3/19/2016

Jami II

Tak seperti hari-hari biasa, kemarin aku pergi ke Bank pukul 14:00. Alasannya karena hari itu adalah hari Jumat. Tak butuh waktu lama untuk aku menjangkau Bank, karena jarak kantorku ke bank hanya sekira tiga ratus meter.

Setibanya di pintu Bank, security yang tampaknya sudah tak asing denganku langsung mengarahkanku ke Jami, maksudku teller. Kebetulan juga sedang tidak ada antrean. Bahkan aku bisa memilih mau dilayani teller yang mana. Sudah barang tentu aku memilih Jami.

Ya, ini masih tentang Jami, teller Bank bersuara cempreng yang tempo hari kuceritakan.

Baru tiga langkah kakiku dari pintu, Jami sudah tersenyum padaku. Jumat ini Jami mengenakan pakaian serba merah marun, tak kalah cantik dengan busananya Jumat minggu lalu yang serba hijau.

"Selamat siang Mas Husin..." sapa Jami. Tampaknya namaku sudah tersimpan di kepalanya yang selalu berbalut jilbab itu.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

"Bisa dibantu sama Jami..."

Slip yang sudah kuisi di kantor serta sejumlah uang pun aku serahkan.

"Dibantu setorannya ya... Tujuh juta dua ratus dua puluh ribu rupiah... Jami hitung ya uangnya..."

Aku hanya mengangguk. Jami pun melancarkan aksinya menghitung uang dengan jari-jari tangannya secara cepat. Waw... Aku terpana dengan keahliannya.

"Masih ada uang?" tiba-tiba Jami menengok ke arahku, dan itu sungguh membuatku salah tingkah.
"Hmmm... Ada. Kenapa?"
"Ini kurang seratus ribu, Mas"
"Oh gitu ya..." Aku pun merogoh-rogoh saku celana, karena seingatku ada uang lebih dari seratus ribu di saku celana.

"Ini..." aku menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan pada Jami dengan harapan tanganku atau tangannya sedikit offside sehingga tangan kami bersentuhan secara tak sengaja. Hmmm... Kotornya pikiranku.

"Dihitung ulang ya..." Jami menjalankan aksinya lagi dengan penuh hati-hati.

"Coba dihitung mesin ya..." kali ini Jami menggunakan bantuan mesin hitung. Dan apa yang terjadi?

"Lho... kok hasilnya beda-beda ya, Mas. Coba Jami hitung ulang lagi ya..." Jami tampak kebingungan dan beberapa kali mengecek ulang. Setelah yakin dengan hasilnya, ia pun menghentikan aksi hitung-menghitungnya.

"Ternyata tadi setorannya benar Mas, ga jadi deh nambah uangnya. Maaf yaaa..." Jami mengembalikan uang susulan yang tadi aku berikan.

"Iya gak apa-apa..."

"Setorannya sudah masuk, ada yang bisa Jami bantu lagi?"

"Ini mau nukar uang..." aku pun menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribu yang tadi. Sebenarnya ini hanya modus supaya bisa berlama-lama dengan Jami, maksudku agar transaksi berjalan afdol (?)

"Pecahan berapa?" tanya Jami.
"Lima puluhan..." jawabku.
"Lima puluh? Mas, ini kan sudah lima puluhan?" tanya Jami lagi.
"Lima puluh rupiah..." jawabku sembari menahan tawa. Sedangkan Jami malah terlihat bingung.
"Sepuluh ribuan saja..." lanjutku.

"Ih Mas Husin becandain teller, nanti Jami bilangin lho ke si Bos..." ancam Jami, tapi aku yakin ancamannya hanyalah candaan.

Jami pun mengambil sepuluh lembar uang pecahan sepuluh ribu dan menyerahkannya padaku.

"Ada lagi yang bisa Jami bantu?"
"Boleh minta ini ya?" jawabku sambil menunjuk semangkuk permen yang memang tersedia di setiap meja teller.
"Iya... Silakan, tapi jangan lupa bayar di depan ya..." ucap Jami sambil menahan tawa. Kali ini aku juga yakin bahwa ucapannya hanya candaan.
"Hehehe..." aku hanya tertawa kecil sambil mengambil dua buah permen di mangkok kecil itu.

"Ada lagi yang bisa Jami bantu?"
"Hmmmm... Ada ga ya... Nitip salam boleh?"
"Boleh... Mau kirim salam ke siapa?"
"Ke teller di sini..."
"Yang mana Mas?"
"Yang pake kerudung..."

Jami menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan, sedangkan aku langsung balik badan dan pergi, mengingat di Bank ini hanya Jami lah satu-satunya teller yang mengenakan kerudung.

Kira-kira Jami mengerti maksudku tidak ya???

0 komentar:

Post a Comment