sempat pula terkatung-katung di Tiongkok untuk transplantasi ginjal yang akhirnya batal. Selama 10 tahun ia telah dirawat oleh para ahli kesehatan. Tapi enam bulan terakhir pada 2009, ia tiga kali keluar-masuk RS. Kenyataan mengerikan, karena pada kali yang terakhir ia dinyatakan pra-koma. Itu sangat membuatnya terpukul.

Ia pun mencoba pengobatan holistik yang menganjurkan semua pasien kembali ke alam. Makanan pun serba organik. Hasil lab holistik menyatakan kondisi tubuh Kris baik, layaknya pemain bola handal, atau petinju yang hebat. Namun berbanding terbalik dengan kenyataan, fisiknya semakin lemah, nafas mulai terganggu, kaki membesar seperti kaki gajah. Kris terkejut ketika hasil lab dokter lain menyatakan kondisinya buruk. Dokter holistik pun sama terkejutnya.

Kala itu, Kris seperti orang jompo. Jalan tertatih, kemana-mana bawa oksigen dan pakai tongkat. Dalam kondisi seperti itu, ia masih setia bertugas sebagai artis. Meskipun naik panggung harus dipapah, sebagai profesional, ia menjalaninya dengan suka cita.

Hingga terjadilah peristiwa itu, saat hari terakhir ke RS Holistik. Ketika ijin ke toilet, Kris terpeleset. Kepala membentur pintu. Suaranya gedubrak kencang. Beruntung istrinya curiga, karena Kris lama tidak muncul. Istrinya lalu mencari Kris. Begitu membuka pintu, istrinya melihat Kris sudah semaput. Segera istrinya meminta tolong. Kris pun diangkat oleh empat orang.

Saat siuman, Kris nyanyi “Maju Tak Gentar”. Semua yang mendengar bingung. Ia hanya berusaha menyemangati diri sendiri, agar tidak putus harapan. Dokter meminta agar Kris masuk perawatan hari itu juga. Tapi, saat itu ia merasa bukan hari yang tepat untuk masuk.

Besok paginya, Kris sudah kembali disana, langsung cari suster untuk melayani, tapi tidak ada. Terpaksa ia menginap tanpa diterapi apapun. Besoknya, saat mau diterapi, ada petugas yang minta untuk ke tempat senam. Kris menolak. Kejadian serupa berulang ke hari berikutnya. Hingga ada perkataan dari seorang petugas yang sangat sarkastik. “Kemaren nggak bisa, sekarang nggak bisa, besok apalagi?!”.

Saat pulang esoknya, istri Kris melihat ada biaya yang harus dibayar. Disana ada istilah “nakasima”, sebetulnya tidak masalah bagi Kris kalau memang ia mendapatkan layanannya. Meski ia tidak datang ke terapi atau ikut olahraga (nakashima), karena memang lemah, tetap diharuskan membayar. Ada lagi fee kunjungan dokter, padahal Kris hanya tidur dan tidak bertemu dokternya. Kemungkinan manajemennya tidak beres. Dari semua itulah, akhirnya Kris bicara kepada dirinya sendiri... Belum selesai!

Kris kembali ke Jakarta tanpa tau harus berbuat apa, sampai akhirnya ia dirawat di RS dekat rumahnya. Setelah berbagai usaha ia jalani, disanalah akhirnya Kris tergeletak, 5 jam, 3x seminggu, nyaris patah semangat bahkan menangis seperti anak kecil. Tapi pendekar tidak boleh menyerah. Seraya tetap berharap menjadi orang yang percaya pada kerahiman Tuhan.

Kisah yang dipaparkan Kris Biantoro dalam buku ini tak jauh beda dengan pengakuannya di acara Kick Andy. Namun, apa yang membuat buku ini berkesan? Di balik kisah Kris Biantoro serta perjuangan menghadapi ginjal soaknya yang dipaparkan secara kocak, terselip banyak pelajaran, diantaranya mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup harus pantang menyerah. Bukan cuma perkara penyakit. Melainkan segala tantangan hidup. Sikap patriotik Kris Biantoro menjadi tamparan bagi saya sebagai generasi muda, untuk tetap mencintai tanah air, menjaga tanggung jawab di tengah ujian hidup yang kadang bikin putus asa.

Buku ini dilengkapi fakta, pesan, dan saran, serta istilah ilmiah yang berkaitan dengan ginjal di akhir setiap bab yang tentunya membuat buku ini semakin kaya akan informasi, sehingga dapat menambah wawasan pembacanya. Kini Kris Biantoro telah tiada, namun ia masih memberi pelajaran melalui kisah hidupnya yang tertuang dalam karya-karyanya. Semoga akan muncul orang-orang bermental Kris Biantoro selanjutnya.

10 comments:

  1. Buku ini sangat inspiratif, saya bahkan sampai berkaca-kaca mebaca ulasan dari buku tersebut.
    Terima kasih sudah berpartisipasi mengikuti GA-nya ^_^

    ReplyDelete
  2. saya malah baru tahu tentang kisah hidup pak kris ini. tfs ya mas.

    ReplyDelete
  3. Dijadikan tatakan mouse dulu, lama kelamaan mulai dibaca :D Padahal judulnya menarik tuh buat dibaca "Belum Selesai." Ya ampun baru siuman langsung nyanyi maju tak gentar. Kocak gitu kayaknya? Iya, setuju tuh hidup harus pantang menyerah. Kalau menyerah ya kelar hidupnya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ga pernah dijadiin tatakan mouse, mungkin buku ini selamanya ga akan saya baca teh :D

      Hahaha... Kalau saat itu Pak Kris menyerah judul bukunya jadi "Selesai"... hehe

      Delete