5/01/2016

Antara Kau dan Aku ~ 3

la mengharapkan pagi ini pemuda itu yang datang menjemputnya. Tetapi justru Andrei yang datang perlente memencet bel. Tak tahu malu, Andrei mengaku sebagai pacarnya. Dan gadis itu dengan terpaksa tersenyum masam menanggapi godaan ayah dan ibunya, "Akhirnya, anak gadis kami pergi dengan teman lelakinya. Nak Andrei jangan sampai kau membuatnya menangis, loh!" Itu kata ayah gadis itu sambil tersenyum di balik pagar. Dan pemuda playboy ini tersenyum begitu meyakinkan, menggandeng Dahlia mesra.

Semua teman kantor ber-suit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi. Susi pun sempat berbisik pelan, "Gila lu, katanya pemalu. Temyata yang kakap begini berhasil juga lu gaet!" Mukanya memerah. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, gadis itu merasa di dahinya seakan-akan tertempel baliho besar yang menunjukkan kalau mereka berdua benar-benar pasangan hebat. "Bodoh, seharusnya kaulah yang bersamaku sekarang," umpatnya dalam hati, mencari sosok pemuda itu dalam keramaian. Dan si bodoh itu temyata berdiri tak acuhnya di pojok ruangan. Menyendok koktail. Seolah tak peduli kehebohan yang sedang terjadi.

Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman ber-kumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka, lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai saat mereka berkumpul, si bodoh ini justru semakin tak peduli.

"Ah, ini dia si Azhar. Kamu udah lihat Dahlia, kan? Gila, serasi bukan!"

"Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!"

Yang lain tertawa ramai sekali.

"Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!" seru seseorang lagi. Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.

Gadis itu kusut sekali dengan senyum tanggungnya. Berkali-kali ia melirik pemuda itu. "Ya Tuhan, seharusnya yang kau lakukan saat ini memegang kerah Andrei dan menonjoknya kuat-kuat, bukan justru sebaliknya, ikut-ikutan tertawa. Dasar Bodoh!"

Gadis itu tersenyum getir.

***

Pagi ini seharusnya ia-lah yang sambil bersiul datang memencet bel rumah gadis itu. Tersenyum takzim menyapa calon mertua. Tetapi lihatlah, ia justru kacau berdandan seadanya. Memakai kemeja kusut, dasi berdebu. Berjalan gontai menghidupkan kendaraan. Berpikir gadis itu pasti sedang tertawa bahagia bersama playboy kelas kakap itu.

Semua teman kantor ber-suit saat melihat mereka tiba di ruang resepsi. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, mereka benar-benar kelihatan seperti pasangan hebat. Cadis itu terlihat tersenyum ke mana-mana, mengumbar kebahagiannya. "Begitu mudahkah ia terpikat dengan playboy itu?" Dengan masam pemuda itu menyendok koktail di pojok ruangan. Jantungnya pedih sekali.

Ketika tiba saatnya berfoto, semua teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan giliran mereka, lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai ketika mereka berkumpul, gadis itu justru terlihat tersenyum semakin bahagia. "Ia benar-benar menikmatinya," bisiknya lirih.

"Ah, ini dia si Azhar. Kamu udah lihat Dahlia, kan? Gila, serasi bukan!"

"Seharusnya kau menirunya Zhar. Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!"

Yang lain tertawa ramai sekali.

"Andrei, kalau lu sedikit saja membuat Dahlia menangis, kutikam kau!" seru seseorang lagi. Andrei sambil merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis, membuatnya murung saja takkan ia lakukan.

Gadis itu tersenyum, semakin mengembang. "Bah! Ia sedikit pun sama sekali tidak menatapku," bisik pemuda itu dalam hening. Berkali-kali melirik mencoba memberikan kode. "Lihatlah aku. Dahlia. Please. Bukankah aku lebih baik darinya? Sesungguhnya apa yang kau cari?" Terluka pemuda itu meratap dalam diam. Dan ketika mereka berfoto bersama. Playboy itu merengkuh lebih erat lagi bahu Dahlia.

Dan ketika semua teman-teman lantai sebelas turun, mereka berdua masih berdiri di sana, berfoto berempat bersama kedua mempelai. Gadis itu sekali lagi tersenyum amat bahagia. "Senyum mempelai wanita saja kalah," umpat pemuda itu dalam hati. Maka semenjak detik itu, si pemuda dengan jantung tercabik-cabik mengubur dalam-dalam segenap cintanya.

"Cinta memang tak pernah adil," keluhnya terluka.

***

Extended:

"Hai!" Gadis itu tersenyum.

"Hai!" Pemuda itu juga tersenyum.

Pintu lift menutup pelan. Keheningan kemudian menyelimuti. Tak pemah ada yang bisa mendengar dengung lift bergerak, tetapi bagi mereka berdua yang sedang takzimnya, bekas telapak tangan di kaca lift pun terlihat amat jelas. Si gadis sembunyi-sembunyi melirik. Si pemuda batuk-batuk kecil berusaha mengendalikan perasaannya. Mereka bertatapan sejenak. Gelagapan bersama.

"Eh, mau makan di mana?" Si pemuda pura-pura merapikan dasinya. Mukanya merah kebas. la tahu persis gadis itu seialu makan di basement gedung itu. Gadis itu juga tahu persis pemuda itu lebih suka makan di lantai satu.

"Lanti satu! Kamu, mau makan di mana, Zhar?"

"Basement'" Ya ampun, ia sungguh tak tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

Basa-basi saling melambaikan tangan, mereka berpisah saat pintu lift terbuka. Berharap seharusnya mereka saat ini justru sedang bergandengan menuju kafe di menara atas.

Kafe para pencinta.

***


— Source —

Dikutip dari kumpulan cerpen karya Tere Liye berjudul Berjuta Rasanya.

0 komentar:

Post a Comment