3/21/2018

Koswara dan Kesabaran Tiada Batas

Hujan gé aya raat na
Sabar gé aya wates na

Begitulah ungkapan yang beredar di kalangan Urang Sunda yang memiliki arti hujan pun ada redanya, sabar pun ada batasnya.

Tapi ungkapan tersebut agaknya tak berlaku bagi Kang Koswara, mantan tukang ojeg yang kini menjadi pemilik warung nasi di bilangan Kabupaten Sukabumi. Selain memiliki warung nasi, sosok yang akrab disapa Kang Kos ini pun mempunyai usaha Cilok dan Limun yang dijajakan oleh dua pemuda nganggur yang tinggal di dekat rumahnya.

Meskipun keuntungan yang ia dapat tak begitu besar, namun ia tetap mempertahankan usahanya itu untuk membiayai istri dan kedua anaknya. Sering ia dimarahi sang istri karena penghasilan dari warung nasi hanya sedikit. Apalagi kalau usaha Cilok dan Limun ikut sepi, istrinya bisa sampai ngamuk-ngamuk.

Selain pemarah istrinya juga pencemburu, baik terhadap wanita yang mendekati Koswara juga terhadap kekayaan tetangga, istilahna mah "panasan". Kedua sifat istrinya itulah yang sering membuat Koswara jengkel, namun tetap ia hadapi dengan kepala dingin dan lapang dada.

Sebelum bergelut di dunia kuliner, dulunya Koswara adalah tukang ojeg pangkalan dengan menggunakan motor sewaan. Penghasilannya kala itu jelas tak mencukupi kebutuhan keluarga, karena penghasilannya setiap hari harus dipotong biaya sewa motor.

Koswara dikenal sebagai seorang yang ramah dan cenderung kompromis dalam menyikapi suatu masalah. Tetapi ada satu hal yang membuatnya bisa bersikap tegas setegas-tegasnya, yakni menolak permintaan istrinya yang ngotot ingin menjadi TKI di luar negeri.

Koswara dan Kesabaran Tiada Batas, kesabaran, patient

Koswara memang memiliki pemikiran yang terbalik dari mayoritas kawan-kawannya yang "tega" memberangkatkan istri mereka ke luar negeri, sedangkan mereka bertugas mengurus anak dan rumah sembari menunggu transferan tiap bulan. Ia berprinsip bahwa tulang punggung keluarga adalah pria.

Karena sikapnya itu membuat cemooh akrab dengan diri Koswara, namun ia tetap bergeming dan seakan memiliki kesabaran tiada batas dalam menjalani hidup yang ia anggap benar.

Kesabarannya itu sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Mulai dari mampu memperbesar kios warung nasi miliknya, hingga mampu membayar orang untuk bantu-bantu di rumah. Selain juga kulkas dan barang-barang elektronik "seperti tetangga" tuntutan istrinya satu per satu mulai terpenuhi. Hanya saja hingga kini ia belum memiliki sepeda motor, entah tidak cukup uang atau memang merasa tidak terlalu butuh.

Potret kehidupan yang sederhana, tidak banyak harta tapi berguna bagi orang di sekitarnya.

Sungguh sosok yang bisa menjadi opsi panutan di tengah banyaknya sosok berpengaruh di dunia ini. Hanya saja sosok Kang Koswara hanyalah tokoh fiktif dalam drama komedi Dunia Terbalik yang saban malam menjadi tontonan wajib Emak saya.

Adakah sosok Koswara di dunia nyata?

Terima kasih telah menanggapi tulisan ini.
Semoga tanggapanmu dapat menjadi perantara untuk menjalin tali silaturahmi.