Lima Besar Pencarian di Google Earth

Google Earth? Kamu yang membaca tulisan ini tentu pernah membukanya atau setidaknya tahu Google Earth itu benda macam apa. Bentuknya bulat, ditusuk bisa, dibungkus plastik juga boleh, diguyur bumbu kacang tambah nikmat. K-E-S-U-R-U-P-A-N-C-I-L-O-K.

Sudah bukan rahasia bahwa Google Earth turut berperan dalam berbagai hal, salah satunya adalah membantu mencari jalan ketika kita tersesat di Bumi. Google Earth adalah layanan pemetaan yang memberikan citra satelit, sehingga memungkinkan penggunanya melihat sudut-sudut Bumi secara nyata hasil foto udara atau citra satelit (sejenis atlas tanpa batas).

Lima Besar Pencarian di Google Earth, google maps

Selain Google Earth ada juga Google Maps. Lalu apa perbedaan dari keduanya? Menurut saya, secara hakikat keduanya sama saja menampilkan peta, bedanya kalau Earth menyajikan peta berdasarkan citra satelit sehingga mirip dengan kondisi nyata ketika citra tersebut diambil, Earth juga menyajikan citra Bulan, Mars, dan jagat raya.

Sedangkan Maps menyajikan peta bumi berupa gambar grafis. Kalau untuk mengetahui jalur lalu-lintas dan dalam keadaan mendesak, Maps memang lebih bisa diandalkan. Perbedaan lainnya yakni jika untuk mengakses Earth kita harus mengunduh programnya terlebih dahulu, sedangkan Maps bisa diakses langsung dari Google.

Banyak faktor yang membuat seseorang mengakses Google Earth, entah itu disengaja untuk mencari informasi mengenai suatu tempat atau bisa juga hanya karena iseng saja. Berdasarkan survey yang dilakukan secara acak oleh tim Litbang Kompos, dari sekian banyak tempat di Google Earth, sedikitnya ada lima tempat yang paling banyak dicari atau dikunjungi.

1. Rumah Sendiri

Entah apa yang menjadi motivasi orang-orang untuk mencari rumah sendiri ketika membuka Google Earth. Apakah mereka tidak tahu jalan pulang? Entahlah, coba tanya pada rumpun bambu yang berbisik merdu, mengusik hati yang pilu.

2. Tempat yang Akan (Angan?) Dikunjungi

Pencarian yang satu ini terhitung wajar, karena sebelum pergi ke suatu tempat kita harus mengetahui situasi-kondisi tempat yang akan kita kunjungi. Salah satunya dengan survey melalui Google Earth.

Atau, kelakuan ini muncul ketika kita merasakan adanya getaran kemustahilan mengunjungi suatu tempat. Karenanya, Google Earth dijadikan sebagai sarana pelampias dahaga untuk mengunjungi destinasi tersebut meski hanya melalui angan yang fana.

3. Tempat yang Pernah Dikunjungi

Poin ketiga adalah kebalikan dari poin kedua. Biasanya hal ini dilakukan ketika seseorang baru saja mengunjungi suatu tempat. Setelah mencari via Google Earth, dan menemukan tempat yang baru dikunjungi, ia akan bergumam "Oh ternyata tadi saya ada di tempat ini ya...".

Selain itu, kelakuan ini juga muncul ketika kumpul-kumpul bersama teman (di kosan misalnya), "Guys.. guys! Gue pernah ke tempat ini lho..." (Sambil nunjuk lokasi Pulau Nusa Kambangan, yang mungkin ia kira Pantai Pangandaran).

4. Perbatasan Negara

Bisa jadi karena rasa ingin tahu yang tinggi, bisa juga karena sentimen antar negeri. Mengintip batas negara kita dengan negara tetangga juga sering dilakukan para Google Earth Mania (supporter klub bola mana tuh?). Pencarian macam ini sebenarnya juga sering saya lakukan. Niatnya untuk mengontrol patok batas negara, takutnya ada yang geser.

Seperti diketahui Indonesia adalah negara yang cukup luas, terdiri dari ribuan pulau (mungkin), dengan kurang lebih setengahnya berupa perairan. Maka dari itu perbatasan negara tidak begitu jelas dan rawan, sehingga berpotensi mengundang sengketa.

Contoh yang telah ada; kasus blok Ambalat, Sipadan-Ligitan, hingga Natuna dan Laut Cina Selatan. Belum lagi dengan nelayan kita yang kebablasan mancing sampai Australia (katanya).

5. Tempat Asing, Populer, dan Wilayah Sengketa

Pencarian yang terakhir adalah mengintip tempat-tempat asing dan populer. Kutub Utara dan Kutub Selatan sudah pasti. Selain kutub, tempat-tempat seperti Samudra Pasifik yang membentang luas dengan negara-negaranya yang berserakkan. Area51 di USA yang sering dikait-kaitkan dengan "Proyek" NASA.

Pulau Christmas yang ternyata lebih dekat ke Jawa Barat ketimbang ke Australia, Pulau Cocos milik Australia yang konon penduduknya berbahasa melayu, beragama muslim, dan nonton saluran TV Indonesia  juga memiliki daya tarik tersendiri.

Tempat-tempat populer macam Patung Merlion, Stadion Marina Bay, Twins Tower, Candi Borobudur, Tembok China, Masjidil Haram, dan lain sebagainya.

Pun dengan negara-negara yang sering dijadikan bahan jokes seperti Zimbabwe, Kongo, Uganda, dan rekan-rekannya, juga segitiga bermuda pun masuk dalam draft pencarian.

Selain tempat yang disebutkan di atas, wilayah sengketa pun memiliki daya magnet yang cukup kuat. Yang paling populer tentu wilayah Palestina-Israel. Bahkan akhir-akhir ini jagat internet dihebohkan dengan ketiadaan Palestina dari Google Earth.

Demikianlah lima besar pencarian di Google Earth versi saya. Terlepas dari lima poin yang keabsahannya masih diragukan, bagi sebagian besar orang kehadiran Google Earth membuat dunia terasa lebih kecil, tapi bagi orang-orang yang berpikir, Google Earth justru menyadarkan bahwa betapa kecilnya kita. Wassalam.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Lebih sering menggunakan Google Maps daripada Earth. Mungkin karena penggunaannya di perjalanan aja ya. Maps lebih praktis, IMHO :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo bicara praktis ya menang di maps, tapi kalo bicara real picture ya menang di earth... hehe

      Hapus

Terima kasih telah menanggapi tulisan ini.
Semoga tanggapanmu dapat menjadi perantara untuk menjalin tali silaturahmi.
InsyaAllah saya akan balik berkunjung ke blog kamu (jika ada).